TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 97


__ADS_3

Arini menangis menemui putranya. Brandon sudah bisa menebak jika rencananya mommy nya ini memang tidak berjalan lancar.


Brandon tersenyum sinis. "Ku bilang juga apa mom, om Arya memang tak akan mungkin untuk membantu kita, mata hati nya sudah tertutup,dia tak pernah menganggap kita ada."


Namun itu lebih dari yang Brandon bayangkan. Hati Arini hancur saat dengan teganya sang kakak mengatakan hal semacam itu padanya.


"Kamu adalah anak pungut!"


"Anak pungut!"


Seakan kata-kata itu menggema di gendang telinganya hingga serasa ingin pecah.


"Brandon, kita akan pindah .... ke apartemen mu."


Brandon terkejut. "Kenapa mom? mommy di usir sama om Arya?"


"Kamu gak perlu tahu, ini bukan urusan anak kecil!" sentaknya tiba-tiba, Brandon curiga ada sesuatu yang terjadi sehingga sang mommy terlihat sedih seperti ini.


"Mom, katakan apa yang terjadi?" meskipun dia buta dalam perilaku dan tata krama, namun Brandon adalah salah satu anak yang tak ingin melihat ibunya terluka. Hal ini lah yang membuatnya membenci keluarganya sendiri. Karna perilaku mereka pada sang mommy yang terkadang tak baik.


"Bang*sat, aku harus nyamperin om Arya!"


"Jangan! mau apa kamu? mau bikin ulah lagi?" Arini menahan putranya.


"Lalu kenapa mommy nangis? katakan, apa om Arya bicara macam-macam?"


"Tidak. mulai hari ini Brandon mommy dan adik mu akan pindah dari rumah itu, harusnya memang dari dulu saja," ucapan Arini terhenti sejenak.


"Mommy akan menjual beberapa aset dan properti untuk kita membeli rumah atau sebuah penthouse di pusat kota, ucap Arini tertunduk sedih.


"Mom katakan lah, ada apa? jangan membuat ku gila, kenapa mommy sedih begini?"


"Brandon sepertinya mommy ... tidak lagi bisa mempertahankan mu."


*


*


*


Aryaloka mengusap wajah kasar mengingat kembali kata-kata yang tercetus begitu saja dari mulutnya, pasti telah menyakiti hati adiknya kini. Ia menyesal telah mengatakan itu, padahal ia sangat tahu Arini akan sangat sensitif jika di singgung tentang asal-usulnya.


Ia memejam, membuang nafasnya kasar. Indira yang melihat sang suami tampak begitu frustasi menghampirinya.


"Mas, kenapa?" Indira memijit pundak sang suami, cara ampuh jika suaminya ini sedang banyak problem, entah itu karna perusahaan atau problem pribadi.


"Indira," Aryaloka memusatkan pandangan pada sang istri.


"Tadi siang aku bertemu dengan Arini ... "

__ADS_1


"Benarkah?" Indira memotong ucapan Aryaloka dengan cepat.


"Lalu adikmu sekarang di mana mas? sejak penangkapan Brandon, Arini dan Brinda tak tinggal lagi di rumah, aku khawatir."


Aryaloka menatap sendu sendiri, sepertinya Arini sangat salah telah membenci wanita sebaik Indira, di saat Arini terang-terangan menjelekkan Indira di depannya, wanita ini malah mengkhawatirkannya.


"Kau tenang saja, selama ini dia tinggal di apartemen bersama Brinda, tapi ada yang tengah ku sesali kini?"


"Apa itu mas?"


"Aku mengatakan hal yang tak boleh aku katakan di depannya. aku mengungkit asal-usulnya."


Indira terkejut, dia tahu arah pembicaraan ini. Dia pun sudah tahu sejak lama, jika Arini bukanlah anggota asli keluarga wirasena.


"Kenapa mas melakukan itu?"


"Aku tahu aku salah, hanya saja mas kesal padanya Ndir."


"Dia telah menghina mu di depan mas. Mas tidak bisa diam saja melihat istri mas di jelek kan seperti itu."


"Mas," Indira memegang lembut lengannya.


"Sudah ku katakan kan, kemarahan hanya akan membawa bencana, harusnya mas bisa sedikit bersabar."


Aryaloka mengangguk mendengar perkataan sang istri. "Kau benar, aku salah, harusnya tidak mengatakan hal itu."


"Hal ini bisa menciptakan hubungan renggang di antara keluarga mas, nanti setelah masalah Brandon selesai, bisakah mas menjemputnya lagi untuk tinggal di sini?"


