
Pagi menyapa, udara begitu lembab disertai hawa dingin yang sedikit menusuk kulit. Sisa-sisa air hujan masih membayang di atmosfer bumi, aroma tanah basah begitu khas menguar bersama udara.
Di kamar hotel mereka, Gerald dan Isvara masih nyaman tertidur di lantai yang mulai dingin kini, rasa hangat menjalari tubuh mereka karna pelukan yang semakin erat.
Gerald membuka matanya perlahan karna terusik dengan rasa pegal yang tiba-tiba datang, lengannya kini terasa keram karna semalaman di jadikan bantal untuk istrinya.
Sementara Isvara masih terlelap nyenyak tak terganggu sedikit pun, sejujurnya Gerald tak ingin membangunkan istri kecilnya ini, namun lantai yang semakin dingin membuat Gerald khawatir, apalagi kaki gadis itu telanjang karna hanya memakai kemeja pemberiannya saja.
Gerald mendekat, perlahan ia menciumi setiap inci wajah sang istri, agar gadis itu terbangun, sehingga dia bisa pindah ke atas kasur.
Isvara yang merasakan benda kenyal di wajahnya itu perlahan membuka mata, menggeliat sejenak.
"Kau sudah bangun?" Suara Gerald begitu seksi terdengar di telinganya.
Oh ayolah, dia kan sudah membuka mata, kenapa pria ini malah bertanya?
"Tidur mu nyenyak?" Gerald kembali bertanya, dengan suara seraknya khas orang yang baru bangun tidur.
Isvara menggeleng lucu. "Tidak, badan ku pegal-pegal, kamu memeluk ku terlalu erat."
"Hmm, benarkah?" Gerald memandang wajah nyeleneh.
Isvara mengangguk lalu tertawa kecil. Gerald kini malah kembali mendekapnya, siku pria itu di tekuk untuk menopang kepalanya.
"Itu karena tubuhmu yang mungil sangat pas untuk di peluk, biarkan aku mendekap mu lagi." Gerald mendekatkan wajahnya lalu melayangkan satu kecupan di bibir ranum itu.
Isvara tersenyum malu-malu. lalu ia menarik diri dan bangun dari lantai dingin itu, Gerald pun mengikuti langkahnya.
"Bagian terbaik dari bangun tidur adalah mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan."
Gerald mengikuti apa yang dilakukan Isvara, pria itu mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan sesuai instruksi sang istri. Dan rasanya benar-benar sangat menyegarkan seolah pasokan oksigen telah terganti dengan yang lebih baik.
Lalu Isvara berdiri, berjalan ke arah kamar mandi sementara Gerald duduk di tepian kasur dan menelpon seseorang.
"Awww!" suara jeritan Isvara mendadak terdengar dari dalam kamar mandi Membuat Gerald langsung berjalan menghampirinya, ponselnya terlempar entah kemana sebelum ia menelpon.
"Ada apa?" tanya Gerald khawatir, matanya lalu melebar melihat Isvara yang terduduk mengenaskan.
"Lantai kamar mandi ini sangat licin, aku jadi terpeleset." Isvara meringis.
Gerald segera membantunya, mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya dalam gendongan. Entah kenapa tiba-tiba ada yang menegang di bawah sana saat bahu mulus seputih salju itu terekspos jelas, lehernya yang putih kemerahan itu sungguh menggoda iman Gerald saat ini.
__ADS_1
Dari awal mereka hanya berduaan di dalam kamar yang sama adalah kesalahan, dirinya juga seorang pria tulen yang sangat bisa terangsang,namun Gerald sekuat tenaga menahan gejolak itu semua karna tak ingin menyakiti Isvara.
"Gerald kamu kenapa?" Isvara bertanya heran, terlebih wajah Gerald terlihat memerah saat ini.
"Uhmm, sebaiknya kamu turunkan aku saja."
Gerald mengangguk lalu mulai menurunkan tubuh Isvara pelan-pelan, namun sebelum Isvara bergerak, Gerald sudah lebih dulu mengukung gadis itu hingga membentur tembok.
"G-gerald, apa yang kamu lakukan?" Isvara bisa menatap ekspresi Gerald yang berubah, matanya yang kelam kini lebih menajam.
Tak mengindahkan ucapan Isvara, ujung jempol Gerald bergerak mengusap lembut bibir Isvara yang kini terlihat penuh dan memerah. Isvara menjadi merinding, di tatapnya wajah Gerald yang seperti menahan sesuatu, ia mengusap rahang kokohnya dan mendaratkan beberapa kecupan di sana.
Gerald lalu mendekat, mempertemukan kembali bibir mereka, tangannya menekan lembut tengkuk Isvara dan lebih memperdalam ciuman mereka.
Suara nyaring terdengar saat penyatuan bibir itu menggema di sekitar kamar mandi. Gerald tak memberikan jeda untuk Isvara mengambil nafas, ia terus menekan, menuntut, menelusup ke rongga mulut gadis itu dan menautkan lidah mereka.
