
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh seorang diri, akhirnya Isvara sampai di tempat tujuannya, yaitu rumah om Damian, saudara dari ayahnya, dimana ayahnya pun berada di sini.
Isvara menghempaskan nafas lega, tak sabar dirinya ingin bertemu sang ayah, lelaki kebanggaannya yang selama setengah tahun tak pernah di lihatnya lagi. Isvara sungguh rindu, hingga rasanya dadanya sangat berdebar saat menghampiri gerbang kokoh rumah om Damian.
Om Damian, adik satu-satunya yang ayahnya punya, adalah seorang saudagar yang sukses hingga mampu membawa namanya hingga ke mancanegara, itulah sebabnya rumahnya pun terlihat besar dan kokoh padahal tempat tinggalnya adalah di desa di dekat pinggiran kota, om Damian memang di gadang-gadang adalah orang terkaya di tempat ini.
Isvara melangkahkan kakinya Perlahan, memasuki gerbang yang tak terkunci, lalu matanya terpaku pada sosok pria paruh baya yang sedang menyapu halaman,ya, Isvara tak salah lihat, ayahnya sedang menyapu halaman dengan punggung tangannya yang mulai keriput.
Di dekatinya sang ayah, hatinya seperti teriris tak kalah melihat wajah tua itu yang penuh dengan luka goresan dan terlihat sayu, ayahnya, ada apa dengan ayahnya selama ini?
"Ayah ... " Isvara berucap lirih, pria yang sedang fokus menyapukan daun kering yang berserakan itu menoleh menatapnya, alisnya mengkerut seakan baru seperti pertama kali mereka bertemu.
"Maaf, siapa ya?" ayahnya tak mengenali dirinya.
"Aku Isvara ayah," Isvara tak bisa menahan isakan saat ayahnya sendiri tak mengenalinya.
"Isvara? Isvara siapa?" pria tua itu menegakkan bahunya.
Isvara tak kuasa untuk tak menitikkan air matanya, di dekatinya sang ayah, di usapnya tangan keriput itu. Ayahnya menderita alzheimer sejak dua tahun lalu, merupakan pukulan berat untuk Isvara saat itu, segala upaya di lakukan untuk kesembuhan ayahnya, namun terkadang efek penyakit ini sungguh menyakitkan, ayahnya terkadang lupa sesuatu hingga dia harus menulisnya di buku catatan yang selalu dia simpan.
"Ayah mungkin melupakan ku karna kita tak pernah bertemu setahun belakangan ini, tapi kita sering bertukar kabar dari telefon?"
Seorang ayah tidak akan mungkin kan melupakan putrinya.
"Ohhhh ... Isvara, Putri ayah?" pria itu terkejut sendiri dengan mata berbinar.
"Benar, aku putrimu ... " Isvara mengangguk-angguk, tak terasa air matanya semakin deras, di peluknya sang ayah dengan erat, menyalurkan kerinduannya selama ini.
"Bagaimana kabar ayah selama ini? apakah ayah selalu sehat? maafkan putrimu ini yang terkesan menelantarkan mu." Isvara merasa sangat bersalah, tidak tahu apa saja yang di lalui sang ayah selama ini, mungkin saja lebih buruk dari pada dirinya.
"Ayah selalu sehat ... jangan menyalahkan dirimu sendiri nak, ayah tahu kamu melakukan semua ini juga demi ayah."
"Adi, di mana kau!" tiba-tiba seorang wanita bertubuh gemuk keluar dari rumah, memanggil nama sang ayah. Isvara sangat tahu siapa wanita dengan riasan tebal itu, dia adalah Bibi Rosmini, istri dari paman Damian.
"Oh, di situ kau rupanya?!" wanita yang membawa kipas kecil di tangannya mendekati mereka.
"Bibi ... " Isvara hendak mencium punggung tangan Rosmini, namun wanita itu menepisnya.
"Akhirnya, anak gak tahu diri ini pulang juga." makinya pada Isvara.
"Bawa pulang ayahmu, keluarga ini tak bisa lagi menampungnya!" hardik wanita itu.
"Kau tahu, kerugian apa saja yang di alami suamiku selama ayahmu menumpang tinggal di sini? gara-gara penyakit pikunnya itu kami selalu di buat kerepotan tahu tidak?!"
Isvara menatap sang ayah, lalu kembali menatap bibinya. "Kenapa bibi mengatakan hal seperti itu? memangnya apa saja yang di perbuat ayah ku selama ini?"
__ADS_1
"Banyak, sangat banyak sampai tak terhitung, bahkan dia hampir beberapa kali mati karena tidak tahu menyebrang jalan. sudahlah, bawa pergi ayah mu dari sini!"
Mobil sedan berwarna merah mengkilap muncul dan memasuki gerbang rumah, mobil itu terhenti di antara mereka, lalu keluar lah seorang pria berpakaian rapih dengan raut wajah penuh wibawa.
"Paman ... " Isvara menghampiri.
Pak Damian terkejut. "Isvara ... kamu di sini?"
Isvara mendekat lalu mencium punggung tangan pamannya, baru hendak berbicara, tiba-tiba bibinya sudah ada di depan mereka sambil berkacak pinggang.
"Mas ... mumpung keponakan mu sudah kembali, suruh dia bawa ayahnya pergi dari rumah ini!"
"Rosmini, kamu apa-apaan sih, Isvara baru saja datang!"
Rosmini mendelik. "Memangnya kenapa? toh mumpung dia sekarang di sini, kalau gak dia bakal kabur lagi terus ninggalin ayahnya lagi di sini?!"
