TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 26 : Ada apa dengan jantungnya?


__ADS_3

Suara alarm keras dengan tiba-tiba membangunkan Isvara.


Isvara terhenyak lalu dengan berat membuka mata. Jam 02:30? Yang benar saja?


Di tatapnya dengan lekat jam weker pemberian pak Tian. Jam weker yang katanya di khususkan untuknya, dengan suara nyaring yang bisa mengalahkan toa masjid, di desain agar Isvara bangun tepat waktu katanya.


Isvara memang sudah tahu dan sudah sangat hafal dia harus bangun lebih awal sebelum Gerald bangun, tapi jam setengah tiga? Ini keterlaluan namanya.


Tak ingin ambil pusing, Isvara malah melanjutkannya tidurnya kembali, menarik kembali selimut untuk menutupi tubuhnya.


Masa bodoh dengan perintah itu, Isvara hanya ingin tidur puas. Karna tidur adalah obat yang terbaik menurutnya, di saat semesta semakin tidak adil padanya.


Hanya dengan tidur lah dia bisa merasakan kebahagiaan walaupun cuma mimpi tapi tetap indah.


Tak terasa Isvara kembali tertidur, waktu terus berjalan, seakan tak ingin menunggunya.


Di dalam kamarnya, Gerald terbangun, yang langsung di lakukannnya adalah menatap ke sekeliling, yang di carinya tidak ada di sini.


"Kemana si bodoh itu? Apa dia lupa dengan tugas pertamanya?" Gerald mengetatkan rahang nya kesal.


"Kurang ajar!" Dengan satu tarikan ia menyibak selimut, berjalan dengan amarah.


Gerald mengambil seember air, melangkah pasti ke kamar Isvara. Dilihatnya seorang gadis yang masih bergelung di selimutnya seperti kepompong ulat besar.


Seketika amarah kembali menguasai, dengan satu ayunan ia menyiram seember air itu pada si kepompong yang masih terlena dalam mimpinya.


Byurrr! Satu ember besar berisi air tersiram pada tubuh Isvara, seketika gadis itu gelagapan.


Ranjang dan selimutnya basah semua dan yang pasti tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut semuanya basah kuyup, Isvara terpaksa untuk bangun, terkejut,lalu mengusap wajahnya


"Enak banget Lo ya, tidur-tiduran di saat gue nyuruh lo buat bangun sebelum gue!"


"G-gerald," Isvara masih mencerna keadaan, ia terlalu kaget atau mungkin sawan.


" Ya ini gue, majikan lo. Gak liat ini jam berapa?"


Isvara seketika melirik jam weker di sampingnya, setengah lima? Ia telat.


"Nyadar lo kalo terlambat, sekarang cepet lakuin tugas lo!" Gerald dengan kasar menarik tangan Isvara hingga mau tak mau gadis itu berdiri.


"Bisa gak sih gak usah narik-narik, aku juga tahu tugas aku."


Emosi Gerald kembali meledak, ia membingkai dagu Isvara dengan tangannya yang kekar.


"Udah bangun lambat, sekarang lo bikin gue marah?!" Matanya melotot tajam.


"Lo mau ayah lo mati di tangan gue?!"


Isvara seketika lemas mendengar kata ayahnya. "Enggak, enggak, baiklah aku akan melakukan tugasku."


Gerald tersenyum puas, ternyata kelemahan gadis itu memang ayahnya, Samuel memang benar, sekarang dia mempunyai kelemahan istri kecilnya ini.


"Cepat lakuin,gue tunggu di kamar!"


***

__ADS_1


Isvara berjalan ragu masuk ke kamar Gerald,ada Dewi di sana yang sedang membersihkan kamar Gerald.


Melihat Isvara yang basah kuyub, Dewi seketika tertegun. "Nona muda kenapa pada basah badannya?"


Dewi hendak menghampiri Isvara namun Gerald lalu berdehem keras.


"Dewi lanjutkan pekerjaan mu."


Dewi menggangguk takut, lalu kembali setelah selesai merapikan kamar tuan mudanya.


"Dan kau," suara Gerald meninggi, "Cepat panaskan air untukku mandi."


Isvara berjalan dengan keadaan belum mengganti pakaiannya yang basah, ia berjalan ke arah bathub yang belum terisi air.


Gerald duduk di ranjangnya dengan menyenderkan punggung dan bersidekap dada, memperhatikan gerak-gerik gadis itu.


"Siapa yang menyuruhmu memakai air di shower?!"


Gerakan tangan Isvara terhenti, apalagi yang salah? Memang harusnya begitu kan? Ia tinggal mengubah setting air ke hangat.


"Panaskan airnya secara manual di atas kompor dengan panci besar, baru pindahkan ke bathub!"


Apa? Isvara tidak salah dengar kan? Yang benar saja.


"Tapi Gerald itu terlalu susah," ucapnya.


"Siapa juga yang menyuruhmu untuk protes! Cepat lakukan, atau kau mau membuatku terlambat?!"


Isvara tak berkata lagi, dengan langkah berat ia menuju pantry. dengan bersusah payah memindahkan air dari kamar mandi ke panci besar dan memasaknya di atas kompor.