"Mereka bisa tinggal di mana saja, tapi mereka tidak bisa berjauhan darimu, bagaimana pun Arini dan Brinda masih sangat membutuhkan sosok pemimpin dan pelindung kan?"


"Bukankah kamu selalu menyayanginya?" Aryaloka kali ini menatap sang istri, mengangguk.


"Baiklah,aku akan mencoba untuk bicara padanya nanti."


*


*


*


Di rumah sakit, Isvara masih terbaring lemah di brankar, Dokter bilang dia harus di rawat inap selama beberapa hari lagi untuk memastikan kesembuhannya baru bisa di ijinkan pulang.


Kini Isvara dan Gerald sedang menikmati moment bersama yang terlewatkan beberapa hari belakangan, demi sang istri Gerald tak masuk ke kantor untuk beberapa hari ke depan, namun tentu saja sudah ada penggantinya di sana.


Setelah dua hari belakangan berdiskusi dengan Samuel, pria itu akhirnya mau kembali ke perusahaan Gerald, dan mengambil kembali jabatannya sebagai sekretaris dan tentunya bersama melati, jadilah mereka berdua yang kini tengah mengurusi masalah perusahaan menggantikannya.


Adapun tentang Laura, Gerald tak tahu banyak dia juga tak ingin ikut campur masalah yang terjadi antara Samuel dan Laura. Namun Samuel mengatakan jika saat ini wanita yang semakin mendekati HPL nya itu tengah berada di rumah orang tuanya.


Begitulah sejahat-jahatnya anak tempat kembalinya tetap kepada orang tua, Samuel bilang pak Reno telah memaafkan kesalahan putrinya, tentu tak lepas dari kasih sayang ibu Laura yang ingin anaknya kembali.

__ADS_1


Itulah sebabnya juga Samuel kembali pada pekerjaannya karna ia ingin membuktikan kepada kedua orang tua Laura, jika dia pantas untuk putri mereka.


Perjuangan kedua insani itu memang menakjubkan.


"Gerald? Gerald? Sayang?!" sentak kan suara Isvara membuat lamunan Gerald buyar seketika.


"Ah, ya?"


"Kamu melamun?" tanya Isvara, mengerut dahi.


Gerald menggeleng sekilas. "Sedikit sih."


"Melamun kok sedikit," Isvara mengerling membuat Gerald tertawa, mengacak poni wanita itu dengan gemas.


Isvara memberengut. "Issh, jangan gomeh-gomeh poni aku!"


"Gomeh-gomeh? bahasa apa tuh?" Gerald hampir tergelak.


"Bahasa alien!" pelotot Isvara Membulat tawa Gerald pecah seketika.


Isvara semakin mengerucut bibir, di usapnya perutnya yang semakin buncit.


"anak-anak bunda, lihat noh tingkah Daddy kalian, gak jelas, humornya receh, ketawa sendiri!"


Tawa Gerald semakin meledak, lalu di dekatinya wajah ke perut sang istri.


"Para kesayangan Daddy, jangan dengerin ucapan mommy kalian, mommy kalian lagi sensi," bisik Gerald membuat Isvara tertawa.


Gerald menoleh pada Isvara, tersenyum, tangan kekarnya tergerak mengusap perut istri tercinta. "Sayang, menurut kamu ketiga anak kita jenis kelaminnya apa?"


"Eummm aku gak tau, gak bisa nebak juga. tapi aku pengen dua kakak cowok dan si bungsu cewek."


"Kenapa begitu?"


Isvara tersenyum. "Aku ingin ada anak perempuan yang bisa di jaga oleh dua anak cowok kita nanti, itu akan sangat serasi."


"Seperti persaudaraan kalian, Kayra, Mahesa dan kamu. Aku melihat bagaimana Mahesa dan kamu begitu menyayangi Kayra, aku ingin anak-anak kita seperti itu."


Gerald mengulum senyum, di kecupnya kening sang istri.


"Aku juga berfikir sama dengan mu, nanti kalau ketiga anak kita udah lahir, kita bikin lagi jadi kesebelasan ya?" ujarnya menggoda.


Buk! "Aww, sakit sayang!"


"Ya abisnya kamu, di pikir bola apa, jadi kesebelasan."


Gerald tertawa, selama beberapa detik lalu wajahnya kembali serius. di gamitnya tangan sang istri dan di genggam erat.


"Sayang, bagaimana kalau kita pindah rumah saja?"

__ADS_1


"Sudah saatnya kita hidup berpisah dari keluarga besar."


"Aku ingin membuat rumah di tepi pantai, untuk keluarga kecil kita nanti."


__ADS_2