TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 86


__ADS_3

"ISVARA,KAMU DI MANA SAYANG!"


Gerald menggeram frustasi, ini tidak akan berhasil, bagaimana pun dia tidak bisa menemukan istrinya. seluruh anggota keluarga juga sudah mencari, para orang suruhan Gerald juga sudah menyebar untuk mencari keberadaan sang nyonya, namun tak ada tanda Isvara hilang kemana.


"INI SEMUA GARA-GARA KAU!" Gerald memarahi Andini di depan mukanya, Andini menunduk takut.


"Apa kau tak bisa menjaga nyonyamu hah?!" bentak Gerald yang di kuasai amarah dan cemas.


"M-maaf tuan saya benar-benar tidak tahu kemana nyonya." seluruh tubuh Andini bergetar melihat Gerald marah.


"Maaf! maaf! hanya itu yang bisa kau ucapkan!" hampir melayangkan tangannya karna kesal.


Mahesa yang tak tahan maju untuk melindungi Andini.


"Maaf ka, tapi bisakah kau menahan amarah mu? ini juga bukan sepenuhnya salah Andini." mendorong pelan tubuh Andini agar berlindung di belakangnya.


Gerald membuang nafas kasar, sadar atas apa yang dia lakukan, ia mengusap wajahnya. "Maaf, aku terbawa emosi."


Semua anggota keluarga lalu berunding, para pembantu juga pekerja di rumah ini di kumpulkan untuk menjadi saksi. Mereka di tanyakan satu persatu tentang terakhir kali mereka melihat Isvara.


"Saya benar-benar tidak tahu nyonya, saya dan mbok Minah baru pulang dari pasar sejak pagi tadi, saya terakhir melihat nona muda sedang bersama Andini di ruang tamu," jelas Dewi mengungkapkan kesaksiannya.


"Saya juga tidak tahu pak, saya baru saja mengambil mobil ke bengkel, saat tahu nyonya Isvara hilang," ungkap pak Hasan saat Aryaloka menanyakannya.


Dua pembantu lain dan tukang halaman juga bersaksi hal yang sama mereka tidak melihat tanda-tanda Isvara keluar dari gerbang.


Kini tinggal Nela yang belum di tanyai, Gerald tak yakin pembantu itu tahu, karena sepengetahuannya Nela adalah gadis yang pendiam juga baik. tapi meskipun begitu Gerald tetap menanyakannya.


"Kau, kau tahu kapan terakhir kali melihat istriku?"


Nela berkeringat dingin, gadis itu gemetar. "S-saya tidak tahu tuan."


"Oh ya." seseorang tiba-tiba berceletuk, ia pak Dedi, tukang kebun halaman belakang.


"Bukankah kamu,Nela, yang mengajak nona muda keluar dari gerbang belakang?" ungkapnya.


Seketika Gerald meradang. "Apa itu benar hah?" kau mengajak istri ku keluar dari gerbang belakang?"


Nela menunduk, tubuhnya bergetar karena takut, habislah dia sekarang! kenapa bisa ketahuan secepat ini?


"M-maaf tuan, m-mungkin p-pak Dedi salah lihat." dia masih berusaha berkilah, meskipun sekarang mungkin nyawanya sudah di ujung tanduk.

__ADS_1


"Gak kok, saya gak salah lihat, kamu kenapa berbohong Nela? jelas-jelas kamu toh yang ngajak nona muda pergi," ucap pak Dedi.


"Kau masih mau berbohong hah? jawab cepat!" Gerald kembali membentak, semua pelayan menunduk takut.


Dewi menatap Nela prihatin. "Nela, Nela, kamu sudah keterlaluan." batinnya.


"Cepet jawab Nel, jangan buat tuan Gerald marah," cicit Mbok Minah.


Nela tiba-tiba saja menangis, gadis itu benar-benar menangis histeris membuat semua orang terkejut.


"Maafkan saya tuan, saya mengaku salah, sebenarnya tadi memang niatnya ingin mengajak nona Isvara jalan-jalan, s-saya lengah sehingga nona Isvara tidak ada lagi di sana saat saya tengok."


