
"Berikan aku waktu," ucap Isvara.
Bahu tegap Brandon langsung merosot saat mendengarnya. Pria itu berwajah murung, namun ia berusaha untuk menutupinya.
Isvara menelisik ke sekeliling, tempat ini terlalu banyak orang, tidak mungkin dia memberitahukan hal yang penting di sini dan setidaknya dia harus berfikir masak-masak sebelum memutuskan.
"Oke, gue bakal tunggu jawaban lo," ucap Brandon, tampak berusaha santai.
"Gue bakal tunggu lo nanti malam, di tempat yang sama kita berdiri, setidaknya beri gue keputusan yang jelas."
Lalu pria itu berlalu meninggalkan Isvara yang masih termangu.
Di tempat lain, Brinda terlihat curi-curi pandang pada Brandon dan Isvara yang sedang mengobrol.
"Kenapa kak Brandon terlihat akrab sama gadis kampungan itu, ada apa ini?" Gumamnya lalu ia melihat Brandon yang sudah meninggalkan Isvara.
"Ah, benar aku harus memberitahu momy," tercetus ide di otaknya lalu ia pergi untuk menemui sang mama.
***
"Kamu beneran gak salah lihat?" Tanya Arini pada putrinya.
"Iya mom,aku gak salah lihat, kak Brandon sama si Isvara kampungan itu mengobrol sangat akrab tadi."
"Kakakmu itu bukanlah pria yang akan terpikat pada gadis rendahan seperti Isvara, jika benar yang kau lihat, berarti ada sesuatu yang aneh darinya," ucap Arini tampak serius.
"Kamu mendengar apa yang mereka bicarakan tadi?"
Brinda menggeleng lesu. "Gak,aku ngintipnya dari kejauhan."
"Kita harus mencari tahu, jika benar sampai Brandon menaruh perasaan pada Isvara, mommy akan memberi perhitungan pada anak bandel itu."
***
Malamnya Gerald pulang saat hampir tengah malam, pria itu menarik dasi yang terasa mencekik. Saat hendak menaiki tangga teras, pak Tian menghentikannya.
"Maaf tuan muda, anda melupakan ini." Pak Tian mengulurkan sebuah surat undangan berlapis perak padanya.
Gerald mengambil undangan mewah itu, mengangguk setelah pak Tian ijin pamit.
Gerald hampir melupakannya, ini adalah surat undangan pesta dari salah satu kolega bisnis papanya, pak Subroto.
Berhubung beliau juga adalah salah satu klien penting sang papa, Gerald di minta untuk menghadirinya menggantikan kehadiran sang papa.
"Papa memintaku untuk mengajak Isvara juga, bagaimana caraku mengajaknya?" Gerald tampak berfikir keras. Berusaha merangkai kata yang pas untuk mengajak Isvara datang ke pesta bersamanya nanti.
"Haissh, lupakanlah." Pria itu menggeleng keras, "bikin otakku gosong aja, bodoamat jika gadis itu mau datang atau tidak."
Gerald melangkah masuk menuju kamar, namun sejurus kemudian ia melihat Isvara berdiri, seperti menunggunya.
"Ngapain kau di sini?" Pria itu berubah menjadi monster mengerikan lagi.
Namun Isvara malah menyambutnya dengan senyuman. "Menunggu mu pulang."
Deg! Deg! Tiba-tiba dadanya berdegup kencang.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Kenapa hanya dengan kata-kata itu membuat dirinya salah tingkah.
"Jangan menungguku bodoh, ini sudah tengah malam," ucapnya begitu tajam.
Namun Isvara masih setia dengan senyumnya. "Terimakasih sudah menyelamatkan ku tadi siang. Aku lupa untuk berterima kasih tadi."
Gerald semakin salah tingkah di buatnya, kenapa gadis ini harus tersenyum manis sekali? Menyusahkan saja.
"Minggir," Gerald mendorong wajah Isvara dengan tangannya. "Wajah jelekmu itu bisa merusak mataku."
Alah! Bilang aja kamu salting babang tamvan.
Isvara menghela nafas, berfikir kenapa pria ini selalu kasar. Tapi biarkanlah, setidaknya kali ini ia harus terlihat baik, agar tidak ada namanya hutang budi di antara mereka.
"Kamu mau aku panaskan air untuk mandi? Atau ingin makan sesuatu?" Tanya Isvara,yang kini setia mengekori Gerald.
"Tidak, aku tidak ingin apapun." Gerald mempercepat langkahnya.
Isvara masih setia mengikuti Gerald dengan berbagai macam pertanyaan. "Kau mau aku pijat,atau mau minum sesuatu?"
"Tidak Isvara, aku tidak mau apapun!" Tegas Gerald.
"Setidaknya katakan maumu apa?"
