
Setelah mendengarkan hal yang sungguh menyakitkannya dari gadis itu, Gerald menatap punggung Isvara yang mulai berbalik menjauh.
Penyesalan menghantamnya sangat kuat saat ini, saat-saat ia dengan tega menyakiti Isvara, fisiknya maupun hatinya. dengan tega menyuruhnya berbelanja di tengah malam, membiarkan dia yang hampir di lecehkan oleh para gerombolan geng motor, menyekapnya di dalam gudang seorang diri di gelap gulita.
Menggertaknya, mengatakan wanita sampah dan rendahan, menyebutnya dengan sebutan yang tak pantas.
Bahkan Gerald saat itu tidak pernah meminta maaf sama sekali. penyesalannya terhadap apa yang di lakukannnya pada Isvara dulu seperti menerkamnya hidup-hidup.
"Isvara maafkan aku ... " Ucapnya di tengah-tengah guyuran hujan yang mulai kembali deras.
***
Seminggu setelah kejadian itu. Jarak di antara Isvara dan Gerald semakin membentang luas.Mereka seperti mayat hidup yang tak bergerak saat bertemu.
Tuan Aryaloka, nyonya Indira, nyonya Triani dan Kayra belum kembali dari luar negeri. Namun setiap hari, setiap jam Kayra akan menelpon Isvara untuk memberinya kabar, juga menanyakan keadaan Raka, tentunya.
Isvara sengaja tidak memberitahukan apa yang terjadi padanya di rumah ini selama mereka tidak ada, dia tidak ingin orang-orang selama ini baik kepadanya itu menjadi khawatir, terlebih Kayra yang selalu mencemaskannya.seperti saat ini.
"Kakak jaga diri baik-baik ya, jangan biarkan kak Gerald kembali menindas kakak," ucap Kayra seakan memang sudah hafal dengan kelakuan kakaknya itu.
"Baiklah, kalian juga jaga diri baik-baik ya, titipkan salamku pada nenek,mama dan papa."
"Pasti kak, see you," terdengar nada girang di seberang telepon.
Lalu sambungan terputus. Isvara menghela nafas berat, hari ini pekerjaan menumpuk sudah menantinya.
Isvara berjalan ke luar kamar, menuruni tangga dan bersiap untuk menjalani aktivitasnya sebagai pembantu di rumah ini, seperti yang Gerald selalu katakan.
Isvara hendak menuju pantry,namun langkahnya terhenti saat melihat tubuh kekar pria itu berdiri tegap menunggunya di sana.
Isvara berusaha untuk tidak melakukan kontak mata pada pria yang kini menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Ra, kita perlu bicara," ucap Gerald menatap sendu padanya.
Tak ada tatapan tajam, tak ada bentakkan seperti dulu, yang ada hanya penyesalan yang semakin memupuk.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," ucap Isvara. terdengar aneh saat Gerald memanggil hanya nama belakangnya.
"Banyak Ra, banyak sekali yang harus kita bicarakan. kau tidak bersungguh-sungguh kan saat mengatakan kita akan berpisah?"
Isvara menggeleng. "Tidak, kita akan segera berpisah, setelah tuan Aryaloka pulang nanti."
Gerald menggeleng-gelengkan kan kepala seakan tidak percaya. bahkan Isvara tidak lagi memanggil 'papa' pada ayahnya. Apakah ini akhir dari semuanya?
"Beri aku satu kesempatan, setidaknya biarkan aku memperbaiki semua ini Ra." Gerald lalu menarik lengannya agar mereka mendekat.
Namun Isvara segera menepis lengannya. Ia berbalik kali ini menatap wajah Gerald dengan mata yang lagi-lagi berair.
"Aku tidak bisa membiarkan hatiku terus tersakiti, sudah cukup semua rasa sakit yang kau berikan, sekarang biarkan aku sendiri."
"Hubungan kita dari awal hanya karna keterpaksaan, tidak ada yang bahagia di antara kita, sejak awal kau hanya menganggap aku adalah seorang jal*ng, yang menghancurkan hubungan mu dengan kekasih mu."
__ADS_1
Hening, Isvara berusaha menormalkan detak jantungnya yang seakan memburu.
"Kekasihku? kau salah Ra, Laura bukan lagi kekasihku."
Dahi Isvara mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Aku sudah memutuskannya Ra, sudah tidak ada lagi hubungan di antara aku dengannya."
"Kamu bahkan mengatakannya dengan seenteg itu? bagaimana bisa? aku rasa ada yang salah dengan hatimu Gerald!"
"Nyatanya pria kejam seperti mu tidak akan pernah bisa jatuh cinta!"
Isvara menyentak lengannya. Gerald bergeming, memikirkan kata-kata gadis itu.
Apa maksudnya?
***
"Lo itu terlalu terburu-buru Ger," ujar Samuel sambil mengupas kacang kulit dan memakan isinya.
"Tapi apa yang salah? gue udah menyadari perasaan gue dan berusaha memperbaiki semuanya?"
"Yang justru salah itu cara pendekatan lo, gue kalau jadi Isvara juga bakal risih."
"Gue bilang juga apa, lo itu terlalu terburu-buru. mending sekarang lo coba ngertiin lagi perasaan lo,selami, dan gali lebih dalam."
"Apa lo beneran cinta sama Isvara atau cuma perasaan bersalah lo doang?"
