TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 95


__ADS_3

Nela berlari tunggang-langgang seperti maling yang tertangkap basah, meskipun tak memakai alas kaki sama sekali tak menyurutkan semangat Nela untuk kabur dari kejaran para polisi.


Pokoknya dia tidak boleh terungkap. Tidak boleh!


Nela menyesal telah mempercayai ucapan Brandon, pria itu benar-benar menusuknya dari belakang, lempar batu sembunyi tangan, pria itu malah mengoper kejahatan yang dia perbuat pada dirinya.


Benar, benar apes!


"Awas kau Brandon, aku tak akan pernah melupakan pengkhianatan ini!" gigi Nela bergemelutuk seiring dengan langkah kakinya yang semakin cepat dan semakin berat. Nafasnya memburu seiring teriakan dari belakang yang memintanya untuk berhenti.


"Sial, kalau seperti ini terus aku benar-benar akan tertangkap!"


"Kapan para polisi itu berhenti untuk mengejar ku!" Persendian Nela semakin lemas, dia tak punya tenaga lagi untuk berjalan, namun dia harus tetap memaksakan kakinya untuk terus melangkah.


Di depan sana para polisi sudah menodongkan pistol. "Menyerah lah atau terpaksa kami melakukan kekerasan!"


"Cih, menyerah? tidak semudah itu!" lirih Nela masih dengan keangkuhannya.


"Hahaha, kalian tidak akan bisa mengejarku!" Nela bisa saja tertawa namun dia tidak sadar kini dia sedang berdiri di tengah jalan, dan tepat di depannya sebuah mobil sedang melintas dengan kecepatan tinggi.


Brakk! kecelakaan tak terelakkan, tubuh Nela seketika terhantam kap mobil hingga terpelanting beberapa meter dari tempatnya berpijak.


Kejadian itu begitu cepat, membuat polisi mematung seketika, juga para warga yang ada di sana. Tersadar, polisi buru-buru menghampiri tubuh Nela yang sudah terbujur kaku, juga pengendara mobil keluar dengan wajah piasnya.


"Maaf, pak saya benar-benar tidak sengaja, saya sungguh minta maaf!"


Polisi menggeleng pelan. "Cepat, bawa dia kerumah sakit!"


***


Gerald, Samuel kini masih berada di kantor polisi dengan Brandon bersama sang mommy dan Brinda. mereka menunggu hasil penyidikan polisi juga kedatangan Nela yang katanya sebagai tersangka baru.


"Gue gak nyangka ternyata dia bisa melakukan hal senekat itu." gumam Samuel yang memang sedikit mengenal kepribadian Nela, dulu saat kecil tanpa sadar mereka sering berbaur dan bermain bersama, walaupun di antara anak orang kaya dan hanya seorang pembantu,namun tak ada sekat sosial di antara mereka, Namun itu dulu waktu mereka duduk di bangku SD, mungkin saja Gerald pun sudah melupakan kenangan masa kecilnya itu.


"Kita gak ada tau Sam, mungkin aja si bocah bajin*Ngan ini ternyata cuma memberikan keterangan palsu dan hanya menjadikan Nela sebagai kambing hitamnya."


"Bareng sek!" Brandon seketika berdiri tidak terima dengan tudingan Gerald.


"Sudah nak, jangan di teruskan!" Arini segera menangkan putranya.


"Tapi mom, dia yang duluan!" menatap berang ke arah Gerald, sementara pria itu memberikan senyum sinisnya untuk Brandon.


"Udah kamu tahan emosi, nanti setelah kedatangan pembantu itu baru semua jelas," ucap sang mommy menenangkannya.


"Gerald!" Tuan Aryaloka tiba-tiba datang, Arini seketika berdiri karna terkejut, melebarkan mata saking terkejutnya.


Pasalnya setelah masalah ini timbul, baru kali ini dia bertemu kakaknya lagi, Arini mati-matian menghindari kakak laki-lakinya belakangan ini, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi kakaknya nanti.

__ADS_1


"Gerald, Isvara sudah siuman, sebaiknya kau segera ke rumah sakit!"


"Benarkah?!" Gerald teramat senang, wajahnya berseri.


"Benar, cepat temui dia."


Brandon di sana, yang juga mendengar kabar itu entah ikut merasa lega.


"Baiklah." Gerald berbalik. "Sam, gue kesana dulu ya." Samuel mengangguk, mereka memeluk ala jantan, Samuel menepuk sekilas punggung Gerald.


*


*


*


Di rumah sakit, Gerald yang sudah sampai berlari ke ruang di mana Isvara berada. Brakk! ia membuka pintu dengan tidak sabar, di sana sudah ada keluarganya yang sedang mengelilingi brankar sang istri, juga pak Damian dan ayah mertuanya.


