TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 80


__ADS_3

Awan hitam tampak menggantung di langit, semilir angin sejuk di malam ini seperti mengiringi langkah Nela yang tampak sedikit mengendap-ngendap berjalan ke area belakang.


Nela lantas melirik ke sana ke mari, melihat situasi dan kondisi lalu gadis itu memelankan langkah menuju paviliun kecil tempat Brandon sedang menunggu.


Nela membuka kerudung yang membungkus kepalanya, pria yang membelakanginya ini lantas menoleh, tersenyum dengan penuh arti, yang Nela sendiri tak tahu apa artinya itu.


"Tuan, kenapa ngajak saya ketemuan di sini?" Sejujurnya Nela takut, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, namun tak bisa di pungkiri dia pun penasaran dengan hal apa yang akan Brandon katakan padanya.


"Kirain gue, lo gak bakal dateng." Brandon tetap mempertahankan senyum anehnya, membuat tengkuk Nela seketika merinding.


"Tuan, memangnya a-apa yang mau tuan katakan tentang ... Tuan Gerald?" Cicit Nela, matanya berkeliaran kesana-kemari, memantau takut-takut ada orang yang lewat dan tahu mereka ada di sini.


Bagaimana pun Nela sangatlah berhati-hati, semua orang juga tahu bagaimana watak dan sifat Brandon, pria ini sungguh mengerikan.


"Lo gak usah khawatir gitu, gak akan ada yang tahu kita ada di sini," ucap Brandon seolah tahu kegelisahan gadis itu.


"Well ... gue manggil lo kesini, mau ngajak bikin rencana menarik." Mengangkat sudut bibirnya.


"Rencana menarik? rencana apa tuan?"


"Btw, Nela gue tahu lo dan Dewi udah jadi pembantu di rumah ini, sejak gue dan Gerald masih sangat remaja."


"Dulu bahkan, kita pernah sempat main di waktu kecil, tepat di samping paviliun ini."


Itu benar. Nela jadi bernostalgia dengan ucapan Brandon, Nela dan Dewi sebenarnya adalah teman satu kampung halaman, mereka berdua di bawah kesini oleh Mbok Minah, tetangga mereka di kampung halaman, oleh sebabnya mbok Minah dan mereka berdua masih memiliki ikatan kekeluargaan.


"Dan gue juga tahu, selama ini lo nyimpen perasaan buat Gerald,right?" pria itu menyeringai dengan kilatan matanya yang membuat Nela ketakutan seketika.


Tangan Nela bergetar dengan telapak tangannya yang basah karna gugup.


"B-bagaimana t-tuan tahu?" sungguh ini di luar perkiraan Nela, selama ini ia selalu menyembunyikan perasaannya rapat-rapat tak ada yang tahu bahkan orang-orang terdekatnya, hanya Dewi yang pernah sempat mencurigainya, namun hanya sebentar karna dirinya berhasil tidak terlalu menunjukannya.


Tapi bagaimana bisa Brandon tahu, orang yang bahkan tidak pernah dekat dengannya. bagaimana bisa ini terjadi?


"Lo gak usah panik gitu, santai aja." Brandon mendengkus melihat ekspresi berlebihan gadis dengan penampilan kuno di depannya ini.

__ADS_1


"Itu makanya, gue punya tawaran bagus buat lo."


"T-tawaran apa tuan?" Nela bertanya takut-takut, meskipun pria itu bilang 'santai' tapi Nela tidak akan bisa melakukan itu.


"Gue tahu Nel, di kampung, lo butuh duit lebih buat biaya pengobatan ibu lo kan?" Brandon menduduki salah satu kursi yang ada di paviliun, dengan wajah congkak penuh keangkuhan.


"Tawaran gue ini bakal sangat menguntungkan lo, karna gue bakal ngasih lo duit 30 juta jika berhasil."


"T-tiga puluh juta?" Nela hampir terpekik kaget mendengar nominal itu, terbukti dengan matanya yang melebar, terkejut.


Brandon mengangguk. tidak sia-sia di mencari tahu tentang wanita ini sebelumnya, kemarin Brandon memang tak sengaja mendengar percakapan Nela dengan seseorang di telepon yang ternyata adalah kerabatnya di kampung, hingga Brandon akhirnya tahu jika Nela sedang kelimpungan mencari uang lebih untuk pengobatan ibunya yang sakit-sakitan. Hal itu merupakan kesempatan luar biasanya untuk Brandon untuk bisa menjebaknya.


