
"Gerald itu sudah pasti kelemahannya adalah Isvara, bagi dia Isvara adalah segala-galanya juga hidupnya."
"Jika kau ingin menghancurkan Gerald, maka Isvara adalah solusinya."
"Kau tahu sekarang jabatannya saja sudah wakil direktur, mungkin tahun depan dia sudah bisa menggantikan ayahnya sebagai pemimpin utama."
"Dan kau yang hanya benalu ini, pasti cepat atau lambat akan tersingkir, apalagi kau tidak punya kedudukan apa-apaan di perusahaan, ck!"
Brandon melamun panjang mengingat kembali perkataan ibunya yang terngiang di otaknya, lalu ia menatap Gerald di sana, yang tampak putus asa dan tidak berdaya, seketika seringai licik terbit di bibirnya.
"Itu tidak akan terjadi mommy, akan ku pastikan Gerald akan menyusul ibunya ke alam baka." batin pria itu.
"SEKARANG APA KEPUTUSAN LO, GERALD!" Brandon berteriak kencang sampai urat-urat lehernya terpampang jelas.
Gerald di depan sana masih terus berfikir, sekarang dia terkepung, dia tidak bisa melakukan tindakan bodoh yang nantinya akan menyakiti sang istri.
"KITA BUAT KESEPAKATAN, BAGAIMANA!" Teriak Gerald, wajahnya menegang karna situasi yang semakin mencekam.
"Lo pengen apa? ngomong sama gue? jangan pake cara pengecut kaya gini!"
"Lo laki apa banci hah?!" Gerald berteriak frustasi, sungguh melihat air mata sang istri membuatnya melemah.
"Gerald,aku mohon, pergi aja dari sini, jangan pedulikan ancaman dia," jerit keras Isvara.
Gerald menggeleng. "Tidak bisa sayang, bagaimana pun kamu harus selamat, walaupun nyawa aku taruhannya."
"Ck! ck! dramatis banget ya kisah cinta Lo berdua!" Brandon menggeleng.
"Sayangnya ini semua akan segera berakhir." pria itu menyeringai lagi.
"Cepat Gerald, solusinya cuma satu peluru ini bakal bersarang di otak istri lo atau bersarang di jantung lo!"
Deg!deg!deg! waktu seakan berhenti berputar, Gerald menatap Lamat pada sang istri, mereka seperti melakukan kontak hati, berbicara lewat tatapan mata.
Di belakang tubuhnya Isvara berusaha untuk melepaskan ikatan yang menjerat tangannya, sekuat tenaga ia berusaha melepaskan tali itu pada tangannya.
"Aku bakal berusaha lepas ikatan ini, kamu bantu aku untuk ulur waktu."
__ADS_1
Begitulah kira-kira perkataan yang coba Isvara jelaskan lewat tatapan matanya, dan ajaibnya Gerald mengerti.
"Baiklah, aku akan mengulur waktu."
Ikatan batin di antara mereka begitu kuat, juga kepercayaan pada satu sama lain.
Gerald lalu menatap Brandon. "Beri gue waktu buat berfikir!"
Brandon mencebik tak senang. "Waktu buat apalagi? apa jangan-jangan lo mau istri lo mati di sini?!"
"Tunggu! tunggu sebentar lagi!" Gerald merentangkan tangannya waspada.
Gerald kembali menatap Isvara, wanitanya itu tersenyum dengan air mata yang mengalir, isyarat jika rencana mereka hampir berhasil.
Kedua insani itu kembali melakukan kontak mata, mereka mengangguk yakin.
Satu!
Dua!
"Sekarang!" Gerald berteriak kencang. bersamaan dengan itu suara pistol berdentum keras berbunyi di atas langit.
Dor!
Dor!
Dor!
Isvara berlari secepat yang dia bisa saat Gerald melepaskan tembakan sebagai pengecoh untuk mereka.
Sementara Brandon yang sadar Isvara sudah kabur darinya, terbelalak dengan raut wajah marah.
"Bang*sat!" tanpa aba-aba lagi, Brandon menarik pelatuknya, memberi tembakan, sasarannya adalah Gerald.
Isvara yang melihat itu buru-buru memeluk tubuh sang suami.
Dor! dor! dor!
__ADS_1
Tiga tembakan mengenai tepat pada Isvara yang menjadi kan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi sang suami.
Gerald mematung,membeku di tempat, suasana menjadi ramai saat sirine kepolisian menggema di sekitar jembatan, tiga mobil polisi datang, keluar dan langsung membekuk para gerombolan anak buah Brandon.
Sedangkan tubuh Brandon bergetar di tempat saat mengetahui dirinya telah menembak Isvara.
Bukan! bukan ini yang dia inginkan! yang di inginkannya adalah kematian Gerald, bukan wanita yang dia cintai.
"Cepat ringkus dia!" dua polisi menghampiri Brandon yang terduduk mengenaskan.
Sementara Gerald mematung dengan ujung mata yang sudah mengeluarkan kristal bening.
Jantungnya seakan berhenti saat ia melihat darah di tangan yang memeluk tubuh sang istri.
Tangannya bergetar hebat, ada begitu banyak darah di sana.
Bagaimana dengan istrinya? bagaimana dengan bayi mereka?!
"Sayang? bangun sayang?" dia merasakan tubuh Isvara yang kaku tak memberikan reaksi.
Ia lalu melihat wajah sang istri yang memucat, matanya seperti akan terpejam.
"Sayang,bangun?!" Gerald menepuk pipi Isvara berkali-kali.
"A-aku s-senang, k-kamu b-baik- baik saja." lirih wanita itu.
Gerald menggeleng, pria itu sudah akan menangis. "Tidak aku tidak ingin kehilanganmu, sayang bangunlah."
"Gerald! cepat bangun! bawa istri mu kerumah sakit!"
Gerald mendongak. "Papah?"
"Cepat Gerald, masih ada waktu, selamat kan istri mu dan anakmu!"
Gerald terdiam sejenak, lalu ia tersadar tanpa berlama-lama lagi dia bangkit mendekap erat tubuh Isvara ke dalam gendongannya.
"Sayang, kamu harus selamat, demi aku demi bayi kita!"
__ADS_1