
Isvara datang ke salon kecantikan sebelum sore nanti ia akan pergi untuk check up bersama Gerald. Pria itu masih berada di kantornya, rencananya mereka akan pergi ketika warna jingga telah menghiasi langit.
Sekalian refsering, juga Gerald ingin mengajak Gerald jalan-jalan.Betapa romantisnya pria itu, mengingatnya membuat Isvara tersenyum.
Gerald bukan tipikal pria yang romantis setiap saat, tapi lelaki itu selalu membuktikan dengan tindakan, kecupan di kening setiap pagi, juga tatapan teduh pria itu.
Hari ini Isvara rencananya ingin memotong rambutnya. Rambut panjang halus kebanggaan sang ayah pada akhirnya akan ia pangkas hingga sepundak. Isvara sudah meminta ijin ayah dan ayah mengijinkannya dengan senyuman. Ia tersenyum lega, Isvara ingin memulai kehidupan baru dengan wajah baru.
Semua rasa sakit dan Penderitaan di belakang ingin ia tinggalkan dan tak ingin berbalik lagi. Sekarang masa-masanya ia menikmati kebahagiaan, bersama Gerald juga buah hatinya.
Isvara mengusap lembut perutnya. "Kamu gak sabar pengen keluar sayang, papa dan mama tidak sabar melihat kamu."
***
Di tempat lain, Gerald sedang menghubungi salah satu karyawan di dalam mobil, mata dan mulut yang sedari sibuk bergerak melihat proposal dan berucap di seberang telepon, terpaksa teralihkan ketika matanya tak sengaja bersibobrok dengan mata seorang pria di pinggir jembatan. Gerald yang sangat kenal pria itu langsung memerintahkan sopirnya untuk memberhentikan mobil.
Gerald bergegas berlari menyebrang jalan dengan sedikit gesit, lalu menghampiri sang pria yang terlihat akan menaiki pembatas jembatan.
"Samuel! apa yang kau lakukan!" Gerald memekik tertahan, tangannya langsung menggapai lengan pria yang mulai goyah itu.
Setelah berhasil menurunkan Samuel, nafas Gerald bergerak tak beraturan, dadanya bergemuruh tertahan.
"Kau gila? ingin mengakhiri hidup mu begitu saja hah?!"
Samuel yang tak mengerti malah menaruh telapak tangannya di kening pria itu. "Gak panas."
Gerald menghentakkan tangan Samuel dengan kasar. "Apa-apaan sih, bajing*an kau sudah gila ya?" entah kenapa dia menjadi sangat marah sekali. Melihat Samuel yang seperti ini terjun ke bawah jembatan ini, membuat keyakinan Gerald semakin yakin jika pria itu ingin bun*uh diri.
"Lo yang apa-apaan!" di luar dugaan Samuel malah tertawa keras, seperti orang yang tak punya dosa.
Hal itu membuat Gerald memandang aneh padanya juga tatapan elangnya menjadi tajam. Dia menjadi tak sadar jika tadi menggunakan sapaan formal saking kalut perasaannya.
"Gak ada yang mau bu*nuh diri? mikir lo kejauhan." wajah lelaki itu memerah karena menahan tawa yang hampir ingin meledak.
"Jelas-jelas lo kaya mau terjun gitu dari atas? apa lagi kalau bukan bu*nih diri namanya?"
__ADS_1
Samuel menggeleng. "Gerald, Gerald. gue gak sepicik itu sampai ada niatan mau bu*nuh diri. Tadi itu dokumen lamaran kerja gue jatuh, tadinya mau gue ambil karena nyangkut doang tadi, eh gegara lo malah jatuh beneran."
"Jadi lo gak ada niat mau bu*nuh diri?"
"Ya, gak lah." lelaki itu menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. "Gile aja lu ndro. idup gue masih panjang, belum ada yang gue capai belum kawin juga." kelakar pria itu.
"Udah lama ya Ger." pria itu menatap Gerald. "Gue niatnya pengen ngejauh, pengen ilang selama-lamanya dari lo,eh malah ketemu lagi."
"Emang dasarnya kita jodoh." sekali lagi pria itu berkelakar, dengan gelak tawa yang khas.
"Najis!" Gerald mendengkus. "Udah ada Isvara yang terpatri di hati gue."
Kini giliran Samuel yang mendengkus. "Iya deh iya yang bucin mah, percaya."
Gerald tertawa geli, percakapan random ini telah membuat hubungan mereka berangsur membaik,tak semencengkam kemarin. Setidaknya walaupun kesalahan pernah ada, satu-satunya yang bisa di lakukan adalah memaafkan.
