TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 78


__ADS_3

Samuel pergi setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu jawaban dari Gerald, pria itu melenggang pergi setelah berijin pamit, ntah apa yang kini di rasakan Gerald, perkataan Samuel yang menghilang selamanya dari mereka, seperti memiliki banyak makna.


Sebenarnya Gerald pun ingin memaafkan, tapi sebelum bisa mengatakan ini Samuel sudah berdiri dari duduknya dan itu membuatnya terkejut.


"Lo gak bisa maafin kita pun gak apa-apa, tapi di sini kesalahannya emang condong ke gue, jadi jangan pernah dendam sama laura,ya Ger."


Gerald mendengkus mengingat perkataan terakhir pria itu. memikirkannya kembali membuat Gerald sadar, dirinya masih lah menganggap Samuel sebagai teman, rekan,juga saudara, tak bisa di pungkiri ada rasa kehilangan di sudut hatinya yang terkecil karna ucapan berpamitan sahabatnya itu.


Dia bahkan sudah pergi sebelum Gerald menerima permintaan maafnya, apakah itu adil? seakan-akan pria itu hendak berpamitan karna ingin pergi jauh.


Menyadari itu, raut wajah Gerald seketika berubah, benar, apakah Samuel berniat untuk bu nuh diri? tidak bisa di biarkan.


Tiba-tiba saja firasatnya menjadi buruk, kejanggalan dalam ucapan Samuel dan raut wajah pria itu yang menunjukkan keputusan asa-an sungguh membuat Gerald khawatir kali ini, tidak mungkin kan dia akan melakukan hal itu? Samuel bukanlah pribadi yang seperti itu, Gerald sangat mengenalnya tapi kali ini pun dia cemas tentang apa yang akan mungkin terjadi.


"Jangan bilang kau akan benar-benar melakukan itu,Sam!"


***


Sementara di sisi lain Isvara yang sedang menulis pembukuan keuangan belanjaan bulanan keluarga ini di kejutkan dengan suara dering telepon yang terus berbunyi, merasa sangat menganggu, Isvara mengajarkannya, tertera di sana adalah unknown number, siapa?


Tut! Isvara akhirnya tak jadi menjawab telepon itu, takut penipuan yang akhir-akhir ini kian marak terjadi, namun telepon itu berdering lagi, berdecak kesal wanita hamil itu pada akhirnya duduk di tepian kasur dan mau tak mau mengangkat panggilan itu.


"Halo siapa ini!" sentakknya seketika saat telepon tersambung.


"Halo Isvara, ini aku." jawaban dari sebrang sana. Isvara mengernyit, suaranya seperti tak asing di telinga.


"Kau?--"


"Ya, ini aku, Laura. Isvara bisakah kita bertemu, aku ingin berbicara sesuatu padamu."


Seketika entah kenapa Isvara seperti naik pitam, dadanya bergemuruh hebat mendengar penuturan wanita itu. kesalahannya beberapa bulan lalu masih membekas untuk Isvara.


"Maaf aku sibuk, tidak bisa."


"Tunggu Isvara, aku mohon kali ini saja, hanya kamu yang bisa membantuku."

__ADS_1


"Membantumu? apa maksudnya?" dahi Isvara mengkerut dalam.


"Ya, hanya kamu yang bisa membantuku, jadi ayo kita bertemu di cafe, aku akan mengirimkan alamatnya padamu."


"Atas dasar apa aku bisa mempercayai ucapan mu? bisa saja ini hanya bualan mu dan sebenarnya kau ingin menjebak ku." berkata tajam. kali ini Isvara tidak akan tertipu lagi.


"Kau bisa memegang kata-kata ku Isvara, kali ini aku benar-benar-- hiks," terdengar suara isakan di seberang sana.


Isvara terkejut. apa mungkin keadaannya sungguh sangat genting untuk wanita itu? tapi Gerald sudah berpesan dengannya untuk jangan mempercayai apapun yang mungkin saja bisa membahayakannya. Namun, untuk kali ini bisakah Isvara mengikuti kata hatinya...


"Baiklah, kirimkan alamatnya padaku."


***


Di lain tempat terdapat Brandon yang kini sedang meratap, tercenung pria itu mengselonjorkan kakinya di atas meja, meminum arak yang kini tersisa setengah di botol. sekarang dia sedang berada di apartemennya, memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan Isvara, wanita yang selama ini selalu menari-nari di dalam pikirannya.


