TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 75


__ADS_3

Hari ini keluarga wirasena di buat sangat suka cita atas kabarnya kehamilan Isvara, setelah melakukan pemeriksaan mendadak akibat rasa mual yang di derita suaminya, Gerald.


Ya benar, karna Gerald yang terus menerus mengeluh mual dan muntah-muntah, keluarga berinsiatif untuk merujuknya ke rumah sakit, atas saran Kayra, Gerald di periksa oleh dokter Ray, dokter kepercayaan yang juga adalah teman karib Gerald.


Karna khawatir, Gerald segera saja di tangani, namun saat di lakukan pemeriksaan tak ada luka fisik ataupun penyakit yang menyerang tubuh Gerald, penasaran, dokter Ray lalu menyuruh Isvara untuk melakukan pemeriksaan juga, awalnya Isvara merasa heran, kenapa dia juga harus di periksa? Padahal dirinya segar bugar, tak ada keluhan apapun yang terjadi, namun karna dokter Ray sedikit memaksa, Isvara akhirnya untuk di periksa. Dan hasilnya sungguh mengejutkan mereka semua.


"Nah benar kan perkiraan ku, kamu yang ternyata hamil," kata Dr. Ray, membuat semua keluarga sangat senang.


Isvara merasa sangat terharu, di rabanya perut yang masih rata, di sana ada mahluk kecil yang kini sedang bersemayam.


"Menurut perkiraan,kehamilan mu sudah memasuki enam minggu.Selamat ya, untuk kalian berdua," ucap Dr. Ray lagi.


"A-aku sama sekali tidak menyangka, selama ini aku sedang mengandung, padahal tidak ada gejala apapun yang terjadi, aku tidak menduganya," ucap Isvara, ada kaca-kaca di matanya saat mengatakan itu.


Dr. Ray tersenyum tipis. "Memang benar, terkadang ibu hamil tidak merasakan keluhan apapun namun ada juga yang sampai mengalami ngidam parah atau morning sicknees."


"Dan untukmu, karna peran itu di ambil alih oleh Gerald."


"Eh, maksudnya?"


Dr. Ray tertawa samar. "kamu yang hamil tapi tidak merasakan apa-apa namun Gerald yang mual itu namanya di sebut sindrom kehamilan simpatik atau di kenal juga sindrom couvade."


"Sindrom kehamilan simpatik atau juga di kenal dengan sindrom couvade ini adalah kondisi di mana ayah dari si cabang bayi lah yang bakal mengalami muntah-muntah dan ngidam, hal ini umum terjadi dan tidak membahayakan sama sekali, jadi kamu gak usah khawatir."


"Astaga, bisa begitu juga ya?" Ucapan Isvara yang terdengar polos mengundang gelak tawa dari Dr. Ray.


"Bisa dong, Kamu harus ektra hati-hati aja dalam jagain Gerald, kalo nanti dia ngidam mangga muda di tengah malam usahain kasih ya, hahaha."


Isvara ikut tertawa. Lalu terdengar lah kembali suara muntah dari kamar mandi Membuat Isvara dan Dr. Ray refleks menoleh.


"Tuh, udah kedengaran lagi kan? Ouh tadi Gerald gak ada saat aku bilang kamu hamil, gih sekarang bilang ke dia."


"Pasti girang tuh bocah,mau jadi bapak." lanjutnya Ray kembali tak bisa menahan tawa, Karna merasa lucu melihat Gerald yang menderita.


***


Isvara segera saja menghampiri Gerald yang sedang memuntahkan isi perutnya, setelah melakukan itu Gerald menopang siku, wajahnya terlihat sayu dengan nafas yang memburu, hal itu membuat Isvara merasa iba, menghampirinya dan menepuk-nepuk bahunya pelan.


"Kamu udah gak apa-apa?" tanya Isvara mengusap kening pria itu yang di banjiri keringat.

__ADS_1


Gerald tak menjawab, hanya melingkar kan jari membentuk tanda oke, dirinya terlalu lemas untuk bersuara, beberapa menit diam, Gerald lalu bangkit dan membasuh wajahnya, Isvara memperhatikan dengan masih mengusap punggungnya.


"Oh iya, tadi kamu juga di periksa kan sama si Ray? kenapa ada keluhan atau sesuatu yang mengkhawatirkan?"


Benar, suaminya belum tahu jika dirinya kini tengah hamil, membayangkan reaksi apa yang akan di berikan Gerald, Membuat Isvara tersenyum.


"Ikut aku yuk .... " ajak Isvara ingin membuat kejutan dengan memberitahukan Gerald langsung di depan keluarga.


"Kemana?" tanya Gerald yang sedang mengelap bibirnya dengan tisu.


"Kamu tadi gak tau sih waktu Dokter Ray ngumumin sesuatu di depan keluarga." Isvara mencoba membuat pria itu menebak-nebak.