Isvara benar-benar di buat kewalahan, tangannya mencengkram erat pinggang pria itu, rasa hangat yang yang menjalar membuat tubuhnya seperti membeku, ciuman yang di berikan Gerald sungguh memabukkannya.
Gerald menarik diri membuat penyatuan bibir mereka terlepas, mengusap bibir Isvara yang kini semakin memerah dan membengkak.
Tangan kekarnya lalu menelusuri ceruk leher Isvara, mengusapnya lembut lalu bibirnya mendarat di sana, memberikan beberapa tanda merah kepemilikannya.
Pandangan Isvara mengabur, di cengkramannya kuat-kuat bahu Gerald, sapuan lembut dan hangat bibir Gerald di lehernya membuat Isvara tak bisa berkutik.
"G-gerald, tunggu!" Isvara berucap parau, ia berusaha menghentikannya sebelum berbuat lebih.
Gerald terpaksa menghentikan kegiatannya, dia mendesis karna sesuatu di bawah sana sudah mengeras dan menuntut lebih.
Gerald memandangnya, Isvara menatap lemah melihat wajah Gerald yang sudah di penuhi kabut gairah.
"Jangan sekarang, ku mohon." Isvara membingkai rahang Gerald dengan tangannya yang mungil.
"Aku ingin kita melakukannya saat sudah ada cinta di dalamnya."
"Kenapa? apa cintaku saja belum cukup?"
Isvara menunduk lemah. "Maafkan aku Gerald."
Gerald mengerti lalu pria mendesah pelan, kembali menegakkan tubuhnya, Pria itu mengangguk-angguk pelan dan langsung pergi dari sana meninggalkan Isvara yang di rundung rasa bersalah.
"Nyatanya kau tidak akan pernah membuka hati untuk ku." pria itu memunggungi Isvara.
__ADS_1
Isvara menggeleng lemah, lalu berlari langsung menghambur memeluk Gerald dari belakang. Mereka terdiam bisu, namun seperkian detik berikutnya Gerald berbalik dan menatapku Isvara yabg kini menitikkan air mata.
"Apa kau sungguh-sungguh tidak akan membuka hatimu untuk ku?" tanya pria itu.
Isvara lagi-lagi menggeleng. "bukan seperti itu tapi aku masih bingung dengan perasaanku."
"Jangan menangis." Gerald menyeka pipinya. "Aku tidak akan memaksamu."
"Gerald apa ini bisa di sebut cinta? saat aku yang cemburu saat melihatmu dengan Laura atau dengan wanita lain, saat aku mengingat mu di setiap detik nafas yang ku hembuskan, saat aku merasa aman berada di sisimu, saat aku merasakan kehangatan atas semua yang kamu berikan, apa itu bisa di katakan cinta?" Isvara terisak pelan.
"Aku tidak tahu, tapi yang kau rasakan adalah rasa yang ku rasakan saat ini." Gerald menangkup wajah mungil Isvara.
"Gerald aku mencintaimu." Isvara berkata mantap lalu melambungkan kecupan di sana.
Gerald sedikit tertegun sejenak, lalu dia merengkuh kembali tengkuk Isvara, memperdalam ciuman mereka.
Tautan bibir mereka terlepas, nafas mereka terengah-engah, Gerald mengusap pipi sang istri dengan sayang.
"I love you," kata Gerald.
"I love you to!" ucap Isvara.
Mereka sama-sama terdiam. "Jika kamu ingin melakukannya maka aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya, karna sekarang hatiku pun sudah menjadi milik mu." bisik Isvara.
Gerald menatapnya dengan tatapan penuh cinta, pria itu lalu mengulas senyum tipis lalu kembali mempertemukan bibir mereka, menyesap, mel*mat lebih dalam dan penuh gairah.
Gerald lalu mengangkat tubuh Isvara dalam dekapannya tanpa melepaskan ciuman mereka, Isvara dengan refleks mengalungkan tangannya di leher pria itu.
Lalu Gerald dengan hati-hati membaringkan tubuh Isvara di atas kasur, membuka satu persatu kancing gadis itu dan menelusuri setiap jengkal kulit mulusnya.
Isvara tanpa sadar mengeluarkan suara yang menurutnya sangat aneh, namun hal itu malah semakin membangkitkan hasrat Gerald yang menggelora.
Gerald dengan terpaksa menarik diri melepaskan sejenak tautan bibir mereka, lalu dia membuka kaos hitamnya hingga teronggok mengenaskan di lantai z pun dengan kemeja yang di kenakan Isvara yang dengan satu gerakan terlepas dari tubuh gadis itu.
Gerald terpesona ketika melihat tubuh polos Isvara yang kini tanpa sehelai benang pun yang menempel.
"jangan terus memandangku seperti itu," ucap Isvara bersemu malu.
"Kau sangat cantik." puji Gerald lalu dengan perlahan mendekatkan tubuhnya pada Isvara.
Gerald kembali menyapu setiap jengkal kulit mulus itu dan berbisik di daun telinga Isvara.
__ADS_1
"Jika nanti sedikit menyakitkan, berteriak lah, karna aku tidak mampu berhenti setelah ini."