
Gerald duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, menunggu Isvara yang sedang bersiap-siap. Sesekali ia menengok, memastikan Isvara sudah selesai, namun gadis itu tidak muncul-muncul, membuatnya kesal.
"Ck, kenapa si bodoh itu lama sekali? apa dia tidak dengar, aku tidak suka menunggu?" Desisnya.
"Oke, gak apa-apa lima menit lagi," Gerald mencoba sabar.
*Padahal baru dua menit berjalan, tuan muda ini memang tidak sabaran*
Saat sedang asyik menggeser- geser ponselnya, Gerald malah di kagetkan dengan kehadiran seorang wanita yang tiba-tiba memeluknya.
"Laura," pekiknya.
"Hai sayang," wanita dengan gaun sebatas paha dan jaket denim itu mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Gerald dengan tiba-tiba.
Gerald terpaku, lalu menyentak punggung tangan Laura,isyarat dia tak suka dengan tindakan tiba-tiba wanita itu.
"Kenapa? Kamu sudah tidak suka ku cium?" Laura memasang wajah cemberut.
"Bukan begitu, aku terkejut, Kenapa tiba-tiba kau datang kesini?"
"Aku ingin menemuimu, aku sangat merindukanmu, sayang."
Gerald berdiri, Membuat Laura juga menegakkan badannya.
"Lebih baik kau pulang."
Alis cetar membahana wanita itu mengkerut. "Kenapa sih? Kamu kayanya gak suka banget aku ada di sini?"
Sejurus kemudian Laura melihat Isvara yang turun dari tangga dengan sudah berpakaian rapih. Seketika Laura memeluk tubuh Gerald dan mendekapnya kuat.
"Oh, jadi kamu mau ngajak aku pergi ke mall by? seneng banget deh," ucap Laura dengan sengaja agar Isvara melihat itu semua.
Untunglah Brinda memberitahunya jika Gerald akan pergi berbelanja dengan Isvara. makanya dia buru-buru datang kesini tak ingin kecolongan. tidak akan Laura biarkan Gerald berduaan saja dengan gadis itu.
Isvara memandang mereka dengan tatapan nanar, wajahnya yang putih bersih itu seketika murung.
Jadi Gerald bukan mengajaknya? tapi mengajak kekasihnya. Bodohnya dia yang mengira pria itu hanya mengajaknya.
"Laura, lepaskan," Gerald berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan wanita itu.
"Isvara ... " Gerald terkejut saat melihat Isvara hanya diam terpaku.
Laura lalu melepaskan dekapannya, mendelik menatap Isvara. "Ngapain dia ada di sini?"
Lalu wanita itu berpura-pura terkejut. "Oh, aku tahu kamu pasti mengajaknya juga untuk menjadi pelayan ku kan?"
Gerald menatap horor. "Maksud mu apa?"
Laura malah belagak tidak tahu. "Oh ayolah sayang, kamu mengajak Isvara untuk menjadi pelayan ku kan saat berbelanja nanti?"
Gerald hampir ingin membantah, namun suara Isvara menghentikannya.
"Kau benar, aku yang akan menjadi pelayan mu nanti," ucap gadis itu membuat Gerald melongo.
"Tuh, si kampungan ini aja sadar diri, ayo sayang kita berangkat."
__ADS_1
Laura menarik lengan Gerald dengan paksa, namun pandangan Gerald malah terpaku pada Isvara.
Isvara tersenyum, bukankah seperti ini yang di inginkan oleh Gerald? menjadi pelayanannya. sampai kapan pun Isvara tidak akan melupakan perkataan Gerald yang satu ini.
"Brandon salah, tidak akan mungkin orang kejam seperti Gerald malah menyukaiku."
***
Gerald dan Laura masuk ke dalam mobil bersama, di kemudi depan. Isvara terlihat cemas, dia akan duduk di mana? apa boleh dia duduk di belakang?
"Heh pelayan,kok lo diam aja?" hardik Laura.
Gerald memandangnya dari kaca mobil. memperhatikan, tanpa mau membelanya, pria itu berwajah sangat datar.
"Cepat masuk, lelet amat," desis Laura.
Isvara mengangguk, lalu duduk di kursi belakang. tak apalah, dirinya juga sudah terbiasa menjadi bulan-bulanan, hari ini pun ia akan mengikuti perannya.
***
Mereka sampai di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Gerald dan Laura berjalan dengan bergandengan tangan sementara Isvara berjalan dengan susah payah mengekori di belakang mereka.
Gerald tidak perduli dengan gadis itu, dia sudah terlanjur kecewa dengan Isvara.
"Dia sendiri yang menawarkan diri menjadi pelayan, jadi nikmatilah semua itu." gumam Gerald, kesal.
"Eh, kita kesitu yuk." Laura tiba-tiba menjadi bersemangat, menunjuk salah satu stan baju dengan merk ternama.
