
Gerald mengikuti mobil Mahesa hingga terhenti di sebuah pelataran gedung mewah. Gerald menepikan mobilnya lumayan jauh agar mereka tidak curiga.
Mahesa turun lebih dulu, Gerald memperhatikan, lalu pria itu membuka pintu mobil untuk Isvara keluar. Keduanya terlibat kontak mata dan tersenyum. Hal itu membuat darah Gerald kembali mendidih.
Gerald mengambil nafas panjang berusaha untuk sabar. Tapi kenyataannya pria itu tidak bisa, amarah seperti naik ke ubun-ubun dan siap meledakkan kepalanya.
Apakah begini perasaan cemburu? Rasanya sungguh tersiksa, bahkan saat berpacaran dengan Laura dia tak pernah merasakan perasaan seperti ini.
Gerald berjalan tertatih dan sedikit merayap agar tidak ketahuan oleh mereka. Apalagi jika ketahuan oleh Mahesa dia mengikuti mereka, bisa-bisa dia kehilangan harga diri di depan rivalnya itu.
"Eitsss ... Mau kemana tuan?" Seorang security menghentikan langkahnya saat hendak memasuki gedung.
Gerald terbengong-bengong, istrinya dan pria breng*sek itu sudah masuk kedalam sana. Kenapa dirinya malah di jegat?
"Jika anda tamu juga, berikan bukti undangannya?"
Hah? Gerald membeo panjang. Kartu undangan? Bahkan dia tidak tahu ini pesta pertunangan siapa dan bahkan tidak perduli.
"Biarkan aku masuk," kekeuh nya.
"Tidak bisa tuan, kejahatan bisa terjadi di mana saja, saya harus memastikan keamanan anda, jika anda bermasalah anda harus angkat kaki dari sini?!"
Gerald meradang. "Hei, kau tidak tahu siapa aku?!"
"Memangnya anda siapa?" Tanya security dengan culas.
Hah? Ia hampir tidak percaya, di abad ini tidak ada yang tahu tentang dirinya? Benar-benar keterlaluan.
"Aku Gerald angkasa wirasena, pria tertampan versi majalah tahun ini, model terkenal dengan segudang prestasi, kau tahu acara meet gala? Yang di datangi artis papan atas dunia? Aku pernah datang kesana," ucap Gerald dengan congkaknya.
Namun tidak sesuai reaksi yang di harapkannya security itu akan hiperbola, malah menatapnya dengan malas.
"Kalau anda tidak punya undangan, anda tidak bisa masuk," ucapnya mengusir Gerald.
"Tidak, tunggu, tunggu biarkan aku masuk! Istriku ada di dalam!"
"Siapa namanya? Biarkan saya panggilkan."
Tidak. Jika dia menyebutkan nama Isvara, pasti dia akan ketahuan telah menguntit mereka, mau di taruh di mana mukanya nanti? Wajah Gerald tertekuk dalam. security ini benar-benar merepotkan.
"Baiklah." Gerald membuka jas-nya mengambil sesuatu di sana. Sebuah kartu kredit, Gerald menunjukkan dengan sombong.
"Ini adalah golden card, hanya para raja pengusaha tingkat atas yang mempunyai card seperti ini, aku akan memberikannya padamu jika aku boleh masuk."
__ADS_1
Mata security itu langsung berbinar terang seterang rembulan malam ini. Emang semua manusia itu sama saja, mata duitan.
"Apa kartu ini bisa mengeluarkan uang?"
"Tentu saja, bahkan tidak terbatas selama satu tahun, kau bisa memilikinya, seperti lampu ajaib dia bisa mengabulkan apapun keinginan mu," ucap Gerald.
"Baiklah, anda boleh masuk tuan Gerald yang terhormat!" Security itu berucap lantang dengan membungkuk 180 derajat.
Gerald tersenyum miring, melemparkan golden card itu pada sang security. Security itu menangkapnya dengan sekali tangkap.
Gerald menjadi tinggi seperti di atas awan, sungguh mengejutkan, security itu langsung berubah hormat padanya dengan hanya di sogok kartu itu.
Demi ayang, Gerald bisa melakukan apapun.
***
Di dalam Gerald berubah kembali serius, matanya sudah berkeliaran menelisik ke segala penjuru di mana Mahesa dan istrinya berada. Pesta pertunangan ini cukup rame, ia tidak boleh terlalu mencolok agar tidak ketahuan.
Sementara Isvara dan Mahesa berjalan ke arah tempat dua pasang manusia yang akan mengikat janji suci pertunangan, Mahesa menoleh pada Isvara.
"Itu mantanku." pria itu menunjuk dengan arah matanya, seorang wanita cantik dengan gaun mewah berwarna biru gelap yang sangat cocok di kulit putihnya yang seperti susu.
Wanita itu terlihat sangat cantik dan anggun bahkan Isvara cukup terpesona sekilas, lalu menatap Mahesa yang hanya memandang kosong, pantas lah Mahesa tidak bisa melupakannya begitu saja, mereka pasti memiliki kenangan yang indah semasa pacaran.