"Nah itu, lo itu masih labil sama perasaan lo sendiri, banyak-banyak belajar deh dari gue."
"Udah berpengalaman nih bang." Samuel tersenyum bangga, hidungnya sampai kembang kempis.
Gerald menoleh menatap horor. "Idih najis, yang ada makin parah kalau sama lo!"
"Yak! Lo meragukan gue, gini-gini juga gue Casanova sejati."
"Bangga lo jadi Casanova? mainin hati perempuan?" Gerald menimpuknya dengan bantal.
"Ya gak gitu, tapi--"
"Shut up! sekali lagi lo ngomong, potong gaji!"
Samuel mendadak kalem, kalau soal gajinya dia tidak berdaya.
"Kenapa sih ancamannya gaji Mulu,elah!" rutuknya dalam hati.
"Eh Ger lo mau kemana?" teriak Samuel seketika.
Gerald berjalan ke luar ruangan. "Mau ngebujuk istri gue lagi." pria itu melambaikan tangannya dari belakang.
Samuel berdecih, lalu pria itu terkekeh. "Kalau udah kek gini aja baru diaku istri, sekarang lo nyesel kan?!" geleng-geleng kepala tak habis fikir dengan bosnya itu.
__ADS_1
***
Gerald keluar dari tokoh bunga setelah membeli seikat bunga mawar segar dengan hiasan cantik yang menyegarkan mata.
Gerald mencium harumnya perlahan, membayangkan wajah bahagia Isvara saat ia memberikan buket bunga ini.
Apapun penolakan dari Isvara, Gerald tidak akan marah, dan akan terus membujuk Isvara agar ia bisa memperbaiki semuanya.
Saat ia mendongak menatap cakrawala yang di hiasi langit biru bersih dan awan-awan yang menggantung indah.
Seperti memori kaset lama, Gerald membayangkan kenangan saat pertama kalinya ia bertemu Isvara.
Waktu itu Senin pagi di hari Minggu bulan Oktober, bulan kelahirannya. sang ayah datang ke perusahaan yang di pegangnya.
Saat itu sang ayah hanya mengatakan dirinya harus menemui seseorang, ia tidak tahu jika orang itu adalah Isvara, yang akan menjadi istrinya dan membuat gila hingga sampai seperti sekarang.
Gerald hanya mengiyakan, saat itu juga anniversary hubungannya bersama Laura yang ke enam tahun. Gerald rencananya akan membawa Laura ke Istanbul untuk berlibur,harus membatalkannya karna keinginan sang ayah itu.
Paginya saat itu juga Gerald sudah akan bersiap untuk bertemu dengan wanita yang di maksud ayahnya itu.
Dia menunggu di restoran yang kini malah menjadi tempat favoritnya. satu jam menunggu dengan makanan yang sudah di hidangkan, gadis itu akhirnya datang.
Kesan pertama Gerald saat ia pertama kali menatap Isvara adalah, ia gadis yang unik. bagaimana tidak, Isvara bahkan tidak memakai riasan apapun saat pertemuan mereka, wajah gadis itu polos tanpa make up, dan ntah kenapa itu malah menjadi daya tariknya. Hingga sekarang.
"H-hai, apa kamu menunggu lama," sapa gadis itu pertama kali saat Gerald menatapnya sangat lekat.
Gerald hanya mengangguk. "Jadi kau orang penting yang di maksud papahku?"
Isvara hanya diam menunduk. Aneh, satu kata yang menggambarkan Isvara saat itu. gadis aneh dengan rambut aut-autan, pakaian tak rapi, bahkan tas selempang yang hampir berkarat pengaitnya. penampilan Isvara saat itu sungguh tak enak untuk di pandang.
Tapi Gerald tak tahu jika di balik penampilan berantakan itu,ada hati yang ikut berantakan, gadis malang yang tak punya siapa-siapa selain ayahnya,namun sang ayah malah terkurung di penjara, karna kesalahan yang belum tentu ia perbuat.
Di saat dirinya hancur dan hampir mati karna kesendirian, bagaimana bisa Isvara memperhatikan penampilannya?
Ah, memikirkannya Membuat hati Gerald seperti di rajam ribuan duri. Gerald bahkan tidak tahu apa saja penderitaan yang di alami Isvara saat itu, ia malah memberikan penderitaan yang lebih buruk saat mereka sudah meresmikan pernikahan.
Pernikahan yang di dasari karna keterpaksaan.
Tapi itu dulu, kali ini Gerald sudah berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Isvara bahagia. tidak akan ia biarkan air mata gadis itu menetes lagi, Gerald akan membahagiakan Isvara.
Drrrt! Drrrt! dering telepon membuyarkan lamunannya. Gerald mengambil ponselnya, tertera nama 'Mahesa'.
Rahang Gerald mengeras, mau apa si brengs*k itu menelponnya. Gerald bahkan tak akan sudi menganggapnya adik.
Gerald mematikan sambungan telepon, tak ingin harinya di ganggu oleh kemarahannya pada Pria itu, namun dering telepon kembali bergetar.
Kali ini Gerald marah, merasa terganggu, ia menggeser tombol hijau itu dengan kesal.
"Ada apa!" desisnya ketika sambungan terhubung.
"Ke rumah sakit pelita sekarang! Isvara kecelakaan!"
__ADS_1
Deg! seketika buket bunga mawar yang ada di genggamannya jatuh saat mendengarnya.