
"Apa, mommy bercanda kan? bilang padaku ini hanya prank, mommy pasti pagi bercanda kan?" Brandon tak bisa menerima ini, dia menggeleng dengan raut wajah yang seakan tak percaya.
Tapi mommy nya menunjukkan reaksi lain, wanita yang akan memasuki umur 60 tahun itu justru mengangguk cepat, membuat Brandon dan Brinda syok seketika.
"Lalu mommy, kami anak siapa jika bukan anak kandung mommy?" Brinda sudah akan terisak. "Kami anak kembar,tidak mungkin jika salah di antara kami adalah anak kandung."
Arini menggeleng cepat. "Tentu saja kalian anak kandung mommy."
"Lalu?" Brinda berseru kaget, semua fakta ini terlalu cepat datang pada mereka.
"Bukan kalian, tapi mommy lah yang bukan kandung dari nyonya Triani, mommy hanya anak supir tuan Hafizh abbas, orang yang selama ini kalian anggap kakek dan nenek, bukanlah kakek dan nenek kalian yang sesungguhnya."
Brak! tiba-tiba saja Brandon melempar sebuah vas bunga ke tembok menimbulkan suara yang membuat Arini dan Brinda syok seketika.
"Persetan! jadi selama ini kami di bohongi, kenapa mommy menyembunyikan semua ini hah?!" Brandon membentak penuh amarah, Brinda menepi memeluk sang ibu.
Sementara suara gebrakan di luar sana semakin kencang, Brandon berdecih. "Sialan!"
Brandon lalu berjalan ke arah kamar, Arini mengikuti bersama Brinda, lelaki berperawakan tinggi itu mengambil sebuah senapan di dalam laci lemarinya, Arini dan Brinda terkesiap kaget.
"Brandon! sejak kapan kamu punya pistol? dari mana kamu punya alat berbahaya kaya gitu hah?"
"Diam!" Brandon kembali membentak. "Mommy udah gak ada urusan lagi."
"Daripada setengah-setengah lebih baik aku menyelesaikan semua ini langsung."
"Brandon kamu mau ngapain nak?" Arini menghentikan sang putra, memegang bahunya, namun Brandon menepisnya dengan keras membuat Arini hampir terjengkang ke belakang jika saja tidak di tahan Brinda.
"Kak, jangan kasar sama mommy."
Namun Brandon hanya diam, menatap sekilas kedua wanita itu dan melangkahkan kakinya keluar.
"Brinda, kakakmu seperti kerasukan setan, dia akan melakukan hal gila, kita berdua harus menghentikannya."
Brinda mengepalkan tangannya, kesal, dia seperti tak berguna untuk masalah ini, Brinda lalu berdiri melangkah kan kakinya untuk menghentikan sang kakak.
__ADS_1
"Kak, berhenti kak, kakak mau ngapain?" Brinda menghalangi jalan Brandon, menghadang dengan tubuhnya.
Namun Brandon yang sudah tidak bisa berfikir lagi mendorong tubuhnya dengan kuat hingga ia tersungkur, Brinda menoleh menatap sang kakak yang semakin menuju pintu.
Brakk! pintu terbuka, para aparat kepolisian langsung menyergap namun seketika ruangan menjadi ricuh Karna suara tembakan yang tiba-tiba menggema.
Dua polisi seketika tumbang di tangan Brandon, polisi lain tak tinggal diam, langsung menyergap untuk menangkap Brandon.
Kericuhan semakin besar Ketika Brandon berhasil kabur membawa senapannya, Membuat kekacauan di sekitar unit apartemen itu, suara tembakan yang menggema membuat semua orang menjadi takut, para aparat kepolisian juga kini sedang berpencar mencari Brandon.
Brandon berlari ke arah pintu menuju luar gedung, dengan pistol di tangannya membuat ia leluasa mengancam orang-orang di sekitarnya.
"Apa? liat apa? mau gue tembak lo!" orang-orang menjerit ketika Brandon mengacungkan pistol di tangannya, suasana menjadi sangat mencekam, kericuhan terjadi di mana-mana.
Orang-orang berspekulasi jika Brandon adalah orang gila yang sedang berkeliaran, mengingat penampilan pria itu yang sangat lusuh. Namun sejauh ini Brandon belum menembak orang selain dua polisi tadi. Namun tetap saja ketakutan sangat kentara bagi orang-orang melewatinya.
Brandon melihat dua orang yang baru datang, dia langsung mendekat dan seketika langsung menodongkan pistolnya.
"Serahin kunci mobil lo!"
Brandon langsung mengambilnya dan langsung saja pergi dari sana. Dia harus berlari, sejauh-jauhnya, dia sudah membuat kericuhan di sini, rencananya berhasil dia membuat keluarga wirasena semakin tak ada muka karna perbuatannya.
"Lihat saja, gue akan hancurkan keluarga kalian!" sumpahnya, mengingat kembali perkataan sang mommy jika dia bukanlah darah daging keluarga itu.
"Breng sek! pantes aja selama ini mereka selalu pilih kasih, persetan! Aryaloka, lo harus mati di tangan gue!"
Brandon menaikan kecepatan laju mobil hasil rampasannya, rencananya berubah, kali ini dia akan ke gedung utama MV group, mengincar nyawa seseorang, sebelum akhirnya dia sendiri yang akan di penjara.
"Setidaknya gue gak akan menyesal kali ini."
*
*
*
__ADS_1
*
"Brinda, kemana? kemana kakak mu pergi?" Arini semakin kalut ketika melihat orang-orang di sekitarnya gemetar ketakutan, dia sudah bisa menebak jika ini adalah perbuatan anaknya.
"Gak tau mom, para polisi udah pergi duluan mengejar kakak."
Firasat Arini semakin tak enak, ia teringat perkataan Brandon beberapa jam lalu.
"Mom, aku ingin menguasai perusahaan, aku ingin menggantikan posisi om dalam menjalankan perusahaan."
"Apa maksud mu, jangan berkhayal, bahkan nama mu saja sudah di black list dalam perusahaan."
"Gak apa-apa, ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak alternatif lain yang bisa ku gunakan untuk menguasai semua yang mereka miliki.
"Kamu jangan aneh-aneh Brandon, melihat mu yang tersenyum seperti itu mommy tahu kamu mempunyai rencana busuk yang lain."
"Mommy lihat saja nanti."
Seketika raut wajah Arini berubah mengekerut semakin dalam.
"Brinda, cepat telpon om mu, atau tante Indira atau siapa pun yang ada di kantor." titahnya pada sang putri.
"Ada apa mom? apa terjadi sesuatu?"
Arini berdecak. "Cepat Brinda, kita tak ada waktu, sebelum kakakmu melakukan hal gila lainnya."
"Baiklah." Brinda lalu mengambil ponselnya, panggilan kepada Om Arya, langsung terhubung.
"Ini mom." dia menyerahkan ponsel yang terhubung pada Arini.
"Ada apa Bri?" suara teduh di seberang sana terdengar.
"Mas cepat pulang, jangan ada di kantor, Brandon saat ini anak itu ... "
"Ada apa Arini?"
__ADS_1
"Brandon akan melakukan hal gila, mas!