
Film yang di putar berakhir, Gerald dan Isvara masih diam menikmati setiap detik arus film yang membuat mereka tenggelam.
"Kau tahu apa yang di ucapkan Dr. stranger tadi?" Gerald menceletuk.
Lalu pria itu menoleh menatap dalam dan teduh pada sang istri.
"I love you in every universe," ucap Gerald dengan suara berat dan penuh kesungguhan.
"Aku mencintaimu di setiap alam semesta."
Isvara tertegun, di tatapnya manik coklat terang milik suaminya ini, mata yang kini di penuhi dengan kilatan cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya.
Orang bilang kamu akan jatuh cinta saat menatap matanya? tapi untuk Isvara mata indah Gerald adalah sihir yang menjadi sebuah bencana untuknya.
Pendiriannya untuk tidak mencintai pria ini sekarang mulai goyah, rasa yang di berikan Gerald seakan memabukkannya,dan membuatnya terlena.
"Gerald." Isvara memanggil pelan.
"Ya?" Gerald yang hendak berdiri pun kembali duduk.
"Terimakasih ya, untuk semuanya." Isvara menarik kedua sudut bibirnya menciptakan lengkungan senyum tulus hingga matanya pun ikut menyipit membentuk bulan sabit.
Gerald mengambil telapak tangannya dan menaruhnya di wajah. "Kau akan selalu menjadi bagian yang terbaik dalam hidupku."
***
Seusai menonton film, keduanya berjalan ke arah parkiran bioskop,namun dengan tiba-tiba tetes air hujan datang Membuat mereka terkejut.
Gerald membuka jaketnya dan menyampirkannya di atas kepala Isvara, mereka berdua menembus hujan berjalan cepat ke arah mobil.
"Sepertinya akan ada hujan badai," ucap Gerald melihat angin yang begitu kencang dari kaca mobil.
"Apa kita sebaiknya cepat pulang?" tanya Isvara yang mulai khawatir, pakaian mereka sedikit basah karna terkena air hujan tadi.
Kepala Gerald mengangguk. "Iya sebaiknya kita cepat pulang, sebelum angin semakin besar."
Mobil lalu melaju pelan meninggalkan area parkiran, dari kaca mobil bisa dilihat oleh Isvara orang-orang yang berlalu lalang berlarian melindungi diri dari hujan. Menghela nafas berat, Isvara menyadarkan punggungnya di jok mobil.
Gerald yang sedang menyetir sesekali menatapnya. "Kamu tidak apa-apa? ada yang terasa sakit?"
"Tidak, hanya saja hujan semakin lebat, aku kasihan melihat orang-orang yang hendak berteduh di luar sana."
Gerald malah terkekeh, lucu sekali istrinya ini, dia malah lebih mengkhawatirkan orang lain, di banding dirinya yang bisa saja terserang demam, salah satu sifat yang Gerald suka dari gadis itu.
Gerald menepuk-nepuk pucuk kepalanya. "Kamu sangat lucu. keringkan rambut mu dulu, ada handuk di belakang?"
Isvara mengangguk, mulai melakukan apa yang di suruh Gerald, riasannya yang sedikit luntur pun ia lap dengan tisu basah yang tersedia di mobil.
Brakk! tiba-tiba mobil mengerem mendadak. Tubuh mereka terhempas ke belakang, keduanya sama-sama kaget.
"Ada apa?" seru Isvara.
Pintu mobil di ketuk dari luar, Gerald lalu membuka jendela kacanya setengah.
__ADS_1
"Pak sebaiknya anda jangan Lewat jalan sini, ada pohon tua yang tiba-tiba roboh di terpa angin, anda harus putar balik Karna jalanan di sini rusak," tutur seorang pria yang memakai seragam keamanan pada Gerald.
Gerald mendesah pelan, lalu menatap jalan yang kini ramai dan berpalang. "Baiklah, terimakasih pak."
"Ada apa?" tanya Isvara.
"Kita tidak bisa lewat sini, kau lihat di depan sana, jalanan rusak karena ada pohon besar yang roboh," ujar Gerald menunjukkan pada Isvara.
"Lalu bagaimana?" Isvara menatap cemas.
"Terpaksa kita harus putar balik." Gerald menyugar rambutnya yang basah.
"Tapi apa ada jalan pintas atau jalan tikus yang bisa kita lalui?" tanya Isvara.
"Ada, kamu tidak usah khawatir." di usapnya pipi Isvara. "
Gerald lalu memutar balik kendaraannya menuju jalan tikus yang di maksud, namun saat sampai sana lagi-lagi kekecewaan harus mereka terima, jalan itu tiba-tiba buntu, terhalang beberapa terpal dan palang.
Seseorang melambai menggunakan jas hujannya, mendekati mobil mereka, Gerald menurunkan setengah kaca mobilnya.
"Jalan di sini sedang di perbaiki, tidak bisa di lewati pak," info pria itu.
Gerald lagi-lagi mengangguk. "Terimakasih."
"Kenapa?" tanya Isvara khawatir.
"Jalan ini pun tidak bisa di lalui, kita harus kembali ke awal."