Gerald hanya bisa mengikuti keinginan kekasihnya itu. sementara Isvara di belakang tampak berjalan kesusahan karna di kanan-kiri nya menenteng barang belanjaan Laura.
"Mau kemana lagi sih mereka? nyusahin saja," gumam Isvara.
Sampai di stan itu, Laura tampak memilih-milih gaun yang pas di tubuhnya. sementara Gerald hanya diam memperhatikan. mood nya sangat buruk kali ini.
"Gimana sayang? cocok gak?" tanya Laura menunjukkan sebuah gaun di kanan-kirinya.
Gerald hanya mengangguk. sungguh dia tidak minat saat ini. Namun tatapannya berubah saat beradu pandang dengan seorang gadis yang menunggu di sebrang sana.
"Dasar gadis bodoh, kenapa dia melihatku seperti itu?"
"Gerald! sayang!" Laura sangat kesal karna Gerald tidak memperdulikannya. kekesalannya bertambah karna tatapan pria itu terus menuju pada Isvara.
"Gerald!" Laura memalingkan wajah Gerald hingga menghadapnya.
"Kamu bisa gak sih fokusnya tuh ke aku aja?!" Laura mengerucutkan bibirnya.
Gerald menatapnya tak minat. ntahlah, ia merasa rasanya kepada Laura kini perlahan-lahan mulai hilang.
"Kenapa sih?" tanya Laura.
"Gak apa-apa." jawabnya.
Laura menatap Isvara. "Heh sini Lo, cepet!"
Isvara membuang nafas, lalu berjalan menghampiri mereka. Namun karena tidak melihat, Isvara menubruk tubuh seseorang hingga tersungkur.
__ADS_1
Isvara meringis menahan lututnya yang membiru, sedangkan orang yang menabraknya berlalu Begitu saja.
Gerald dengan cepat menghampiri, Laura yabg kesal menghentakkan kaki, mengikutinya.
Gerald berjongkok menatap luka Isvara.
"Bisa gak sih kalo jalan itu hati-hati?" omel pria itu. mengusap luka di lututnya.
Isvara terdiam, Gerald yang menyadari dengan perubahan sikapnya sendiri, buru-buru berdiri dengan memasang wajah galak.
"Lo tau gak? Lo itu itu malu-maluin tau gak? pelayan kampungan kaya lo emang gak pantes ada di mall ini, bikin malu aja!"
Laura seketika tersenyum puas dengan apa yang di katakan Gerald.
Setelah mengatakan itu Gerald pun berjalan pergi. dia sendiri pun tidak mengerti apa yang di ucapkan, ia hanya kesal saat ini.
Isvara menunduk sedih, perkataan Gerald sungguh sangat menyakiti hatinya. Laura memandang angkuh dengan bersidekap dada, sejurus kemudian dia pergi untuk menyusul Gerald.
Isvara memandang ke sekeliling, menatap semua orang yang seolah sedang mentertawakan nya.
"Kau tidak apa-apa?" seorang berjongkok, menanyakan keadaannya.
Isvara perlahan mendongak, menatap wajah teduh seorang pria.
"Mahesa ... " Lirihnya. dan seketika tangisnya pun pecah.
"Ini aku, tidak apa-apa, aku akan selalu bersamamu."
"Bawa aku pergi," ucap Isvara. menangis tanpa suara.
Mahesa memeluknya.
***
Gerald pulang dalam keadaan marah. apa yang di harapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. ia berjalan tegap menuju kamarnya,namun seseorang menghentikan langkahnya.
"Gerald tunggu."
Pria itu menoleh, mendapati Arini yang jalan tergesa-gesa.
"Ada apa tan?" Sang bibi tampak begitu ngos-ngosan, mengambil nafas panjang.
"Kamu harus lihat ini." tunjuknya, memberikan sebuah foto.
Gerald mengamatinya, seketika darah mendidih dari sekujur tubuhnya, kilatan amarah tampak jelas di mata coklat terang itu.
"Isvara," gumamnya mengumandangkan satu nama.
"Benar, istrimu dengan seorang pria," Arini berucap semakin memanasi.
Di foto itu, terlihat seorang wanita dengan selendang yang menutupi kepalanya,namun wajahnya masih sangat jelas terlihat, dengan seorang pria yang memakai hody dengan membelakangi hingga Gerald tidak melihat wajahnya.
Pria itu mengenggam tangan Isvara dengan erat. hal itulah yang membuat Gerald sangat marah.
"Dia telah berselingkuh di belakangmu Gerald, diam-diam rubah kecil itu telah menikam mu."
__ADS_1
Arini semakin memanasi, terlihat dari ekspresi Gerald yang sedang menahan amarah besar.
Rencana Arini telah berhasil, wanita itu menyeringai.