"L-lalu apa yang harus saya lakukan dalam kesepakatan itu tuan?"


"Gampang aja, lo harus bisa bawa pergi Isvara keluar dari rumah ini."


"M-maksdunya tuan?" Nela tak paham.


Hal itu membuat Brandon kesal, memutar bola mata malas, kenapa wanita ini sangat lemot?


Nela mengangguk pelan, lalu ia dudukan bokongnya di samping Brandon.


"Seperti yang gue bilang tadi, lo tinggal bawa Isvara pergi dari sini. Lo tau kan, Gerald bahkan gak bakal ngijinin Isvara keluar rumah kalau bukan sama bodyguard-bodyguardnya, nah tugas lo adalah lo harus bisa yakinin Gerald buat bawa Isvara pergi dari rumah tanpa harus bawa bodyguard."


"Terserah deh lo mau pake alesan apa, yang penting lo harus bawa pergi Isvara sendiri, dan nanti lo harus nuntun dia ke tempat yang nanti bakal gue ngasih tau alamatnya." jelas Brandon panjang lebar pada Nela.


Nela hanya mengangguk-angguk berusaha paham, sebagai orang desa dia tak begitu mengerti dengan pemikiran orang kota yang penuh intrik apalagi pria seperti Brandon ini.


"Cuma itu ya tuan?"


That's right, cuma itu doang, gampang kan?"


"Terus nanti si Isvara nya mau di apain kalo saya berhasil bawa dia ke tempat tuan?"


"Urusan itu lo gak usah tau," desis Brandon dengan menatap tajam membuat Nela bergidik seketika.

__ADS_1


"Y-ya, maaf tuan." mengangguk patuh.


"Ya penting adalah keuntungan yang bakal lo dapet, selain lo bisa dapat duit buat biaya pengobatan ibu lo, kalo Isvara menghilang dari sini, otomatis lo bisa deketin Gerald."


Mata Nela berbinar seketika. "Tuan benar."


"Ya tentu benar dong, gue tahu walaupun lo selama ini ngelayanin Isvara dengan baik sebagai nona muda di rumah ini, lo diam-diam juga benci kan sama dia."


"Ya, saya benci tuan. saya benci saat dia bermesraan dengan tuan Gerald."


"Nah bisa di bilang Isvara adalah batu penghalang lo buat dapetin Gerald. di saat nanti batu itu menghilang, lo bakal bisa dapetin apa yang lo mau, benar?"


Nela mengangguk dengan tatapan lurus ke depan. "Ya, tuan benar."


Brandon tersenyum menyeringai, tak sulit untuk menghasut wanita ini. "Jadi gimana? lo setuju?"


Nela menatap Brandon, lalu gadis itu mengangguk. "Saya setuju tuan."


"Good girl," ucap Brandon menarik satu alisnya. Nela menatapnya lalu menatap ke depan.


Entah apa yang ada di pikiran Nela saat ini, janji manis juga ucapan yang di katakan Brandon, telah membuat angan-angan yang selama ini Nela pendam seakan kembali membara dan percaya akan bisa terwujud.


Nela, entah sejak kapan dia menaruh perasaan pada Gerald, majikannya sendiri. Mungkin saat dia pertama kali menginjakkan kakinya di rumah besar ini atau saat remaja dulu, Gerald pernah perhatian padanya.


Ingatannya seakan terlempar pada Kejadian saat terjatuh, saat itu umurnya masih sebelas tahun dan Gerald lima belas tahun, saat itu Gerald yang melihatnya jatuh segera menolongnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Gerald dengan masih seragam putih abu-abu.


Nela kecil mengangguk. "Tidak apa-apa, terimakasih tuan muda."


"Syukur lah."


Mengingatnya kembali membuat Nela tersenyum, meskipun sekarang sikap Gerald tak seperti saat dia remaja, tapi Nela masih menyukainya.


Anggap lah dia tidak tahu diri, mencintai pria yang bahkan sudah mempunyai istri, dunia mereka bahkan berbeda dengannya. Tapi, tidak ada salahnya kan berjuang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nela, ini kesempatan mu untuk bisa menyingkirkan Isvara."


__ADS_2