"Hiks, hiks, maafkan saya tuan maafkan saya."


'Semoga cara ini berhasil' batin Nela.


***


Sementara di ruang gelap itu, terdengar suara orang yang membuka pintu, Isvara menengok ke arah asal suara.


Terdengar suara krasak-krusuk lalu perban di matanya terbuka, Isvara berkedip beberapa kali saat cahaya sinar lampu tiba-tiba menyerang. kain yang mengikat mulutnya pun sudah terlepas.


"Halo, bagaimana kabar mu?"


Pria itu menyeringai. "Ya, ini aku."


"A-apa yang kau lakukan? k-kau yang menculik ku sampai ke sini?"


"Jika iya memangnya kenapa? kau sangat terkejut ya sayang."


Isvara memicingkan matanya. "Bareng sek! apa yang kau inginkan hah!"


"Gampang saja." Brandon mendekatkan tangannya ke wajah Isvara, Isvara memalingkan wajahnya, isyarat tak ingin di sentuh.


"Aku ingin melihat kehancuran suamimu, si Gerald yang sombong itu."


"Kau tahu sayang, aku sangat membenci hari-hari dimana kau bermesraan dengan si breng sek itu."


"Sekarang, jika kau memang tidak untuk ku maka kau tidak boleh di miliki oleh siapapun."


"Apa yang akan--hmmp." sebelum Isvara bisa berkata Brandon sudah lebih dulu kembali menyumpal mulutnya.

__ADS_1


"Sekarang, kita akan saksikan detik-detik kematian suami mu." bisik Brandon.


***


Dan di sinilah Isvara sekarang, berdiri di pinggir jembatan besar yang di bawahnya terdapat sungai yang mengalir langsung terhubung dengan laut, bersama dengan Brandon yang memegang kedua tangannya.


"Sekarang mari kita hubungi suami mu."


"Hmmp-hmpp." Isvara memberontak kedua tangannya di ikat ke belakang.


"Apa? kau ingin bicara sayang?" Brandon melepas kembali kain yang mengikat mulut Isvara.


"Bajingan! apa yang kau rencanakan hah?" teriak Isvara, jembatan ini lenggang tak ada orang yang bisa ia mintai pertolongan.


"Gampang saja, si sombong Gerald itu sangat mencintai mu right? pastinya dia akan mengorbankan hidupnya untuk mu."


Jadi aku menggunakan mu untuk memancingnya kesini, setelah itu syuuung." Brandon menggerakkan tangannya ke bawah jembatan.


"Aku akan menyuruhnya untuk terjun ke bawah sana, atau kau yang akan terjun!"


"Ck,ck, pastinya dia akan mengorbankan dirinya untuk mu."


"Kau tahu sayang, setelah dia ma ti di dalam sungai itu, aku yang akan menggantikannya di perusahaan, aku yang akan menjadi pewaris utama di keluarga wirasena!"


Isvara menggeram kesal. "kau gila! dasar kau psychopat!"


"Anggap lah begitu, setelah dia ma ti kau tentu akan menjadi milikku."


Brandon lalu mengetikkan sebuah pesan dengan menggunakan nomor tidak dikenal yang langsung terkirim pada Gerald.


Gerald di tengah kekalutannya menerima pesan itu langsung membukanya.


'Datanglah ke lokasi ini jika kau ingin bertemu istri mu.'


Lalu muncul sebuah alamat lokasi, Gerald langsung membukanya, bibirnya mengatup dengan dada gemetar tak kalah sebuah foto di kirimkan oleh nomor tidak di kenal itu.


Itu foto istrinya, Isvara terlihat mengenaskan dengan mulut dan tangannya yang terikat.


'Ingat kau hanya boleh datang sendiri, tidak ada polisi tidak ada orang ketiga, atau istrimu akan langsung terjun ke bawah jembatan ini.' pesan kembali masuk.


"Breng sek!" Gerald memaki. bahkan ini sudah akan tengah malam.

__ADS_1


Gerald langsung mengetikkan balasan dengan tangan gemetar.


'Aku akan segera kesana, kalau sampai sesuatu terjadi pada istriku, kau yang akan ma ti.'


__ADS_2