
"Bodoh, bodoh kau Laura! Bagaimana bisa kau hamil dari pria itu!" Pak Reno terus melayangkan hujatan pada wanita yang kini tersungkur tak berdaya. Atau hanya pura-pura tak berdaya.
"Tuan muda itu tentu tidak akan mau dengan mu, mana mau dia dengan wanita liar seperti mu!"
"Pah ... Sudah, mau sampai kapan kamu menyalahkan anak kita?" Bu Tina tak bisa melihat anaknya terus di salahkan.
"Anak kita? Anakmu saja, aku tidak sudi menganggapnya sebagai putriku!"
"Pah, sudah cukup papah menyalahkan ku, semua ini juga di luar kendali ku," ucap Laura tak berhenti menangis.
"Ya makanya punya otak itu di pake sedikit, sebelum melakukan apa-apa kau harus tau dulu akibatnya!" Pak Reno menunjuk-nunjuk kepala wanita itu.
"Sekarang bagaimana? Jika dia tidak mau bertanggung jawab, akan seperti apa hidup kita? Karier mu sudah hancur, DP mobil pun belum lunas, cicilan rumah masih ada, cuma sedikit uang simpanan saja yang ada di bank."
"Ck, aku gak mau hidup susah!" Decak pria setengah baya itu.
"Pah, kok kamu malah mikirin itu sih, yang terpenting sekarang adalah keadilan untuk putri kita," ucap Bu Tina pada suaminya.
"Ck, terserah,aku sudah muak, mau dia dapat keadilan atau tidak,aku sudah tidak perduli!" Lalu pak Reno berjalan meninggalkan mereka.
***
Isvara masih terus berada di kamarnya, hal itu menimbulkan kekhawatiran untuk keluarga, apalagi Gerald. wanita itu seakan menutup diri dari dunia luar dan tak ingin bertemu dengan siapapun.
"Dia belum makan, aku takut dia sakit?" Gerald mendesah pelan, tak kunjung bisa meluluhkan hati Isvara yang kini sudah membeku
"Mamah juga khawatir, tadi pagi Isvara cuma minum wedang jahe yang mama bawakan, selebihnya dia tidak mau memakan apapun," ucap Indira.
Gerald yang semula menunduk kini mulai mendongak mendengar perkataan mamah tirinya itu, tak bisa di pungkiri wanita itu begitu perhatian, persis dengan bundanya dulu.
Di dalam hatinya, seperti ada sedikit ruang yang terbuka untuk istri papahnya itu. Yang begitu perhatian terhadap istrinya.
"Makasih mah," Gerald berkata sangat pelan hampir tak terdengar, namun meski begitu insting kuat seorang ibu selalu bisa mendengarnya.
"Sama-sama." Indira tersenyum.
"Sekarang bagaimana untuk membuktikan tuduhan itu tidaklah benar?" tanya Kayra yang kini mulai percaya dengan kakaknya.
__ADS_1
"Kamu mempercayai kakak tidak bersalah Kay?" Gerald bisa bernafas lega,karna masih ada yang mau mempercayainya.
Kay mengangguk. " Aku percaya kakak tidak mungkin melakukan hal itu, kakak adalah orang yang bisa menjaga batasan."
"Bagaimana jika melakukan tes DNA?" usul Mahesa. Gerald menatap saudara tirinya itu, apa mungkin dia mendukungnya juga?
"Tidak bisa, janin Laura ketahuan baru dua minggu, tak bisa melakukan tes DNA sekarang," ucap tuan Aryaloka. Mereka semua menghela nafas.
"Namun pak Reno tidak bisa menunggu, kabar tentang putrinya hamil bisa saja sudah terendus publik dan itu akan menjadi pertanyaan untuk kariernya," imbuhnya.
"Dan juga Gerald, waktu enam bulan yang nenek berikan akan berakhir hari ini, apa keputusan kalian?" tanya sang nenek.
Gerald tertegun, badannya sedikit menegang, karna masalah ini dia hampir lupa dengan rencana awalnya dengan Isvara. Sekarang bagaimana dia akan menjelaskan ini di tengah masalah yang terjadi?
****
Samuel menemui Laura, setelah beberapa pekerjaan yang di bebankan Gerald padanya selesai kini ia akhirnya punya waktu untuk dirinya sendiri, bukan tanpa alasan Samuel sampai harus menemui wanita itu kerumahnya, karena beberapa hari yang lalu Laura menelponnya hingga puluhan kali dan dia baru menyadari Setelah membuka handphonenya.
