TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
53. Gerald dan semestanya


__ADS_3

Mr. G? Kenapa pria itu suka sekali memakai istilah nama itu. Isvara sangat tahu, siapa lagi jika bukan Gerald orangnya. Kenapa pula orang ini memakai nomor yang tidak kenal.


Ah, Isvara ingat, sejak awal Isvara memang tidak pernah menyimpan nomornya. Isvara dan Gerald berbalas pesan dan telepon tanpa mau menyimpan nomor masing-masing, atau mungkin hanya dirinya, pria itu mungkin saja sudah menyimpan nomornya.


Kenapa pula dia begitu percaya diri? Isvara menggeleng.Pemikirannya semakin semrawut.


Lebih baik dia mengistirahatkan tubuh, tidur adalah hal yang terbaik.


***


Gerald menunggu kedatangan Isvara keesokan harinya, saat matahari mulai tenggelam, sesuai yang di janjikannya. Rencananya Gerald akan mengajak Isvara menonton film yang sekarang sedang booming. series yang selalu menjadi favorit Gerald sejak dulu yaitu Marvel.


Sementara Isvara di kamarnya mengintip dari balkon melihat ternyata Gerald yang sudah menunggunya. Dia tidak tahu Gerald akan benar-benar dengan Perkataannya. Padahal Isvara saat ini sedang tidak ingin bertemu pria Itu.


Saat mondar-mandir di kamarnya, seseorang mengetuk pintu, Isvara berjalan membukanya.


Ternyata Kayra yang ada di depan pintu.


"Ada apa Kay?" Isvara berusaha untuk tersenyum.


"Kakak kenapa? kaya kaget gitu?" Kayra menatap aneh.


Isvara menggeleng. "Gak apa-apa, Kay ngapain ke sini?"


"Oh ya, Kay mau cerita kak!" gadis berpipi lesung itu langsung melebarkan mata senang, lalu menuntun Isvara untuk duduk di tepian kasur.


"Kenapa? kamu terlihat senang sekali?" tanya Isvara.


"Raka, ngajak aku jalan-jalan," ucap gadis itu, pupil matanya melebar menunjukkan euforia yang tinggi.


"Waaaw, Raka?" Isvara ikut terkejut. "Itu berita yang sangat bagus."


"Ini semua berkat kakak, terimakasih sudah mengantar Kay untuk menemuinya." gadis itu mengenggam erat tangan Isvara.


Isvara tersenyum, mengusap lembut rambutnya. "Kalian pantas bahagia."


"Tapi ... Kay takut, perjodohan yang di lakukan papa akan benar-benar di lakukan." gadis itu terlihat sedikit lesu.


"Kay gak usah khawatir, tentang itu aku bakal berusaha untuk ngomong sama nenek, tidak ada yang bisa memaksakan cinta Kay, perjodohan karna bisnis seharusnya tidak pernah ada."


"Kamu dan Raka berhak atas cinta kalian." Isvara menguatkan genggaman tangan mereka.


Drrrt! Drrrt! ponsel Isvara tiba-tiba berdering, mereka berdua refleks menoleh. Kayra sempat mengintip, nomor yang tidak dikenal? siapa?


"Angkat kak, siapa tahu orang penting," ucap Kayra.

__ADS_1


"Biarin aja," ucap Isvara.


Lalu Isvara bergerak cemas ke arah jendela, apakah Gerald masih menunggunya di bawah?"


"Kenapa kak?" Kayra menyadari kerisauan Isvara.


"Sebenarnya, Gerald mengajakku pergi," Isvara berucap pelan.


"Waaw, benarkah?" Kini giliran Kayra yang terkejut. "Kak Gerald ngajak kak Vara pergi? jalan-jalan maksudnya?"


Isvara mengangguk perlahan, sebenarnya sangat tidak ingin dia mengatakan ini pada Kayra, tapi saat ini hatinya pun tengah gundah.


"Lalu tunggu apa lagi kak? kakak menolaknya?" tanya Kay.


"Gak, hanya saja aku tidak tahu harus memakai baju apa?" ucap Isvara beralibi. sebenarnya dia hanya tak ingin menemui Gerald.


"Oh astaga, hanya karena pakaian? baiklah kalau gitu aku akan mendadani kakak malam ini."


"Eh, gak usah, gak usah repot-repot Kay?" elak Isvara.


"Gak apa-apa, justru aku senang akhirnya ada titik terang di antara hubungan kalian berdua."


