
"Sayangnya, kau tidak akan bisa melakukan taktik murahan itu!!"
Seseorang muncul di balik pintu belakang Laura, wanita itu terkejut begitupun dengan Samuel yang semakin plonga-plongo.
"S-sayang." Laura sungguh kaget pria itu adalah Gerald. "Kamu ngapain di sini?"
Laura hendak menghampiri lelaki itu, tapi tangannya ditepis kuat oleh Gerald.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, rubah licik!!" sentak Gerald membuat mata terbuka sangat lebar.
"Apa maksudmu?" perempuan itu semakin membulatkan mata dengan keringat dingin yang bercucuran.
Seorang pria datang dengan jas dokternya dan bahkan masih ada stetoskop yang menggantung di lehernya.
"R-ryan? lo ngapain dateng ke sini?" dada Laura semakin berdetak kencang bukan karna sedang berbunga-bunga tapi karna rasa takutnya yang semakin menjadi, dia menelan saliva dengan berat, pisau kater yang di bawanya pun sudah jatuh, saat itulah Samuel mengambilnya agar wanita itu tidak bisa mengancam lagi.
"Apa? kaget lo gue ada di sini?" Ryan yang menjabat sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam itu tersenyum sinis pada wanita di depannya ini.
"Kedatangan gue dan Gerald awalnya ingin menemui Samuel karena gue udah mengungkapkan kebe*jatan kalian berdua ke paketu."
"Haaaah! bisa-bisanya dulu gue sengaja menyembunyikan kebusukan kalian karena tak ingin hubungan Gerald dan Samuel menjadi rusak, tapi setelah gue mengetahui kebohongan keji lo hari ini gue ngungkapin semuanya ke Gerald."
Gerald menoleh memandangnya. "gue tahu selama ini lo diam karena gak ingin hubungan kedua teman lo jadi rusak, thanks Ryan, lo sahabat terbaik gue." Gerald mengatakannya sambil melirik Samuel dan menepuk sebentar bahu Ryan.
"Dan buat lo berdua, gue gak nyangka banget dengan apa yang gue denger dari Ryan."
"Bisa-bisanya cuma gue yang gak sadar sama perselingkuhan kalian, dan sekarang gue yang malah di rugikan sama pernyataan busuk lo itu!"
Laura menggeleng, air matanya sudah akan tumpah. "Rald, ini semua gak benar, kamu jangan percaya dengan omongan Ryan, gimana mungkin aku selingkuh sama bawahan kamu sendiri!" Sementara Samuel hanya diam saja sambil menunduk.
"Lo, masih sempat-sempatnya ngelak ya!!!" Gerald menarik rambut Laura dengan kekesalannya. wanita itu meringis dalam cengkramannya.
"Ger, lo jangan make kekerasan dong!" Samuel tiba-tiba menghampiri, menarik tangan Gerald di kepala Laura.
"Lo!" Gerald meradang seketika. Bugh!bugh! dengan seluruh kekuatannya Gerald memukuli Samuel, hingga pria itu tersungkur. Laura memekik terkejut, Dr. Ryan segera saja melerai. suasana sudah tidak terkendali.
Gerald seperti kerasukan iblis, dia tetap menghantam Samuel dengan kekuatannya, tenaga D.Ryan bahkan tidak bisa menghentikan.
Bugh! bugh! "Kepa*rat! menjijikan, bisa-bisanya selama ini lo nusuk gue dari belakang? lo gak tau perasaan kecewa gue hah?!"
__ADS_1
"Rald! udah, Samuel bisa mati!" Ryan dengan kedua tangannya menahan tubuh Gerald dari belakang, selama berteman dengan Samuel dan Gerald Ryan sering memperhatikan bagaimana Samuel yang menenangkan Gerald saat pria itu sedang marah.
Laura pun tak tinggal diam, sebisanya ia menarik Samuel dan menengahi mereka, namun sayang hal itu malah membuatnya mendapat pukulan tepat di perut oleh tangan besar Gerald.
Samuel melihat itu, meradang seketika, ia bangkit dan balik menyerang Gerald.
"Lo mukul Laura? lo lupa dia lagi ngandung anak gue?!" Samuel dan berdarah-darah kini mulai menjalankan pukulan balik. Namun dasarnya kekuatan mereka tak seimbang, Gerald tetaplah lebih unggul.
"Guys, stop! please stop!" Dr. Ryan yang tak sabaran akhirnya memukul tepat bagian tengkuk Gerald, pria itu seketika melemah.
Tubuh ketiga pria itu jatuh ke bawah, nafas mereka memburu dengan luka di sekujur tubuh,dan yang paling terparah adalah Samuel.
