
Isvara sangat terkejut dengan kedatangan Gerald yang tiba-tiba, pria itu merengkuh tubuhnya dengan erat di tengah keramaian karnaval malam ini.
Seperti ada yang memutar alunan instrumen yang begitu lembut, kedatangan Gerald seperti membawa kehangatan pada Isvara, dekapan pria itu sungguh membuatnya sangat nyaman, hingga Isvara hampir terlena karnanya.
Namun Isvara segera tersadar dan melepaskan pelukan pria itu, Gerald terkejut, wajah pria itu terlihat kusut dan seperti kurang tidur.
Isvara jadi khawatir, ada apa dengan pria ini? apakah tidurnya selama ini nyenyak? apakah dia bahagia tanpanya? Isvara kira Gerald sudah bahagia dengan Laura dan calon anak mereka, tapi kenapa kenyataan di depannya ini berbeda?
"Ngapain kamu di sini? tidak seharusnya kamu ada di sini!" Isvara berkata dingin dengan tatapan ke arah lain, tak ingin melakukan kontak mata dengan pria di depannya ini.
"Kenapa kau pergi begitu saja dan tidak membiarkan aku menjelaskan semuanya padamu?" Gerald berkata dengan nada kalut, nafasnya tersengal seperti hendak meluapkan apa yang dia rasakan selama ini.
"Tidak kah kau tahu betapa tersiksanya aku belakangan ini? hari-hariku tidak berjalan normal karna merindukan mu, baby." Gerald mengenggam kedua tangan Isvara dan membawa dalam dadanya, pria itu lalu memberikan kecupan di tangan mulus Isvara.
"Lepaskan, aku tak ingin melihat mu di sini!" Isvara memberontak, hatinya belum siap untuk kedatangan Gerald kali ini.
"Ku mohon Isvara, dengar kan dulu perkataan ku, aku akan menjelaskan semuanya pada mu." Gerald tetap mempertahankan kedua tangan Isvara dalam genggamannya.
Sedangkan Dira yang ada di sana tampak kaget namun segera menghampiri melihat Isvara yang seperti risih di sentuh oleh pria asing itu.
"Hei hentikan, kau tidak lihat dia risih dengan mu!" Dira datang menengahi, melepas cengkraman tangan Gerald dari Isvara.
"Siapa kau? ini bukanlah urusanmu!" ketus Gerald pada pria itu.
"Aku tahu ini bukan urusan ku, tapi menjamin Vara baik-baik saja adalah tanggung jawab ku!"
Vara? sedekat apa mereka hingga pria itu menyebut nama panggilannya. Seketika dada Gerald menjadi bergemuruh, pria itu seperti merasakan panas di tubuhnya, rasa cemburunya datang kembali.
"Siapa dia sayang? kenapa sepertinya dia terlihat dekat dengan mu?" tanya Gerald pada Isvara.
Isvara hanya diam tatapannya mengarah ke bawah, sungguh rasanya dia malas untuk menjelaskan pada pria itu.
"Dira, sebaiknya kita pergi saja, aku tak kenal dengan pria ini," ucap Isvara hendak pergi. Namun Gerald menahannya.
"Tunggu, aku mohon, dengarkan aku sekali ini saja?aku ingin menjelaskan semuanya padamu?
"Kau tahu Laura terbukti berbohong, wanita tidak sedang mengandung anak ku, dia hanya membuat konspirasi licik untuk memisahkan kita!"
Isvara hanya diam tak mendengarkan, rasa sakitnya selama ini seakan menumpulkan semua inderanya untuk mendengarkan penjelasan pria itu.
Gerald hendak menyampaikan lagi, namun Dira menarik tangan Isvara untuk menjauh dari pria itu.
"Tidak kah kau tahu dia tidak ingin kehadiran mu ada di sini, Isvara juga tidak mengenal my jadi sebaiknya kau pergi dari sini. Atau kita yang akan pergi, ayo Vara!" Dira menuntun Isvara, Gerald melihatnya meradang.
__ADS_1
Bugh! Gerald memberikan bogem mentahnya pada rahang kanan Dira, semua orang yang di situ sontak terkejut, begitupun dengan Isvara yang segera saja membantu Dira yang tersungkur.
"Kau tidak apa-apa?" Isvara bertanya khawatir. Melihat bagaimana sang istri yang menyentuh pundak pria lain membuat amarah Gerald semakin menjadi.
"Gerald, kau apa-apaan sih? kenapa memakai kekerasan di sini!" bentak Isvara padanya, namun tatapan Gerald berubah Membuat Isvara tersentak.
"Kau memarahi ku karna aku memukul pria itu, tapi kau sendiri tidak mengerti perasaan ku?"
"Tidak kah kau begitu egois? hingga tidak mau mendengarkan Penjelasan ku, sepertinya aku menyesal telah jauh-jauh kesini!"
Setelah mengucapkan hal itu, Gerald berbalik dengan kekecewaannya, pria itu bahkan tak mau menengok untuk terakhir kali, perasaannya telah hancur. Sementara Isvara terdiam kaku, ada buliran kristal bening yang kini hinggap di pelupuk matanya, wanita itu lalu menoleh, memandang kepergian Gerald dengan tatapan nanar.
***
Setelah kejadian tak terduga itu, Isvara tak melihat Gerald lagi di karnaval. Meskipun Dira menikmati karnaval yang semakin ramai ini, tidak dengan dirinya yang dirundung rasa bersalah.
