
Sebagai seorang wanita yang hidupnya selalu bergantung, kepergian Samuel sungguh membuat Laura kelimpungan. Wanita yang sudah mulai membesar perutnya itu tak bisa melakukan apapun tanpa pria itu di sampingnya.
Pagi ini semuanya terasa hampa, Laura yang selalu di manjakan dan di perhatikan oleh Samuel, mendadak membeku ketika ia membuka mata pria itu sudah tidak ada di sampingnya.
Laura akhirnya hanya bisa menangis, menangkup wajah dan menahan isakannya agar tidak terdengar.
"Samuel ... Harusnya kamu tidak boleh meninggalkan ku, di mana kamu berada?"
Sementara Samuel sekarang kini sedang berada di gedung pencakar langit, ia menengadah, berusaha menetralkan detak jantung yang kian bertalu-talu.
Sebenarnya,ia pun tak tega meninggalkan Laura sendirian di apartemen, namun seorang pria pun masih mempunyai harga diri yang tinggi,di saat Laura tidak menginginkannya, untuk apa lagi dia berada di sana?
Nyatanya dirinya masih mempunyai gengsi yang tinggi, sekarang ia pun sadar selama ini dia hanya dijadikan budak oleh wanita itu, namun saat itu cinta telah membutakan segalanya, selalu yakin Laura akan berubah membuat Samuel hingga nekat untuk memperjuangkan wanita itu di saat semua orang menentangnya.
Samuel sampai harus mendapatkan caci maki dan pukulan yang begitu telak dari ayah Laura, namun dia bisa melewati itu semua, pun saat semua orang menghakimi mereka, memandang sebelah mata, Samuel tetap memperjuangkan Laura, selalu bersama wanita itu dan memberikannya kenyamanan.
Kini saat perjuangan dan cintanya sia-sia tak ada alasan lagi untuk Samuel bersamanya, untuk apa dia selalu bersama Laura, namun wanita itu sama sekali tidak pernah bahagia bersamanya.
Bukankah cinta itu artinya merelakan, ketika kau jatuh cinta,itu artinya kau juga harus siap untuk merelakan, kini Samuel sedang melakukan itu, mungkin dengan cara melepaskannya, Laura akan mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan.
Membuang nafas, Samuel menguatkan diri. "Ayo Sam, udah saatnya lo berubah!"
***
Laura di kamarnya merasa sangat hampa, ketidak beradaan Samuel saat ini sungguh membuat dunianya seakan berhenti berputar. terkadang wanita itu bisa menangis lalu tertawa sendiri seperti orang kehilangan kewarasan, Laura pada akhirnya berhenti menyakiti dirinya saat merasakan ada pergerakan di dalam perutnya.
Wanita itu terenyuh seketika, menatap nanar dengan bulir-bulir bening yang sudah meluncur bebas di pipinya. Perlahan tangannya tergerak untuk mengusap perut yang sudah membesar itu.
"Kau merindukan ayahmu, hmm?" menunduk, air matanya jatuh mengenai perutnya.
Selama ini ia tidak peduli dengan kandungannya sama sekali, dia ke clubing minum-minuman keras bersama teman-temannya, tanpa memperdulikan janinnya di dalam sana, terkadang ketika dia membenci bayi yang ada di kandungannya ini yang telah membuat hidupnya hancur, Laura akan kehilangan akal dan memukul-mukul perutnya sendiri, sampai Samuel datang dan menghentikannya.
__ADS_1
Samuel sungguh sangat menjaga anak yang di kandungannya ini, namun di saat pria itu tidak ada, untuk apa lagi dia mempertahankannya?
Bug!bug! perlahan namun pasti tangannya terkepal memukul perutnya sendiri seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.
"Pergilah! jangan pernah tumbuh! kau hanya pembawa sial!"
Laura yang mentalnya sedang tidak stabil saat ini memukul-mukul perutnya dengan sangat kencang, namun tidak ada lagi pria sabar yang akan menghentikannya. Tidak ada lagi Samuel yang akan memeluknya dan menenangkannya. tidak ada lagi.
Laura kini mulai merindukan sosok pria itu.
***
Samuel melengkahkan kakinya ke ruang yang akan dia tuju di gedung ini, mungkin ini bisa di di sebut tidak tahu diri, namun Samuel ingin memperbaiki hubungan pertemanannya kembali dengan Gerald.
