
Seperti ada batu besar yang menghantam dadanya kuat kini, jawaban dari mbok Minah sungguh berhasil membuat Gerald diam membeku.
"Maaf tuan, saya ingin menghentikan nona muda, tapi gak tega karna nona nangis saat hendak pergi dengan kopernya. Nona muda juga tidak berpamitan ke kami bahkan gak bilang apa-apa sebelumnya," tutur Mbok Minah.
Gerald masih diam, otaknya seakan nge-blank mendengar kabar itu, tubuhnya menyusut dan akhirnya terduduk mengenaskan.
Mbok minah pamit dengan perasaan sedih, beliau bukan tak tahu apa yang terjadi di antara kedua dan di terjadi di rumah ini, namun mbok Minah juga tahu diri karna ini bukan radarnya.
Ada Dewi yang menghampiri mbok Minah. "Jadi nona muda beneran pergi mbok?"
Mbok Minah mengangguk lemah, begitu pun Dewi yang langsung lesu. "Tega banget, bahkan dia gak berpamitan dengan kita, apa selama ini kita tidak dia anggap ya sama nona muda?"
"Husst ... Wi bukan begitu, masalahnya nona muda juga pasti sangat sedih dan mengambil keputusan untuk pergi secara mendadak dan mungkin nona muda tak ingin keberadaannya di ketahui nanti.
Dewi menatap sendu. "Sedih ya mbok, kita selama ini saksi gimana penderitaan nona muda di sini, giliran udah mau mendapatkan kebahagiaan,eh malah di uji lagi."
"Kamu benar Wi, berdoa saja di mana pun nona muda berada, selalu dalam perlindungan yang maha kuasa."
Dewi mengangguk dengan ucapan mbok Minah. "Aamiin."
***
Gerald merasa terpuruk, pria itu pergi kamar Isvara dan mencari sang istri sekali lagi. Berharap semua yang di katakan Mbok Minah adalah kebohongan dan istrinya masih ada di sini.
"Isvara ... di mana kamu sayang?!"
"Isvara, lihatlah, aku di sini untuk memberitahukan mu hal yang penting!"
Suara Gerald seperti di bawa terbang oleh udara, tak ada sahutan apapun, tak ada wanitanya di sini. Isvara benar-benar sudah meninggalkan dirinya.
Gerald lagi-lagi terduduk di lantai dengan mengenaskan, pria itu menekan kuat-kuat kepalan tangannya. "Aaaaargggggh!!"
Teriakan kencang dari Gerald terdengar hingga lantai bawah, hal itu memicu perhatian para pelayan di pantry.
"Mbok, tuan Gerald? kasian banget." Dewi merasa cemas.
"Hussst! kita tidak bisa melakukan apa-apa, tunggu sampai tuan Aryaloka datang kesini."
__ADS_1
Saat mbok mengucapkan itu, suara deru mesin mobil di pelataran terdengar. Mbok Minah dan Dewi segera berlari keluar.
"Tuan ... " mbok Minah berkata pelan saat tuan Aryaloka sudah ada di hadapan, dirinya mendadak lupa apa yang hendak di ucapkan.
Lalu suara teriakan penuh ke putus-asaan Gerald kembali terdengar, hal itu sontak membuat keluarga kaget. Sementara Arini dan putrinya Brinda sudah dua hari ini menginap di apartemen Brandon, jadi tak ada yang bisa menghentikan Gerald.
"Ada apa ini? kenapa Gerald sampai berteriak seperti itu?" ucap tuan Aryaloka sangat khawatirnya, sementara nyonya Triani segera masuk ke dalam rumah untuk melihat cucunya.
"Itu tuan Anu ... " Mbok Minah tak bisa mengucapkannya.
"Tuan,nona muda pergi dari rumah, tuan Gerald tiba-tiba berteriak histeris ketika tahu nona muda tidak ada di sini," tutur Dewi karna gemas dengan mbok Minah yah tak kunjung menjelaskan.
"Apa Isvara pergi?" tuan Aryaloka terkejut, lalu kakinya buru-buru melangkah menaiki tangga melihat keadaan sang putra.