Kayra lalu menarik tangan Isvara dan menuntunnya ke kaca rias, Isvara hanya bisa mengikuti keinginan gadis itu.


"Hari ini aku akan menjadi ibu peri yang akan menyulap kakak seperti Cinderella," ucap kayra terkekeh.


Kayra lalu mendadani Isvara dengan make up tipis-tipis, yang membuat aura kecantikannya semakin terpancar.



"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Isvara memandang aneh pada pantulan wajahnya sendiri.


"Tidak,aku hanya memakain make up tipis-tipis agar terlihat fresh, kakak saja yang memang cantik." Kayra tersenyum.


"Terimakasih ya," Isvara ikut tersenyum.


Kayra mengangguk, memegang kedua pundak Isvara lembut. "Ayo kak Gerald sudah menunggu kakak."


***


Isvara berjalan perlahan ke arah Gerald, padahal ini bukan pertama kalinya mereka akan pergi berdua bahkan mereka sudah pernah melakukan kencan, tapi ntah kenapa Isvara selalu canggung.


"Hei, kau menunggu lama?"


Gerald menoleh ke asal suara, tatapannya seketika terpaku, perkataan yang di lontarkan Isvara barusan seperti Dejavu saat mereka pertama kali bertemu.

__ADS_1


Gerald melangkahkan kaki mendekatinya, aroma tubuh Isvara selalu bisa ia rasakan, seperti mempunyai ciri khas sendiri dan membuatnya candu.


"Kau sangat cantik." Entah berapa persen Gerald bisa mengungkapkan betapa cantiknya sang istri, jika perlu dia bisa mengumumkan pada dunia tentang betapa cantiknya semestanya ini.


"Terimakasih, oh ya ini semua berkat Kayra, adikmu penata rias yang bagus."


"Benarkah?" Gerald menaikan satu alisnya. "Syukurlah, dia memang selalu dapat di andalkan."


Isvara menarik sudut bibirnya. "Oh ya, sebenarnya kita mau kemana?"


"Menciptakan banyak kenangan." Gerald menatapnya dalam. "Aku ingin menciptakan banyak kenangan yang indah denganmu."


***


Sebelum ke bioskop Gerald mengajak Isvara ke sebuah kafe tempat kenangan pertama kali mereka bertemu.


Isvara menatap takjub interior kafe ini, sama sekali tak berubah saat terakhir kali ia datang kesini.


"Eh, kenapa kafenya sepi? apa tidak ada pengunjung datang?" tanya Isvara keheranan.


Gerald mengambil tangannya, menuntunnya erat. "Bukan tidak ada pengunjung, tapi aku sengaja memboking seluruh kafe ini agar kita bisa menikmatinya berdua."


"Hah? benarkah? itu pasti sangat mahal," pekik Isvara. "Kau tidak seharusnya melakukan itu."


"Untukmu, bahkan dunia dan seluruh isinya pun bisa ku berikan," bisik pria itu di telinganya.


Isvara diam-diam mengulum senyum malu, tentu saja itu adalah sebuah gombalan, ntah dari mana pria itu mempelajarinya.


"Lihat di sana." Gerald menunjuk sebuah tempat duduk tepat di samping jendela.


"Tempat duduk saat kita baru pertama kali bertemu."


Isvara menoleh, "Kamu masih mengingatnya?"


"Tentu saja semua tentang dirimu selalu tersimpan di sini." Gerald menaruh telapak tangannya di dada kirinya.


Isvara terharu. "Gerald, terimakasih, aku tidak pernah di perlakukan seistimewa ini sebelumnya."


Isvara memeluknya, Gerald cukup terkejut, lalu perlahan pelukan menghangat, Gerald mengusap lembut surai panjang itu.


"Untuk wanita seperti mu semua terasa istimewa,Ra, aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu lagi, maafkan diriku yang dulu," ucap Gerald sedikit berbisik.


Mereka berdua lalu duduk di kursi yang sama saat mereka baru pertama kali bertemu namun kini dengan perasaan yang berbeda.


Terasa hangat dan juga membuat dada mereka berdetak kencang, keduanya saling melempar pandang lalu tersenyum dengan sedikit terkekeh.

__ADS_1


"Aku berjanji Ra, aku akan selalu mempertahankan senyum indah itu dan tidak akan pernah ku biarkan kamu bersedih lagi."


"Karna kamu adalah semesta ku."


__ADS_2