Samuel ingin tahu apa yang hendak di sampaikan wanita itu hingga menelponnya berkali-kali.
Samuel sendirilah yang menjadi saksi dari perjalanan karier wanita itu, dia yang selalu mendukungnya dan membantu Laura ketika wanita itu dalam titik terpuruknya, walaupun semua yang dia lakukan di anggap angin lalu oleh sang pujaan hati, tetapi Samuel tetap mencintai Laura dengan tulus.
Samuel keluar dari mobilnya, pria itu masih menggunakan jas kerja. Matanya tak sengaja melihat Laura yang kini tengah duduk di kursi teras.
Samuel tersenyum sumringah, wanita itu nampaknya sedang bersantai, Ah, belakangan ini Samuel sangat merindukannya.
"Lau--" panggilan Samuel terhenti saat ia melihat ibu Laura menghampiri putrinya, Samuel menyembunyikan diri di balik tembok.
Hubungan dia dan kedua orang tua Laura memang tidak lah terlalu baik, orang tua Laura terutama ayahnya sangat menentang hubungan dia dengan putrinya.
"Kau ini cuma bawahan Gerald, dan Gerald adalah kekasih anak ku, kau tidak tahu malu sekali mendekati Laura yang notabene adalah kekasih bos mu!" teguran pedas dari pak Reno Padanya saat itu cukup menyakiti harga dirinya.
Samuel pun sadar diri, siapa dia? siapa Gerald? dirinya tidak akan mungkin bersaing dengan sahabatnya itu karena memang jauh sekali perbedaannya.
Tapi cintanya untuk Laura adalah nyata, meskipun saat itu Gerald lah yang menjalani hubungan dengan Laura, tapi dirinya lah yang lebih dulu mencintai wanita itu.
Ah, andai dia bisa setampan dan sekaya Gerald, orang tua Laura tidak akan memandang rendah dirinya. hidup terkadang memang tidak adil.
__ADS_1
Samuel menyembulkan kepalanya sedikit, ingin tahu apa yang di obrolkan ibu dan anak itu karena dia terkejut mendengar Laura berteriak.
"Masuk ke dalam kata mamah?!" ucap Bu Tina sedikit meninggi.
"Gak! mamah kenapa sih? aku ini bukan bangkai yang harus di sembunyikan terus!" protes Laura.
"Tapi nyatanya memang begitu kan? kamu ingin semua orang tahu kalau kamu itu aib?"
"Mah!" Laura membentak. "kenapa sih papah dan mamah sama aja? aku ini lagi terpuruk mah, aku yang paling di rugikan di sini!"
Dahi Samuel mengernyit, apa yang di perdebatkan ibu dan anak itu? apa yang terjadi dengan Laura-nya?
"Oh, kau ingin di sini terus karna ingin semua orang tahu kalau kamu lagi bunting tanpa tahu bapaknya siapa?!"
Deg! jantung Samuel seakan berhenti memompa, apa? dia tidak salah dengar, Laura hamil? wanita itu sedang hamil? dia akan menjadi seorang ayah.
Tiba-tiba rasanya Samuel menangis. dia bahagia.
"Mamah kok teriak gitu sih, yang ada orang-orang bakal tahu karna Mamah sendiri? lagipula siapa bilang bayi ini gak ada ayahnya? jelas-jelas ayahnya adalah seorang CEO perusahaan besar, Gerald angkasa wirasena!" lantang Laura seakan ingin dunia mendengar tentang siapa ayah dari janinnya ini.
Bu Tina di buat geleng-geleng kepala. "Sudahlah, mamah tidak mengerti lagi harus mengajarimu bagaimana?"
"Lagian jangan kebanyakan halu, belum tentu tuan muda itu mengakui ini anaknya?!" Bu Tina menunjuk-nunjuk perut Laura yang masih rata lalu masuk kedalam.
Laura duduk bersungut-bersungut, ia tak membalas lagi perkataan ibunya, karna memang semuanya adalah benar.
Tapi dia tetap bersikukuh Jika Gerald adalah ayah dari anaknya.
Setelah memastikan Bu Tina masuk, Samuel keluar dari persembunyiannya. pria itu menghampiri Laura.
Laura yang semula menatap ke arah lain, menyadari kehadirannya, mata wanita itu langsung terbelalak seketika, dia diam membeku.
"S-samuel!" pekik Laura dengan mata melebar.
"Lau, kamu hamil? sejak kapan?" tanya pria itu.
Hancur sudah!
__ADS_1