Semenjak kejadian terbongkarnya semua pengkhianatan nya bersama Laura, Samuel tak pernah lagi melihat Gerald, pria itu kecewa padanya, itu sungguh pasti. Hanya staff kantor saja yang waktu itu menemuinya di apartemen untuk memberitahukan pemecatannya dan uang pesangon.
Kini setelah semua yang terjadi, Samuel mulai menyesal, bahkan dia belum meminta Maaf secara benar pada Gerald. Samuel ingin menebusnya semua sebelum memulai kehidupan barunya.
Tok!tok! perlahan Samuel mengetuk pintu. pria itu mengenggam tangannya yang mulai berkeringat, dan dadanya yang tiba-tiba berdebar.
Terlihat olehnya Gerald yang sedang duduk di kursi kebesarannya, juga seorang wanita yang terlihat terkejut, Samuel yakin wanita itu adalah pengganti dirinya di sini.
"Ini berkas yang anda minta,pak." tanpa mempedulikan Samuel lagi, wanita berkuncir kuda itu menyerahkan map pada Gerald.
Gerald mengangguk. "Terimakasih, kau boleh kembali ke tempat mu."
Wanita itu membungkuk hormat, lalu melenggang pergi dengan suara ketukan high heelsnya yang menggema di lantai marmer itu.
"Ada apa lo ke sini?" suara Gerald terdengar begitu ketus, seakan tak suka akan kehadiran dirinya, bahkan wajah pria itu tertekuk dengan tatapan enggan menatapnya.
Perlahan Samuel mendekat, duduk di salah satu Kursi, menatap ke sekeliling, tak bisa di pungkiri Samuel merindukan tempat kerjanya ini, di saat-saat dia bekerja dengan Gerald, di saat pria itu meminta solusi atas masalahnya dan masih banyak lagi kenangan lainnya.
__ADS_1
Sesak perlahan menghimpit dada Samuel, hidupnya dulu begitu tenang tanpa ada masalah yang serius di antara mereka, bodohnya ia malah mengkhianati kepercayaan sahabatnya ini.
"Bagaimana kabar lo? baik?"
Kepala Gerald perlahan menengadah. "enggak usah berbasa-basi, katakan apa tujuan lo datang kesini?
"Tidak bisakah kita membicarakannya dengan santai, Ger?"
Gerald mendengkus. "Waktu gue sangat berharga, gak bisa di pakai untuk berbicara dengan pengkhianat seperti lo."
Samuel menghela nafas, sudah menebak inilah yang akan di katakan Gerald.
"Kita mengenal bukan sehari dua hari Ger, kita bersahabat itu sudah dari kecil, gue tahu gimana lo dan lo pasti tahu gimana gue, jadi gue mohon kita selesaikan ini dengan baik-baik."
"Apalagi yang harus di selesaikan? gue rasa udah gak ada lagi yang harus di selesaikan, semuanya udah clear!"
"Oh ya, atau lo ingin bercerita gaimana awal pengkhianatan kalian berdua terhadap gue?" pria itu tersenyum remeh. mengingat kembali saat dia bersama Laura dulu dan ternyata sahabatnya sendiri menikungnya saat itu.
"Gue udah gak sama Laura, Ger." ucapan Samuel itu entah kenapa membuat Gerald sedikit tertegun.
"Oh ya? bagus itu karma buat lo, apa karna wanita itu sekarang selingkuh juga dari lo?" entah kenapa ada secuil rasa penasaran di dalam benak Gerald, tentang apa saja yang terjadi di antara mereka berdua selama ini.
Samuel tersenyum kecut. "Tebakan lo bener, Laura selingkuh di belakang gue."
"Dia punya pria lain di hatinya dan selama ini gue di khianati, gue rasa perjuangan gue selama ini sia-sia."
"Oh ya? terus kenapa lo ceritain semua ini ke gue?"
Samuel menoleh, menatap Gerald. "Gue pengen minta maaf sama lo Ger, sebelum gue memulai kehidupan baru,gue pengen minta maaf atas semua kesalahan gue selama ini."
"Gue tahu, bagaimana pun yang namanya perselingkuhan itu gak bisa di maafkan, tapi gue mewakili Laura, ingin meminta maaf sama lo karna pengkhianatan yang kita lakuin berdua."
__ADS_1
"Gue harap lo gak pernah benci ataupun dendam sama Laura, dan setelah ini gue bakal menghilang dari kalian semua untuk selamanya."
"Jadi tolong maafin gue sama Laura, ya Ger."