Mbok Minah melihatnya, menghampiri. "Nona muda lagi ngapain?"


"Buat siapa non?"


"Gerald," ia menjawab singkat, rasanya malas menyebut nama pria itu.


Mbok Minah menatap sendu, ia tahu selama ini tentang penderitaan Isvara, wanita dengan keriput di wajahnya itu mengerti pasti gadis malang sedang di kerjai oleh tuan mudanya.


"Nona muda yang sabar ya," ucapnya seakan menyalurkan simpati.


Isvara mengangguk. "Enggeh, mboh."


***


Isvara dengan jalan tertatih-tatih, mengangkat panci besar berisi air hangat untuk pria arogan itu mandi, ia melakukannya dengan ekstra hati-hati, agar cipratan air panas itu tidak mengenal dirinya.


Ini sungguh berat, Isvara hampir kewalahan membawanya ke kamar Gerald. belum lagi ia baru saja bangun, tenaganya belum begitu terkumpul.


Akhirnya setelah sekuat tenaga yang dia punya Isvara berhasil sampai menuju bathub yang pintu kamar mandinya terbuka.


"Ukhhh, berat banget," rintihannya saat memindahkan air hangat sepanci besar itu kedalam bathub yang kosong.


Sementara Gerald tersenyum puas melihatnya, kenapa tidak dari dulu saja dia melakukan ini? Melihat penderitaan gadis itu ternyata memberikan kesenangan tersendiri untuknya.


Gerald bangkit dari tempat tidur dan menghampirinya, "Sudah selesai? kenapa lelet sekali."

__ADS_1


"Ini berat," sahutnya memijit tangan yang terasa sangat kebas.


"Sedikit sekali airnya, cepat bikin lagi," protes Gerald menengok.


"Hah? tapi ini sudah banyak Gerald."


"Kau berani membantah!"


Isvara menghela nafas berat, lalu dengan terpaksa berbalik untuk memanaskan air kembali. Gerald dengan seringai berjalan kembali dan duduk di tepian ranjang.


Menonton penderitaan gadis itu sungguh mengasyikkan untuknya ternyata.


Isvara kembali memindahkan air dari kamar mandi ke panci besar lalu kembali memasaknya, ia lakukan semua itu dengan hati yang berat, berharap jika air mendidih ini bisa merebus pria kejam itu.


Setelah hangat ia memindahkan ke panci besar dan mengangkatnya. Raganya sudah sangat letih, tubuhnya yang semula basah pun kini sudah mulai mengering.


"Awww ... " Isvara tiba-tiba mendesis membuat panci besar itu jatuh, di Pegagnya erat pergelangan tangan yang terasa sangat menyakitkan.


Isvara hampir menangis, namun ia tahan. ia lupa Jika tangan kirinya terkilir karna ulah Gerald kemarin, dan rasa sakitnya kembali datang.


Ia tak kuat mengangkat panci ini, hingga akhirnya Isvara putus asa memilih untuk mendorong panci dengan sebelah tangannya tidak perduli walaupun airnya berkurang karna berhamburan.


Setelah melewati rintangan yang cukup menyakitkan kini air hangat berisi panci itu sudah berpindah ke dalam bathub.


"Sekarang sudah terisi penuh kan? kalau begitu aku permisi."


"Tunggu! siapa yang menyuruhmu untuk pergi?"


Isvara menghela nafas jengah. "Apa lagi?" ia berusaha meredam emosi.


"Berdiri di situ sampai aku selesai mandi," ucap pria itu.


"Tapi--"


"Siapkan pakaian kantor ku!" Gerald memotong ucapan Isvara.


Isvara hanya bisa membuang nafas, pasrah. perlahan ia berjalan untuk menyiapkan baju pria itu.


Gerald memperhatikan, Isvara melangkah dengan sangat pelan, seperti gadis itu sedang menahan sakit mendalam, melihat itu Gerald sedikit tercubit.


Apa dirinya terlalu kasar? tidak memang beginilah seharusnya. tujuannya memang ingin terus menyiksanya kan.


Tak mau ambil pusing, Gerald membuka kaos hitamnya,bersiap untuk mandi.


Sedangkan Isvara karna tak melihat langkahnya, ia terpeleset cipratan air di lantai hingga membuat tubuhnya tak seimbang.


Gerald menyadari itu langsung menggamit lengannya, namun karna posisi mereka tak mengenakkan, keduanya refleks jatuh bersama, tubuh Gerald membentur lantai, menahan tubuh Isvara di atasnya agar tidak terluka.


Mereka berdua terjatuh terlentang, karna menahan bobot tubuh Isvara, Gerald sontak meringis, namun ia terkejut karna Isvara memeluk punggungnya dengan erat.


Gerald sedikit menekuk leher, demi melihat wajah cantik yang memejamkan mata, khawatir.


"Aku takut ... " gumam Isvara tak sadar.


Gerald mengerjap beberapa kali, lalu kedua tangan kokoh pria itu melingkar di pinggang Isvara, membalas pelukan gadis itu.

__ADS_1


Deg, deg! kenapa dadanya tiba-tiba berdebar.


Kenapa ini? ada apa dengan jantungnya?


__ADS_2