"Tapi hujan semakin lebat." kata Isvara berkerut dalam. "Aku ... takut." Isvara melihat cemas angin yang semakin kencang.
"Gerald." Isvara menyebut namanya hampir tak terdengar.
"Kamu percaya kan padaku?" tanya Gerald, Isvara mengangguk.
"Jadi jangan khawatir, aku akan selalu melindungi mu." keduanya saling menatap sebentar, Gerald mengusap lembut bibir mungil yang sudah pucat itu.
Pria itu lalu kembali menegakkan badannya. "Sebaiknya kita mencari hotel di sekitar sini, tidak ada cara lain lagi."
***
Sepuluh menit berkendara,mobil Gerald akhirnya mendarat di sebuah pelataran hotel yang kini sudah terlihat sepi, angin yang kencang tampak memporak-porandakan properti yang ada di depannya.
Mobil Gerald masuk ke dalam parkiran yang tersedia, lalu beberapa menit berselang mereka keluar, Gerald menggandeng tangan Isvara, mereka masuk menuju resepsionis hotel.
"Gerald tunggu!" Isvara menghentikan langkah mereka.
"Kenapa?" tanya Gerald tangan sebelahnya bergerak menyingkap anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.
"Bisakah kita memesan dua kamar?" Isvara bertanya pelan, dahi Gerald mengernyit dengan alis menyatu.
"Maksud ku satu kamar untuk mu, dan satu kamar untuk ku, seperti itu," Isvara menjelaskannya pelan.
Gerald mendesah singkat, dia tahu Isvara tidak ingin satu kamar dengannya. Isvara masih belum bisa me
__ADS_1
"Baiklah," ucap pria itu pada akhirnya.
Gerald melangkah ke arah resepsionis hotel. "saya pesan dua untuk dua orang."
Sang resepsionis mengangguk. "Sebentar pak, saya periksa dulu."
Gerald mengangguk, lalu dia membalikkan badan, melihat Isvara yang sepertinya Kedinginan, dia memberi kode agar Isvara mendekatinya.
"Kau dingin?" Isvara mengangguk atas pertanyaannya. "Sedikit." jawabnya.
"Maaf pak, kamar yang tersisa hanya tinggal satu, tidak ada ketersediaan kamar lagi malam ini."
Gerald terpaku sejenak lalu menatap Isvara, hotel di sini terbilang biasa saja, bukan yang waaah ya mg selalu Gerald singgahi, namun hanya hotel ini yang bisa dia temui, mungkin karena hujan besar membuat orang-orang juga berteduh di sini.
Isvara akhirnya hanya mengangguk pasrah, Gerald lalu mengiyakan pada resepsionis hotel, mereka akhirnya di tujukan di mana kamarnya berada.
***
Keduanya sampai di dalam kamar, ruangan 4x5 ini terkesan sederhana untuk ukuran kamar hotel, yang hanya di isi satu ranjang tidur dan lemari kecil di sampingnya,Tapi tidak masalah ini cukup untuk menghangatkan tubuh mereka.
Isvara menatap ke sekeliling, dia bergerak kikuk, kini dirinya benar-benar berduaan saja dengan Gerald, di dalam kamar.
"Baju mu basah kan? kau bisa membilas tubuh mu dulu," ucap Gerald, untunglah di kamar ini tersedia satu ruangan lagi untuk kamar mandi.
"Tapi ... tapi," Isvara menatap canggung, ia menyilangkan tangannyanya ke depan dada.
"Kenapa?" Gerald memperhatikan gerak tubuhnya yang resah.
"Tidak ada baju ganti di sini, aku tidak punya salinan."
Gerald membuang nafas pelan, menarik lengan Isvara dan mendudukkannya di tepi kasur.
"Untuk itu aku punya solusi."Lalu tanpa aba-aba lagi Gerald membuka bajunya, hal itu membuat Isvara terperanjat.
"Apa yang kau lakukan!" pekik gadis itu.
"Apa?" Gerald menatapnya balik. "Aku melepas bajuku, tenanglah."
Gerald melepaskan kemeja putihnya, lalu hanya tersisa kaos hitam berlengan pendek yang kini membungkus tubuh atletisnya.
"Kemejaku tidak terlalu basah, pakailah untuk sementara," ucap Gerald memberikan kemejanya.
"Kak tahu, bajuku itu semuanya tidak bau keringat, malahan bau parfum mahal, kau tahu brand Dior? aku memakai salah satu varian parfumnya," jelas Gerald tanpa di minta, matanya bergerak canggung saat Isvara tidak juga mengambil kemejanya.
"Aku tidak bilang ini bau keringat," ucap Isvara.
"Ya kalau begitu ambillah dan segera ganti baju, aku tak ingin kau masuk angin."
Isvara mengangguk, mengambilnya dan berjalan ke arah WC.
Kini tinggal Gerald yang menjatuhkan bobotnya ke kasur, pria itu menerawang menatap langit-langit.
Satu malam bersama Isvara? bersama gadis yang di cintainya, hanya berdua, ini merupakan satu siksaan yang berat untuk Gerald.
__ADS_1
"Gak apa-apa Ger, lo harus tahan ... lo harus tahan.",