Meskipun tahu sekarang Isvara sudah bahagia bersama Gerald, bahkan kini wanita itu sedang mengandung anaknya, hal itu tak menyurutkan niat Brandon untuk tetap memiliki Isvara.


Brandon mulai terkekeh, lalu kekehan itu berubah menjadi tawa besar, pengaruh minuman keras yang terus menerus ia tengguk membuat akal sehatnya ikut terenggut, membayangkan fantasi ia sedang bercvmbu dengan Isvara,ini sungguh gila tapi Brandon menyukainya.


"Sekarang gimana caranya buat lo bisa jatuh ke dalam pelukan gue .... " lalu pria itu menyeringai memikirkan sebuah ide dalam benaknya.


"Ahaa ... itu dia!"


****


Isvara akhirnya memberanikan diri untuk menemui Laura, walaupun dia belum ijin dulu pada sang suami, namun ia yakin tujuan Laura kali ini murni tidak ada rencana jahat atau apapun itu.


"Akhirnya kamu datang." Laura berdiri dari duduknya, dengan wajah lega yang menghiasi, wanita itu menyambut kedatangan Isvara dengan senyum tulus.


"Ada apa kamu sampai mengajak ku bertemu seperti ini." Isvara to the point, menatap ke sekeliling dengan waspada, hal itu membuat Laura terkekeh pelan.


"Aku benar-benar murni hanya ingin mengajak mu mengobrol saja, tidak usah cemas," ucapnya.


"Jadi apa masalahnya?"

__ADS_1


Di tanyai hal seperti itu membuat raut wajah Laura seketika berubah, wanita itu menatap sendu lalu melempar pandangan ke samping guna mengusir air mata yang lagi-lagi memaksa untuk keluar.


"Aku hanya ingin curhat padamu Isvara, sekarang hanya kamu tempat yang bisa ku percayai."


"Apa maksudmu? kenapa berbicara seperti itu?" Isvara yang terkadung penasaran karna menangkap bulir-bulir air mata di wajah cantik wanita itu. terlebih lagi melihat penampilan Laura yang sangat berbeda saat ini, biasanya wanita itu akan berpenampilan sangat glamour tak perduli bagaimanapun keadaannya, namun hari ini Isvara menangkap hal yang berbeda, penampilan Laura sungguh sangat mengenaskan, rambut acak-acakan dengan wajahnya yang nampak tak terurus, sangat berbeda dengan saat Laura bersama keangkuhannya.


"Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, aku tidak punya teman untuk mencurahkan apa yang sekarang ku rasakan, rasanya setiap hari beban yang di pundak ku semakin besar."


"Kau pasti sudah tahu kan, anak yang ku kandung ... "


"Bukan anak Gerald? aku sudah tahu semuanya, semua kebusukan mu selama ini."


Laura menatap lemah. "Maafkan aku Isvara, mungkin selama ini aku sudah sangat menyakiti mu, dengan mengaku hal yang tidak-tidak,aku telah memisahkan kalian berdua sebelumnya."


Isvara mengangkat sedikit sudut bibirnya. "Tak usah khawatir, aku sudah melupakan semuanya, jadi kau tidak usah meminta maaf."


"Sekarang bagaimana dengan mu?"


"Hidupku sangat tragis, setelah semua rencana licik ku terbongkar, aku langsung di usir oleh ayah ku, semua aset berharga ku di jual, bahkan rumah yang ku bangun sendiri dengan kerja keras ku telah di sita bank untuk menutupi semua hutang-hutangku selama ini."


"Lalu bagaimana dengan Samuel? suamiku mengatakan jika Samuel mati-matian membela mu di hadapan keluarganya, bukankah sekarang kamu hidup dengannya."


Laura yang mendengarnya tersenyum kecut. "Samuel telah pergi meninggalkan ku sendiri."


"Itu semua juga akibat dari keegoisan ku," ucapnya menatap gamang.


"Sekarang aku menyesal Isvara, sangat menyesal, oleh karena itu aku ingin meminta maaf pada siapapun termasuk dirimu yang pernah ku sakiti."


"Karna setelah ini aku akan pergi jauh, menyusul Samuel ku."


***


...Maafkan othor sebelumnya karena kemarin terlambat update, othor benar-benar minta maaf karena ada beberapa urusan di Rl yang tidak bisa othor abaikan. doakan othor untuk bisa selalu update sampai dua bab per hari^^...


...Mudah-mudahan reader semua di beri kesehatan untuk selalu bisa menunggu dan setia dengan Novel ini, terimakasih dan salam hangat ❤️...

__ADS_1


__ADS_2