TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab 39 : Tawaran dari Brandon


__ADS_3

Awan hitam mewarnai perjalanan Gerald menuju rumah sakit. Nafasnya seakan tercekat, dengan aliran darah yang tiba-tiba membeku dalam dirinya.


Bahkan dia belum meminta maaf kepada Isvara. Dia tidak akan membiarkan istrinya terluka, jika perlu dia akan menukar seluruh hidupnya untuk Isvara agar gadis itu tetap baik-baik saja.


"Tuhan,tolong lindungi dia ... " Gumamnya.


Mobil Fortuner milik Gerald sampai di pelataran rumah sakit. Dengan dada berdebar dan kecemasan yang semakin meningkat, ia sedikit mempercepat langkah mencari tempat Isvara di tangani.


"Isvara!" dia membuka pintu ruangan yang di tunjukkan suster.


Blank! seketika Gerald terdiam, di sana ia menyaksikan pemandangan yang cukup menyakitkan.


Mahesa ada di sana duduk di samping brankar Isvara sambil mengusap kening gadis itu.


Perasaan apa ini? perasaan yang tiba-tiba tidak mengenakkan. darahnya seakan berdesir dan tubuhnya menegang kaku. seperti ada bara api yang membakar hatinya kini.


"Kau sudah datang?" Mahesa menoleh menyadari keberadaan Gerald.


"Kenapa dengan gadis itu?" Gerald mendadak berkata dingin, kekhawatiran yang begitu besar tadi seperti menguap begitu saja, tergantikan dengan kecemburuan yang timbul.


"Isvara tadi tidak sengaja terserempet mobil, kepalanya terbentur aspal jalan, tapi untunglah tidak mengenai organ vital." tutur Mahesa, menatap gadis yang kini tengah memejamkan mata.


"Menyusahkan, kupikir dia kenapa-napa," ucap Gerald, pandangannya masih tertuju pada tangan Mahesa di atas kening wanita itu.


"Setidaknya kau harus tahu keadaannya, papah menitipkan Isvara padamu." Mahesa menatap tajam.


"Kalau begitu kau saja yang menjaganya, gadis lemah seperti dia hanya menyusahkan orang saja!" matanya memicing menatap Isvara.


Gerald seperti memiliki dua kepribadian, baru saja ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyakiti Isvara lagi, namun melihat gadis itu dengan lelaki lain, membuat amarahnya kembali menyala dan menyakiti gadis itu menjadi pelampiasannya.


Egonya dan perasaannya pada Isvara selalu bertentangan.


Gerald!" desis Mahesa membuat Isvara seketika membuka mata.


Kedua Pria itu memperhatikan pergerakan Isvara, Mahesa membantunya bangun memegang kedua bahu gadis itu. Membuat Gerald kecemburuan Gerald semakin menjadi, pria itu mengeratkan pegangannya pada kenop pintu.


"Kau urus saja wanita itu, aku tidak mau terlibat apapun dengannya!"


Setelah mengatakan itu Gerald pergi, meninggalkan kebisuan panjang antara Isvara dan Mahesa.


"Kau lihat? dia bahkan tidak perduli sama sekali, Gerald tidak akan pernah berubah Isvara," ucap Mahesa.


Sebelum kecelakaan menimpanya, Isvara memang bercerita tentang permohonan Gerald yang ingin berubah untuknya. namun semua kepercayaan yang berusaha Isvara bangun seketika sirna dengan perkataan pria itu.


"Kau benar." Isvara menudunduk. "Apa memang ini saatnya perpisahan?"


Mahesa Menghela nafas, mengenggam tangan gadis itu. "Perceraian di antara kalian itu memang harus, aku akan membantumu untuk berbicara dengan nenek dan papa nanti."


***


Gerald menaikkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya sekarang berkecamuk, amarah, cemburu seakan menjadi satu, dan itu membuat kepalanya seakan ingin pecah.

__ADS_1


"Pantas, pantas saja dia tidak memberikan ku kesempatan kedua, ternyata memang sudah ada pria lain di sisinya!"


"Sial, sial! Isvara kenapa kau melakukan ini padaku!"


Sudut matanya tiba-tiba berair. padahal ia ingin sekali berada di dekat sang istri saat ini, seharusnya dia yang mengusap kening Isvara, bukan pria lain.


"Kenapa! kenapa!" Bersamaan dengan teriakan Gerald, sebuah mobil tiba-tiba menghadang kencang menghalangi mobilnya.


Ckittt! Gerald mengerem laju mobilnya dengan sekuat tenaga, kepalanya hampir terbentur stir mobil.


"Bedeb*h! siapa yang menghalangi jalanku!" Gerald mendesis tajam lalu keluar dengan langkah kesal.


Namun seseorang di dalam mobil itu tiba-tiba keluar, Membuat Gerald terbelakak.


"Laura .... "


Laura tiba-tiba mendekat dan memeluk Gerald membuat pria itu semakin terkejut.


"Sayang, aku sangat merindukanmu."


Gerald yang risih segera saja mendorong tubuh wanita itu. "Lepaskan! apa-apaan kau!"


Mata Laura berkaca-kaca. "Kenapa kamu jadi kasar banget sih Rald!"


"Mana Gerald yang aku kenal dulu? kamu cepet banget berubah!"