Saat itu di lihatnya Gerald yang begitu mengenaskan, dalam pelukan sang ibu. Nyonya Triani begitu melihat cucu kesayangannya buru-buru menghampiri dan memeluk Gerald.
"Dia sudah pergi nek." mata pria itu memerah.
"Isvara-ku telah pergi meninggalkan ku."
***
Sebagai seorang ayah, baru pertama kali melihat Gerald yang seperti ini, pria itu benar-benar dalam titik terlemahnya.
"Maaf tuan, nyonya." Mbok Minah menghadap. "Tadi saat saya membereskan kamar Nyonya muda saya menemukan ini."
Gerald yang seperti melamun segera tersadar, dilihatnya mbok Minah yang menjulur kan sebuah surat dan kalung, yang Gerald sangat kenal kalung permata ini.
Gerald segera mengambilnya, matanya yang berkaca-kaca sedikit berbinar karena Isvara meninggalkan itu untuknya.
Gerald lalu bangkit dan melangkah menuju ke kamarnya. tuan Aryaloka dan nyonya Triani memperhatikan.
"Apa Isvara benar-benar pergi dari sini?"
"Sepertinya begitu Bu, semuanya terjadi secara tiba-tiba," ucap tuan Aryaloka, menggeleng pelan.
"Isvara mungkin telah memikirkan matang-matang tentang keputusannya untuk pergi dari sini, mungkin enam bulan yang ibu kasih tidak akan bisa merubah situasi."
__ADS_1
"Sepertinya dugaan ibu salah, mungkin saja sudah ada cinta di antara mereka," ucap tuan Aryaloka pasti.
***
Gerald duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang memerah dan semakin berkaca-kaca. di usapnya dengan sayang kalung berlian milik sang istri.
"Kenapa kamu tega meninggalkan ku sayang?" lirihnya.
Lalu dengan perlahan dia membuka surat yang di tulis sendiri oleh Isvara, lalu membaca kata demi kata yang tertanam di sana.
[Untuk Gerald-ku yang tersayang.
Mungkin ini terlalu mendadak, keputusan yang ku ambil mungkin terlalu terburu-buru, Namun aku yakin dengan semua ini, bahwa meninggalkan mu adalah jalan yang terbaik.
Bukannya aku egois, bukannya aku tak ingin mendengarkan mu, namun takdir waktu yang tak tepat ini, membuat jalinan cinta kita harus terhenti sampai di sini.
Ada Wanita yang lebih membutuhkan sosok mu, dibanding aku. Laura, yang tengah mengandung, adalah tanggung jawab mu.
Aku sudah tak perduli lagi mana yang salah atau mana yang benar, tapi ku yakini kamu adalah pria yang bertanggung jawab yang tak akan mungkin tega membiarkan seorang anak yang akan tumbuh tanpa sosok ayahnya.
Sekarang nikmatilah bahagia mu, bina rumah tangga dan dirikan lah keluarga kecil yang bahagia.Sementara aku akan pergi dan tak akan kembali lagi.
Jangan pernah mencari keberadaan ku karna itu akan sia-sia. Hiduplah saja dengan sehat dan bahagia, karena bahagia mu merupakan bahagia ku juga.
Dari wanita yang selalu mencintaimu : Isvara]
Gerald tak dapat membendung air matanya lagi saat membaca kata demi kata itu, katakanlah ia lemah, tapi kehilangan seseorang yang amat dia cintai telah berhasil merenggut seluruh hidupnya.
Di rematnya kertas itu hingga tak terbentuk, tangannya bergetar hebat seakan tak bisa di gerakan lagi.
Bayangan saat bagaimana ia menyiksa Isvara, memperlakukan wanita itu dengan kejam, mempermalukannya, seakan kembali datang seperti kaset lama yang kembali di putar.
Mungkin ini karma untuknya? karna telah semena-mena terhadap istrinya dulu? tapi ini terlalu menyakitkan untuknya.
Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk terus hidup, sedangkan separuh nafas ku ada bersama mu.
"Aku akan menyusulmu Isvara, di belahan dunia mana pun kamu berada, aku akan terus mencari mu dan menemukan mu."
__ADS_1