Mereka semua terkejut, menatap kedatangan pria itu, Gerald yang juga terkejut perlahan menghampiri dengan nafas terengah-engah.


"Ayah .... " pertama-tama Gerald menghampiri ayah mertuanya, Isvara yang sudah membuka mata juga menatap dengan terheran.


Mereka tersentak ketika Gerald tiba-tiba menekuk lutut di hadapan sang Ayah mertuanya.


"Maafkan saya, saya tidak bisa menepati untuk melindungi Isvara, melindungi putri anda, maafkan saya, ini semua karna saya, saya pantas di hukum," ucapnya lantang seraya menunduk.


Eh? Gerald mendongak.


"Berdiri lah, jangan bersimpuh seperti itu." ayah menepuk kedua pundak Gerald menuntunnya untuk berdiri.


"Tapi .... saya pantas menerima hukuman, karna saya--"


"Ssstt!" ucapan Gerald terpotong, ayah menegakkan bahu Gerald. "Jangan terus menyalahkan dirimu."


"Ayah tau ini semua juga di luar kehendak mu, dan mungkin juga sudah takdir, yang terpenting putri ku dan juga calon cucu-cucu ku baik-baik saja."


Wajah tegang Gerald semula kini berubah melunak, pria itu tersenyum, mengangguk.


"Sekarang temui lah istri mu." ayah menuntun Gerald ke pada Isvara.


Seakan mengerti seluruh anggota keluarga juga satu persatu keluar, memberi ruang untuk kedua insani itu berduaan.


Setelah memastikan semua orang keluar dan pintu tertutup, Gerald perlahan mendekat ke arah brankar.


Mata mereka berdua bertemu, ada pancaran cinta yang begitu dalam di antara keduanya.


"Selamat datang .... suamiku."

__ADS_1


Gerald sedikit terkekeh, karna entah kenapa kini sang istri terlihat sangat menggemaskan Walaupun dengan wajah pucat namun tak mengurangi kecantikannya di mata Gerald.


"Eh, kamu mau ngapain?" Isvara terpekik ketika tubuh Gerald tiba-tiba memaksa untuk berbaring di sampingnya.


"Apalagi? aku sangat merindukanmu." kini Gerald sudah berbaring di samping Isvara, dia sedikit menyamping, menekuk sikut untuk menopang kepalanya. Melihat wajah sang istri dengan puas.


"Tapi gak perlu baring di sini juga, ini ranjang pasien tau."


"Memangnya tidak boleh? aku juga Pasien di sini."


"Eh?"


"Kau tahu kenapa?" Isvara menggeleng atas pertanyaan Gerald itu.


"Karna ini." perlahan tangan Gerald mengambil sebelah tangan Isvara membawanya ke dadanya.


"Karna hatiku sangat sakit, menahan rindu juga kekhawatiran yang mendalam," katanya terdengar lirih, wajah Gerald sungguh tidak di buat-buat, rasanya dia hampir ma ti saat itu juga ketika melihat sang istri yang menderita.


Mereka saling bersitatap beberapa detik, perlahan Gerald mendekat, tangannya ia rentangkan untuk menopang bahu Isvara.


Gerald menarik tengkuk sang istri, mempertemukan bibir mereka, rasanya Gerald teramat rindu dengan rasa manis yang sudah menjadi candunya ini, setelah beberapa saat ciuman mereka terlepas, nafas mereka terengah-engah beradu menjadi satu.


Gerald menarik dagu Isvara agar tatapan mereka bertemu kembali.


"Apa kau tahu betapa gilanya aku saat melihat mu dengan banyak darah saat itu?" lirih Gerald, Isvara sedikit mendongak menatap ke sang suami.


"Maafkan aku, maaf karna ... "


"Sssst!" Gerald menaruh telunjuknya di bibir Isvara.


"Jangan mengatakan itu, harusnya akulah yang minta maaf."


"Maafkan aku, karena gagal menjadi suami yang baik, gagal menjadi calon ayah yang baik."


"Tidak." Isvara segera menyela.


"Kamu tidak pernah gagal. kamu adalah yang terbaik yang aku dan juga anak-anak miliki."


Isvara tersenyum mengusap perutnya, melihat itu Gerald juga mengusap perut sang istri.


Gerald lalu membawa Isvara dalam dekapannya, memeluknya dengan sayang, begitupun Isvara yang mencari tempat ternyaman di dada bidang sang suami, mereka sama-sama menyalurkan kehangatan yang selama ini di rindukan.


"Maafkan aku, aku berjanji kedepannya hal ini tidak akan pernah terjadi lagi.


Cup! Gerald mengecup kening Isvara cukup lama.


"Maafkan aku. aku mencintaimu, sangat, sangat mencintai mu."

__ADS_1


__ADS_2