"Mau ngobrol lebih? udah lama kita gak ngobrol." ajak Samuel.
***
Gerald menatap ke sekitar, jujur saja tempat ini memiliki cerita sendiri untuk mereka, karena sejak SMA tempat ini sudah seperti markas untuk Gerald and the geng. Hingga akhirnya mereka kuliah pun Ray, Samuel dan Gerald sesekali bersama Brandon akan mengunjungi tempat ini sekedar untuk melepas penat juga nongki-nongki ala anak muda.
"Sekarang lo di mana? udah dapet kerjaan juga?" tanya Gerald kedua tangan bersidekap di dada, aura bossy nya langsung menyeruak mengitarinya.
Samuel menggeleng, mengaduk-ngaduk minuman yang sempat mereka pesan. "Susah ternyata Ger, gak sesederhana yang gue pikiran."
"Walaupun lulusan terbaik juga banyak pengalaman, pada dasarnya semua tergantung kenyamanan. Dua bulan ini gue luntang-lantung gak jelas karena kekayaan yang gue punya gue limpahin semua ke keluarga juga ke Laura, buat gue harus hemat-hemat, terhitung udah beberapa kerjaan gue lakoni tapi gak ada yang sreg di hati gue, akhirnya gue berhenti."
"Lo sendiri gimana? Isvara juga gimana kabarnya?" tanya pria itu mengalihkan tatapan kasihan Gerald yang membuatnya seperti tak punya harga diri.
"Kabar gue Seperti yang lo lihat sekarang. Isvara, dia baik-baik aja, Meskipun terkadang moodyan dan suka ngambek."
Samuel terkekeh. "Begitulah cewek, gak apa-apa lo nikmatin aja masanya, apalagi dia sekarang lagi ngandung jangan bikin dia kesel."
"Takutnya nanti anaknya malah mirip sama lo."
__ADS_1
Gerald melotot. "Ya namanya juga gue bapaknya,gue yang nyalurin kecebongnya ya harus mirip sama gue lah."
Benar kan! malah akan berabe jika mirip sama tetangga. Samuel ini memang ada-ada saja.
"Ya kalo tampang sih gak apa-apa, asal jangan sifatnya, gak kuat!"
Gerald hampir melotot lagi tapi pada akhirnya pria itu memalingkan muka, lalu terkekeh. "Sialan lo!"
Sudah lama ia tak mendengar lelucon sahabatnya ini, meskipun dia menjalani hari-hari seperti biasa, namun terkadang dia merasa kosong karena selama ini ia selalu bergantung pada Samuel entah urusan perusahaan atau terkadang urusan pribadi. Samuel baginya bukan teman lagi, tapi saudara, keluarga.
"Oh ya gimana sama keluarga lo, ibu lo, adik-adik lo?" tanya Gerald yang mulai menyeruput secangkir espresso yang masih mengepul asapnya.
"Keluarga gue udah pindah ke apartemen baru, sisa tabungan yang gue punya setidaknya bisa buat hidup mereka sejahtera untuk beberapa tahun ke depan."
"Lagipula adik-adik gue udah pada gede, yang satu aja udah bisa nyari duit jadi gue gak terlalu khawatir."
"Terus gimana sama lo? mau terus kabur dari masalah?"
Samuel menggeleng. "Gue bukan kabur, gue cuma mau nenangin diri. lo tahu di saat air keruh kita hanya harus meninggalkannya beberapa saat sampai air itu kembali jernih, itu yang saat ini sedang gue lakukan."
"Tapi ini konteksnya beda. Laura butuh lo, dia butuh lelaki yang bisa ngejaga dia, lo gak bisa lari dari tanggung jawab."
"Justru Ger,gue lari karna dia gak butuh gue lagi." Nadanya sedikit tajam,lalu pria itu tersadar dan menggeleng. "Maaf."
"Itu terus yang lo ucapin." Gerald menggeleng-geleng pelan.
"Gue maafin lo." perkataan Gerald sontak membuat Samuel mendongak dengan terkejut.
"Waktu itu lo pergi gitu aja sebelum gue nerima permintaan maaf lo."
"Sekarang gue ada di sini, buat bilang kalau gue maafin lo."
"Sekarang lo harus pergi Sam, cari Laura, gue yakin wanita itu gak bisa hidup tanpa lo."
Kalian ini sebenarnya saling mencintai,bodoh!
__ADS_1