"Oh ya, abisnya rasa mualnya nyerang tiba-tiba lagi, padahal gak ada diagnosa apa-apa dari Ray, tapi kenapa rasa mualnya gak ilang-ilang?"


Isvara tersenyum-senyum sendiri melihat kepolosan sang suami. "Kamu mau tau apa penyebabnya?"


"Emang apa?"


"Kamu mau jadi ayah, tau," kata Isvara dengan senyum merekah dan wajah bersemu.


Dug! dug! dug! pria itu mematung dengan apa yang di ucapkan sang istri. Apakah dia terlalu terkejut?


Hal itu membuat senyum Isvara luntur tergantikan dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Gak bodoh! Aku yang hamil!!!!"


"Apa?!" Gerald akhirnya tersadar, "Kamu hamil?!" Isvara kembali tersenyum mendapatkan ekspresi gembira tertahan dari pria itu.


"Kamu hamil, A-aku bakal jadi seorang ayah!"


Isvara mengangguk-angguk. "Dan aku bakal jadi seorang ibu!"


"Baby, aku bakal jadi seorang ayah!"


Isvara mengangguk lebih semangat. "Iya sayang."


Euforia langsung menyerang Gerald dengan membuncah, pria itu langsung bersorak sorai lantas memeluk tubuh Isvara dan berputar-putar layaknya sedang berdansa.


Gerald menurunkan Isvara kembali. "Terimakasih sayang! terimakasih!"


Isvara ikut senang bahkan sangat senang. "kita bakal jadi orang tua."

__ADS_1


Dada Gerald berdesir dengan sangat hebatnya, baru tadi pagi dia mengusap perut sang istri dan mendambakan seorang anak akan tumbuh di sana, Tuhan seakan mendengar doanya dengan sangat cepat, hal itu benar-benar di kabulkan dan membuatnya sangat senang, hingga dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Aku sangat gembira--- hoeek!" rasa mual itu kembali datang, Gerald segera saja kembali ke wastafel.


Baru juga merasa bahagia, kini kembali di rundung cemas, Isvara kembali menepuk-nepuk punggung Gerald. kenapa mualnya lama sekali?


***


"Hahaha, mungkin anak Lo mau balas dendam kali, soalnya bapaknya pernah jahat sama ibunya." tawa menggelengar Dr.Ray kembali berderai saat Gerald mengeluhkan hal itu, sebenarnya Isvara pun sudah memberitahukan dirinya tentang sindrom kehamilan simpatik ini. Namun, rasa mual itu sungguh-sungguh menyiksa Gerald.


"Sialan lo!" ingin rasanya dia menimpuk kepala temannya itu dengan manekin di sampingnya ini.


"Lagian kan gue udah bilang ke bini lo, hal itu biasa terjadi, lo gak usah khawatir." Dr.Ray berusaha meredam getaran bibirnya, agar ketawa mengejek itu tak membuat Gerald menjadi sapi betina yang sensitif.


"Iya Isvara tadi udah ngejelasin ke gue, sebenarnya gue seneng, tapi kesiksa juga," ucap Gerald, mengeluh akhirnya.


"Udah anggep aja ini karma, gue saranin sering-sering aja kunjungin anak lo, biar ntar pas berojol gak dendam sama bapaknya!"


"Sialan lo, mau gue timpuk pake sepatu!"


Bukannya takut, Ray malah berkelakar. "Euww, mau dong di timpuk pake sepatu Jordan, pengen rasanya di timpuk pake sepatu orang kaya."


"Gerald mendengkus. "Sinting!" lalu keduanya sama-sama tertawa.


***


Di rumah, Isvara di banjiri banyak kasih sayang setelah kabar kehamilannya terdengar, semua orang memberikan selamat dan ucapan rasa syukur yang tak terhingga.


"Subur kamu, nenek gak nyangka bakal punya cicit sebentar lagi," ucap nenek seraya mengusap perut Isvara.


Mereka benar-benar tak menduga kehamilan Isvara bahkan sudah berusia enam Minggu dan mereka baru menyadarinya sekarang.


"Jaga-jaga baik-baik ya, sekarang harus lebih banyak istirahat." Isvara mengangguk atas perkataan sang mama, semua orang merayakan suka cita itu di ruang tamu


Kebetulan Mahesa juga ada di sana, dia juga baru tahu tentang itu ketika tak sengaja melewati ruang tamu sehabis pulang dari kuliahnya. Pria itu tersenyum samar, sekarang dia memang benar-benar harus merelakan Isvara.


Namun tak di pungkiri, rasa itu kembali datang, rasa sakit yang kembali menghimpit dadanya.


"Bahagia selalu ya, Isvara."

__ADS_1


__ADS_2