Dira tentu saja merasakan perubahan Isvara ini, pria itu menatap mata Isvara yang hanya memandang kosong ke arah depan.
"Jika kau khawatir, pergilah, temui dia."
"Huh? apa yang kau katakan?" Isvara tersentak. menatap balik pria di sampingnya ini.
"Aku tahu kau pasti merasa khawatir juga merasa bersalah, pergilah, berikan dia kesempatan kedua. aku tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara kalian, tapi aku bisa melihat dari matanya, pria itu sangat mencintai mu." Dira kali ini menatap Isvara.
Apa yang di katakan Dira benar, dia harus menyusul Gerald. Kali ini Isvara mengerti, seharusnya dia mendengarkan dulu penjelasan Gerald.
"Terimakasih Dira," ucapnya tersenyum lalu berbalik pergi. Dira menatap kepergian wanita itu, padahal mereka baru pertama kali bertemu, namun Dira seperti mengenal lama gadis itu.
"Semoga bahagia, Vara."
***
Isvara berjalan ke jalanan besar demi mencari keberadaan Gerald, namun pria itu tak ada, apa mungkin dia berada di rumah pamannya sekarang?
Isvara berjalan kembali, di telisiknya ke sekeliling tempat, memanggil nama sang suami, berharap pria itu masih ada di sekitar sini.
"Gerald, di mana kamu?!" hampir menyerah Isvara mencari, akhirnya dia benar-benar kembali ke rumah sang paman, saat itulah dia melihat Gerald yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Gerald!" Isvara berteriak kencang, berlari dengan sekuat tenaganya dan langsung menghambur memeluk Gerald yang hanya berdiri diam, karna terkejut.
"Isvara? ... " Gerald merasa heran, dia sebenarnya memang ingin. pergi karna merasa sang isteri tak akan mendengarkannya.
"Maafkan aku, tak seharusnya aku memperlakukan mu seperti itu," lirih Isvara di pundak pria itu.
__ADS_1
Gerald hampir terkekeh pedih, matanya yang sudah memerah, keputusan asa-an yang menghimpit hatinya tiba-tiba hilang.
"Kali ini, ayo kita perbaiki semuanya."
***
Mereka berdua, Isvara dan Gerald kini berada di kamar yang Isvara tempati di sini, karena malam semakin larut semua orang sudah tertidur, di desa ini bukan seperti di kota besar yang akan selalu ramai meski malam menjelang pagi. Semua orang sudah tertidur termasuk pak Damian dan juga ayah Isvara, jadi Gerald berencana untuk menjelaskan pada mereka besok pagi.
Sekarang bagaimana dia menjelaskan semuanya pada sang istri.
"Jadi begitulah, Laura ternyata hamil dengan Samuel, dan mereka sudah menikam ku dari belakang sejak bertahun-tahun lalu." pria itu terduduk di pinggir kasur dengan perasaan lesu saat sudah menjelaskan pada Isvara.
Isvara menatap sendu, memegang kedua tangan pria itu. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku mengambil keputusan yang terburu-buru. Aku kira kamu akan bahagia bersama Laura, meskipun tidak tahu anak siapa yang di kandung Laura, aku kira kamu akan tetap menikahinya karena karna kamu mencintainya."
Gerald mendongak. "Apa yang kamu pikirkan? tidak kah kamu mengerti kalau cintaku selama ini hanya untuk mu? mendapati kenyataan kau memikirkan hal seperti itu tentang ku, membuat kesal."
Isvara tersenyum. "Baiklah, maafkan aku, pikiran ku sedang kalut saat itu, hingga tidak memikirkan sampai kesana."
"Ntahlah, aku sepertinya ingin marah padamu." Gerald memalingkan wajahnya seperti orang merajuk.
Isvara mengulum senyum geli, "Oke maaf-maaf, jadi apa yang harus kulakukan agar tuan muda ini tidak ngambek lagi?"
Gerald melirik Isvara, dan menunjuk wajahnya sendiri. "Ini, berikan aku seribu ciuman."
Isvara terkekeh. "Seribu? bukankah itu terlalu banyak?"
"Ya sudah,jika kau tidak mau, aku tidak akan memaafkan mu."
Isvara geleng-geleng kepala dengan kelakuan absrud bayi besarnya ini, "Baiklah, seperti yang kamu inginkan." Isvara lalu memajukan tubuhnya lebih dekat.
Cup! cup! cup! kecupan manis ia berikan bertubi-tubi pada wajah sang suami, Gerald memejamkan mata menikmatinya, Isvara mencium dagu, rahang, ujung hidung, kening, kedua pipi lalu berakhir pada bibir.
Saat di bibir itulah, Gerald menahan tengkuknya, Membuat ia mau tak mau mengikuti ritme permainan sang suami, dan memperdalam ciuman mereka, beberapa saat barulah terlepas saat Isvara mendorong dada Gerald karna kehabisan pasokan oksigen.
Gerald mengusap bibir mungil Isvara, nafas mereka terengah-engah, suasana menjadi lebih romantis di antara mereka.
"Bukankah kamu harus di hukum karna membuat ku harus menunggu?"
"Eh?!" Isvara terkejut saat Gerald menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dengan lembut.
"Karna kamu sudah membuat ku hampir gila karna merindukan mu, maka malam ini kamu harus melayani ku sampai lima ronde."
"Hah? apa?" Isvara Membulat kan mata.
__ADS_1
Gerald menyeringai. "Bersiaplah sayang, mungkin saja kau tidak akan bisa berjalan besok."