Gerald menghela nafas jengah, masalah apa lagi sekarang?


Laura menggeleng. "Enggak, enggak aku gak mau pisah dari kamu. bahkan ini belum enam bulan Gerald, kenapa kamu berubah secepat ini?"


.


Gerald membuang nafas kasar, "Begini, aku memang salah telah memberikan mu sebuah harapan tanpa berfikir panjang dulu, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi."


"Kenapa Gerald, kenapa kamu jadi begini?" Laura menangis, dia tidak peduli jika ini adalah tempat umum, ketakutan jika Gerald benar-benar akan meninggalkannya jauh lebih besar.


"Ingat, kita sudah berjanji untuk melakukan pernikahan di Istanbul, kota penuh kenangan hubungan kita, lalu mempunyai dua anak dan membeli sebuah rumah di sana dan hidup bahagia, kemana semua janji itu Gerald, kemana?!"


Laura menangis histeris, sudah tidak perduli jika ada orang yang mengenalinya dan merekam semua ini, juga tidak perduli jika semua ini akan mengancam kariernya. Yang terpenting sekarang ia harus menyelamatkan hubungannya dengan pria ini.


"Gerald katakan kamu masih sangat mencintai ku, iya kan?" Laura mengusap leher pria itu juga pundak lebarnya.


Sayangnya Gerald menggeleng, menyingkirkan tangan wanita itu. "Tidak! selama ini aku sudah menyadari, perasaan ku padamu bukanlah cinta rapi hanya obsesi semata.*


"Jadi lupakan aku!" Setelah itu Gerald berbalik meninggalkan Laura yang terisak mengenaskan.


Bahkan saat pria itu sudah mengendarai mobilnya Laura tetap berlari mengejarnya.


"Gerald! kumohon Gerald, jangan tinggalkan aku!" Isakan Laura semakin kencang saat mobil Gerald sudah berlalu menjauh.


Kenangan enam tahun hubungan mereka bahkan tidak berarti apa-apa bagi pria itu.

__ADS_1


"Gerald, aku tidak akan membiarkan mu pergi."


***


Mahesa dan Isvara kembali kerumah saat dokter sudah mengijinkan mereka pulang.


Selama masa pemulihannya, selalu ada Mahesa di sisinya Membuat Isvara bersyukur masih ada orang-orang baik di sekitarnya.


"Kamu mau makan sesuatu atau minum sesuatu?" tanya Mahesa saat mendudukkan Isvara di sofa.


Isvara menggeleng. "Tidak perlu, makasih ya." gadis itu tersenyum.


"Harusnya kamu juga tidak sampai harus menbawaku ke rumah sakit, padahal hanya luka ringan."


Mahesa menatapnya. "Luka ringan apanya, bahkan kamu tadi pingsan, jangan meremehkan luka sekecil apapun.*


"Terimakasih ya, kamu selalu menyelamatkan ku, sepertinya yang di katakan Gerald memang benar, aku hanya gadis lemah yang menyusahkan."


"Hei, jangan berbicara seperti itu, tidak ada yang kamu susahkan di sini."


"Berhenti memikirkan macam-macam, dan istirahat lah." Mahesa mengusap rambutnya.


Isvara mengangguk. "Baiklah." lalu tersenyum.


***


Gerald bertemu Brandon di Perusahaan, pria itu menunggunya di ruang tempat menunggu tamu.


"Akhirnya lo datang juga." Brandon tersenyum,lalu Pria itu berdiri dari duduknya.


"Ngapain lo kesini?" Gerald menatap tajam, kemarahannya sejak tadi masih belum sirna.


"Santai dong, duduk dulu, kita ngobrol-ngobrol dikit." Brandon menuntunnya hingga Gerald mau duduk di sampingnya.


Menghadapi Gerald yang mempunyai trempramen buruk memang harus penuh kesabaran, pikir Brandon.


"Gue mau ngajakin lo balap motor,kalau lo setuju kita datang ke tempat biasa."


Gerald mengernyit. "Gak. Lo bodoh atau gimana? kita bukan anak muda lagi yang ngelakuin hal kaya gitu."


Memang dulu Gerald, Samuel dan Brandon selalu melakukan balap liar, clubing, bahkan bermain judi, tapi itu dulu, sekarang Gerald sudah meninggalkan semua sejak lama semenjak sang ayah membebaninya dengan tugas perusahaan.


Ah, Gerald jadi bernostalgia dengan kenangannya bersama dua kacung itu dan Laura saat kuliah dulu.


"Alah, lo kenapa sih? umur kita masih 25 tahun gak tua-tua amat, bahkan masih sangat muda, mencari kesenangan bukan hal yang salah."


"Kali ini gue punya penawaran bagus," ucapnya terlihat meyakinkan.


"Apa?" dan berhasil Gerald menjadi sedikit Brandon menyeringai,ia tahu sejak dulu Gerald memang tidak akan pernah bisa lepas dari hal-hal seperti ini.


"Gimana kalau kita jadikan Isvara sebagai taruhan," ucap Brandon dengan entengnya.

__ADS_1


"Kalau lo menang gue sarahin seluruh saham dan warisan gue, kalau gue yang menang Isvara jadi milik gue."


__ADS_2