Argggh sial,kenapa seperti ini? Rutuk Gerald. Lalu karna tak melihat jalan, tubuh Isvara tergelincir tepat di depan pintu kamarnya.
"Aaaa ... " Isvara tersentak,namun sebuah tangan menahan tubuhnya hingga tidak terjatuh.
Seperti adegan di drama yang selalu di tonton Isvara dulu, Gerald menahan tubuhnya dan menetap nya sangat dekat.
"Ekhem,itu kau--" Gerald terdiam, degupan jantungnya tidak bisa ia atur ritmenya, sungguh demi apapun dia ingin menyembunyikan mukanya yang memanas.
"Terimakasih, untung di tahan olehmu," ucap Isvara, berusaha mengusir gugup.
"Oke, A-aku, ya akan masuk ke kamar."
Isvara mengangguk. sementara Gerald yang sudah sangat malu memegang tengkuknya dan wajahnya yang terasa merah.
"Bodoh, kenapa kau jadi seperti Gerald!"
***
Di kamar mereka masing-masing, Gerald dan Isvara sama-sama tak bisa tidur. Ada debaran aneh yang saat ini mereka rasakan.
Namun keduanya malah berusaha menepis perasaan itu.
"Gak,gak mungkin,ayo Gerald, sadar!" monolog Gerald pada dirinya sendiri.
Sementara Isvara di kamar juga masih berfikir tentang kejadian tadi, debaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat berdekatan dengan lelaki lain, malah ia rasakan bersama Gerald.
"Ada apa denganmu Isvara, kau tidak mungkin kan menaruh hati pada musuh mu sendiri!"
Tok!tok! saat Isvara masih memikirkan kebingungan perasaan dirinya sendiri, sebuah ketukan di kaca jendela mengalihkan perhatiannya.
Isvara berusaha untuk tidak memperdulikan ketukan itu, namun ketukannya malah semakin kencang.
__ADS_1
"Siapa sih?" Suasana malah mendadak horor untuknya.
Isvara memberanikan diri untuk membuka gorden kaca jendela, alangkah terkejutnya ia saat melihat wajah seseorang di sana.
"B-brandon!" Isvara terpekik, kaget.
Dengan gerakan tangannya, Brandon berusaha memberi isyarat untuk Isvara membuka jendelanya.
Isvara mengerti,lalu ia membiarkan kaca jendela terbuka setengah, dan setengahnya ia tahan dengan tangannya.
"Ada apa kau malam-malam begini?"
"Lo lupa sama janji kita? gue nunggu lo di taman lama banget!"
Isvara tertegun. ia benar-benar lupa tentang Brandon.
"Maaf, tapi aku lupa."
Brandon mendengus. "Sumpah ya seumur-umur gue gak pernah nunggu perempuan sampai segininya, cuma buat lo doang," ucapnya dengan nafas memburu.
Isvara juga bingung, kenapa Brandon sampai segininya padanya.
"Sekarang turun, gue nunggu lo di taman," ucap Brandon.
Isvara menggeleng. "Aku gak bisa."
"Gak bisa Kenapa?" kini nada bicara pria itu sedikit meninggi.
"Lo emang gak rindu sama bokap lo? lo gak pengen gitu ketemu dia."
Isvara bingung, di satu sisi ia membenarkan ucapan Brandon. tapi di sisi lain ada yang dia khawatirkan.
"Aku tak mau membuat masalah lagi, Gerald pasti akan marah jika menemui mu."
"Lo mempermasalahin perasaan pria itu? gimana sama perasaan lo sendiri?"
Isvara semakin di buat bimbang oleh ucapan pria itu. namun ia tak ingin Gerald memberikan cap jal*Ng atau wanita rendahan lagi, karna ia berdekatan dengan pria lain. seperti saat kasus Raka dan Mahesa dulu.
"Sekarang terserah lo,kalo lo emang pengen sama-sama lagi sama bokap lo, temuin gue di taman belakang, gue tunggu lima belas menit buat mikir."
Brandon lalu menjauh dari sana. karna kamar Isvara berada di lantai dua, Brandon sampai rela menaiki atap rumah menggunakan tangga.
Isvara melihat sebentar lalu buru-buru menutup kaca jendela dan gordennya.
Di kamar Isvara mondar-mandir memikirkan semua masalah ini. setelah cukup lama berfikir, ia akhirnya memutuskan untuk menemui Brandon.
Tidak ada salahnya dia mencoba. toh, benar ucapan Brandon, untuk apa ia memikirkan perasaan Gerald.
Gadis itu lalu mengambil sebuah selendang untuk menutupi wajahnya dan berjalan keluar kamar.
Ia berjalan mengendap-endap, dan menuruni tangga dengan sangat hati-hati.
Tanpa dia sadari ada seorang pria yang mengikuti langkahnya dengan rasa penasaran.
Pria itu adalah Gerald.
__ADS_1