Kali ini Mahesa menatap kedua bola mata Isvara yang hitam jernih. "Apa kamu akan menemaniku?"
Isvara mengangguk. "Tentu saja, aku adalah pacar pura-pura mu kan?"
Kali ini Mahesa berusaha memaksakan senyum. Hanya pura-pura ya? padahal dia berharap lebih dari itu.
"Kalau begitu baiklah." Mahesa mengambil tangan Isvara dan membawanya masuk ke lengannya yang melingkar. mereka bergandengan seperti sepasang kekasih.
"Ayo kita beri ucapan selamat untuk pertunangan mereka," ucap Mahesa. Isvara mengangguk, berusaha menetralkan deburan jantung.
Tidak apa-apa,ini hanya pura-pura saja.
"Sial, kenapa mereka harus bergandengan tangan!" desis Gerald yang mengintip di balik tubuh para tamu. Ia seperti mata-mata yang sedang mengintai pergerakan mangsanya.
Mahesa dan Isvara berjalan ke arah pasangan itu. sang wanita yang menjadi mantan Mahesa tertegun saat mengetahui kehadiran mereka.
"Hai ... " Mahesa melambaikan tangan.
"M-mahesa, kamu datang?" wanita bersurai panjang itu salah tingkah, calon suaminya pun tampak terlihat canggung.
__ADS_1
Bagaimana tidak mereka menghianati Mahesa, saat pria itu sudah mulai serius dengan sang wanita. Bahkan Mahesa sendiri yang menangkap basah mereka berdua sedang bercumbu mesra di belakangnya. Tapi itu dulu, Mahesa sudah melupakan rasa sakit itu.
"Kenalin, Isvara." Mahesa memperkenalkannya. Isvara sedikit membungkuk, mengulurkan tangannya.
Wanita itu menerima Jabat tangannya. "Giselle, mantan Mahesa. kamu ... pacarnya Mahesa?"
Eh? apa yang harus dia jawab? Isvara menatap Mahesa, Pria itu hanya mengangguk dengan tenang. Lalu Isvara pun hanya mengangguk pada Giselle, tanpa menjawabnya.
Giselle mengerling. "Tidak kusangka Mahesa begitu cepat melupakan ku, padahal dia sangat mencintai ku." Giselle menatap lekat Isvara.
"Itu dulu." Mahesa menyahut dingin. "Jangan samakan dengan sekarang."
Giselle semakin salah tingkah. "Oh ya, perkenalkan calon suamiku, Frans."
Pria jangkung dengan bulu tipis-tipis itu menyapa keduanya, namun tatapannya tak pernah lepas dari Isvara.
"Frans, tunangan Giselle. Oh ya, Mahesa lama gak ketemu." pria itu memeluk setengah badan Mahesa, bersalaman ala jantan.
Giselle menarik lengan Mahesa, dengan spontan pria itu mengikuti langkah Giselle. "Kenapa kau menarik ku?" Mahesa menghempaskan tangan Giselle tak ingin di sentuh. jarak keduanya cukup jauh dari mereka.
"Apa benar wanita itu pacarmu? aku tidak percaya ini? kau melupakan ku begitu cepat?"
"Dia pacarku atau tidak, itu bukan urusan mu," ucap Mahesa.
Giselle malah tertawa. "Kau datang bersama wanita itu hanya untuk memanas-manasi ku saja kan, mana mungkin kau bisa move on secepat itu dari ku."
"Jangan sombong, kau bukan satu-satunya wanita tercantik di dunia hingga aku sulit untuk melupakanmu." Mahesa berusaha menyadarkannya. Sifat angkuh dan congkak Giselle inilah yang membuat hubungan mereka kandas dulu.
Sementara itu Isvara berada berdekatan dengan Frans sedikit canggung, pria itu terus menerus menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. membuatnya risih.
Frans berjalan mendekat. gadis yang di bawa Mahesa ini ternyata lebih cantik dari Giselle. dari mana pria itu menemukan wanita-wanita cantik seperti ini?
Frans jadi memikirkan sebuah rencana jahat di otaknya, bagaimana jika ia menjebaknya dan wanita ini menjadi miliknya, seperti yang dia lakukan pada Giselle saat bersama Mahesa dulu?
Jika dia bisa mendapat gadis ini, dia akan meninggalkan Giselle untuknya.
"Huuuu ... lihatlah dia memiliki tubuh yang padat dan berisi," gumam Frans. otak kotornya tak bisa di kondisikan sekarang.
"Hai, gadis cantik." ia hendak menyentuh Isvara,namun ada tangan seseorang yang menahannya.
Semuanya terkejut, refleks menoleh. Ada Gerald yang kini menghalangi tubuh mungil Isvara agar menjauh dari pria itu. Gerald benar-benar melindungi Isvara.
"Jaga tangan kotormu itu dari istriku!" Gerald berkata dengan nada dingin dan tatapan tajam.
__ADS_1