"Bisa gak sih jangan pake ribut fisik? kalian itu bukan anak kecil lagi?!" ujar Ryan yang berjasa besar dalam memisahkan mereka.
Gerald bangkit. "Lo gak tau Ryan apa yang gue rasain sekarang? bertahun-tahun gue di bohongin, gue di khianatin!!"
"Iyah, gue ngerti Rald, tapi bukan begini? kita selesaikan dengan kepala dingin."
Gerald tak mendengarkan perkataan Ryan, matanya yang menyala-nyala menatap penuh amarah kepada Laura yang kini semakin ketakutan.
"Semua ini gara-gara wanita sialan itu!"
"Kita emang gak bisa buat tes DNA sama janin Lo, tapi rekaman suara lo di sini bakal jadi bukti terkuat!" ujar Ryan yang membuat Laura benar-benar kalah telak.
"Kita bakal selesain masalah ini malam ini juga, gue tunggu kedatangan kalian berdua di rumah lo," ucap Gerald pada Laura.
"Ayo Ryan, udah muak banget gue ada di sini!" lalu Gerald berbalik dan melangkah menjauh, Ryan pun hanya geleng-geleng kepala dengan segala drama yang di buat oleh Laura.
***
Setelah kepergian Gerald dan Ryan, Laura langsung menangis histeris, Samuel hanya menatapnya dengan babak belur.
Sejam menangisi nasibnya, ponselnya berdering membuat ketakutannya semakin bertambah. Dan benar saja itu adalah panggilan dari kedua orang tuanya.
Samuel bangkit, pria itu mengusap darah di sudut bibirnya.
"Ayo Lau, kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita selama ini!"
****
__ADS_1
Plaak!
Tamparan yang sangat keras, suaranya begitu nyaring Membuat semua orang yang ada di situ menahan nafas, tertegun.
Yang di tampar tersungkur di lantai dengan mengusap wajah sampai ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Memalukan! Anak bodoh, bagaimana bisa kamu membohongi kita semua hah!" pak Reno yang tak puas melampiaskan kemarahannya, mencengkeram rambut Laura yang kini menangis.
"Bahkan kau hamil sama bawahan orang yang kau tuduh? dan kau sudah selingkuh selama itu? dengan orang yang levelnya lebih rendah dari kekasih mu selama ini?"
"Pak! saya mohon lepaskan!" Samuel berani mendekat memegang tangan pak Reno.
"Apa? mau apa kok hah?!" pak Reno menghempaskan tangan Samuel.
"Setidaknya jangan memakai kekerasan, setidaknya dia masih putri anda?" ucap Samuel dingin.
"Justru karna dia putri saya. saya berhak melakukan apapun padanya!"
"Tapi dia juga wanitaku!" Samuel berteriak lantang. "Dan dia adalah ibu dari anak saya."
Semua terperangah dengan pembelaan yang di lakukan Samuel, pria itu begitu jangan melindungi wanita yang dia cintai. Samuel lalu berdiri di depan Laura melindungi tubuh wanita itu, lalu dia bertekuk lutut di hadapan pak Reno.
"Mohon, jika bapak ingin melampiaskan amarah, lampiaskan saja ke saya!" ucap Samuel dengan arah matanya ke bawah.
Merasa situasi tak akan tenang, tuan Aryaloka maju, mendekati mereka, dan menepuk pundak pak Reno.
"Kekerasan tidak akan menghasilkan apapun, mohon bapak sedikit menurunkan ego,dan kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin!"
"Dan untukmu Samuel, berdirilah." tuan Aryaloka memegang pundak Samuel, menuntunnya berdiri, Samuel menatapnya.
"Kau sudah membuktikan tanggung jawab seorang pria sejati yang sesungguhnya, dengan berani datang kesini,dan bagaimana kau melindungi wanita yang kau cintai, kau tidak berhak untuk bertekuk lutut seperti itu," ucap tuan Aryaloka.
Gerald maju mendekati kerumunan itu. "Aku tidak perduli dan tak ingin terlibat masalah ini, karna bukti-bukti yang sudah terkumpul dari rekaman dan foto-foto juga kesaksian Samuel dan Ryan sudah membuktikan aku tidak terlibat apa-apa dan aku bukanlah ayah biologis dari anak yang di kandung wanita itu."
"Sekarang terserah kalian ingin merundingkan bagaimana lagi, karna sudah bukan urusan ku."
"Dan untuk mu Samuel, hari ini anda secara resmi saya pecat sebagai sekretaris dan orang kepercayaan, adapun pesangon atau gaji silahkan hubungi staff perusahaan."
"Permisi!" Gerald lalu pergi dari sana meninggalkan mereka.
__ADS_1