"Rosmini!" kali ini pak Damian meninggikan suara. "Kamu bisa gak sih kalau ngomong Itu santai sedikit? malu kalau sampai terdengar sama tetangga?!"
Rosmini mencebik. "Aku gak mau tahu, pokoknya ponakanmu ini harus bawa ayahnya pergi dari sini!" lalu wanita gempal itu berbalik dan melangkah pergi, tak lupa ia memasang wajah sinis saat memandang Isvara.
Pak Damian di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah sang istri, lalu di tatapnya Isvara sambil tersenyum tipis.
"Jangan di ambil hati ya ucapan bibi mu, kau sudah tahu kan dari dulu bagaimana wataknya?"
Isvara mengangguk, tersenyum sekenanya, sejak dulu bibinya memang seperti itu baik sikap ataupun Perkataannya terkadang memang selalu menyakitkan.
Isvara memandang sedih ayahnya, begitupun pak Damian yang Menghela nafas pelan sambil mendekatinya.
"Kakak jangan bicara seperti itu, kakak tidak pernah menyusahkan kami, seharusnya aku lah yang harus di salahkan karna tidak mendidik baik istriku dalam bertingkah."
"Tidak istrimu tidaklah salah," ucap pak Adi.
"Berarti kakak juga tidaklah salah, jangan menyalahkan diri kakak sendiri," ucap pak Damian menepuk pelan pundak kakak laki-lakinya ini.
Isvara tersenyum memandang mereka, persaudaraan yang begitu kuat terjalin, dulu Isvara pernah di ceritakan oleh pamannya sendiri, jika ke dua saudara itu hanya memiliki satu sama lain sejak kecil, karna kakek dan nenek Isvara meninggal saat ayahnya menginjak usia remaja dan pamannya akan masuk sekolah dasar.
Paman Damian bilang, jika ayahnya adalah seorang kakak sekaligus orang tuanya untuknya, Kaena kerja kerasnya ayahnya lah paman Damian dapat sukses seperti sekarang, itulah sebabnya paman Damian selalu bilang jika dia akan membalas Budi dengan mengurus ayahnya yang sudah renta.
"Isvara ... kenapa melamun?" paman Damian menepuk lembut pundaknya.
Isvara menggeleng. "Tidak apa-apa, paman."
Paman Damian tersenyum. "Ayo, masuklah dulu, cuaca di luar panas."
Isvara ikut tersenyum, lalu menggamit tangan sang ayah dan mengikuti paman Damian masuk.
__ADS_1
***
Seorang pelayan meletakkan tiga cangkir teh di meja, ada Isvara, ayahnya dan tentu pak Damian yang duduk.
"Ayo di minum nak," ucap pak Damian pada Isvara.
Isvara mengangguk dan menyeruput pelan tehnya, begitupun dengan pamannya dan sang ayah.
"Paman sudah mendengar dari cerita ayahmu, tentang pernikahan yang kamu lakukan diam-diam,demi menyelamatkan ayahmu dari tuntutan penjara."
Isvara terdiam. tak harus bicara apa, dia hanya mulai mendengarkan apa yang hendak di ucapkan sang paman.
"Sungguh paman menyangkan tindakan kamu yang terlalu terburu-buru saat itu, padahal masih ada Paman, keluarga mu yang dapat membantu," ujar pak Damian.
"Lalu kamu terpaksa untuk mengikuti perjanjian pernikahan selama enam bulan, yang di ajukan oleh nyonya Triani?"
"Paman mengenalnya?" ucap Isvara terkejut.
"Nyonya Triani? tentu saja paman mengenalnya, beliau adalah salah satu relasi paman dalam bisnis, paman juga tahu siapa tuan Aryaloka, yang menjadi bos ayahmu di perusahaan."
"Selama enam bulan kamu menetap di sana, Ayahmu selalu merindukanmu di sini, kalian menelpon hanya beberapa kali dalam sebulan, dan paman lah yang menjadi jembatan penghubung untuk kalian berkomunikasi."
"Penyakit ayah pasti merepotkan paman, terimakasih untuk selalu mengingat kan ayah selama ini Paman," ucap Isvara sendu.
"Tidak, tidak." pak Damian menggeleng. "Kenapa kamu mengatakan itu? ayahmu adalah kakak ku, Bagaimana pun dia adalah tanggung jawab ku juga." pak Damian menatap wajah kakaknya.
"Lihatlah, dia menjadi sedih karena perkataan mu."
Isvara menatap sang ayah, benar tidak seharusnya dia mengatakan hal seperti itu, dia mulai terisak.
"Maafkan aku ayah!" Isvara memeluk bahu ringkih itu.
Pak Adi menggeleng. "Tidak apa-apa, mungkin penyakit pikun ayah ini terlalu membuat orang kesal."
Isvara menggeleng. "Tidak, tidak seperti itu, aku hanya tidak bisa melihat ayah kesusahan."
"Vara memang anak yang baik." di usapnya air mata sang putri.
Pak Damian tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Isvara ... kamu sudah datang kesini itu berarti perjanjian pernikahan mu selama ini enam bulan ini sudah berakhir."
"Paman tidak tahu penderitaan apa saja yang kamu alami di rumah orang kaya itu. Tapi hal itu pasti sangat menyakitkan."
Isvara menudunduk, rasanya ingin membenarkan apa yang di katakan sang paman, selama enam bulan di sana memang terasa berat untuknya.
__ADS_1
"Sekarang, jika kamu ingin berpisah dengan pria yang bernama Gerald itu, paman akan membantumu."