
"Tahu dari mana kau soal itu?" tanya tuan Aryaloka sesaat setelah keheningan yang cukup panjang terjadi.
"Mommy menceritakannya sendiri. Dan kini kau tidak usah lagi repot-repot menjaga kami, karena aku dan Brinda bukan darah daging keluarga kalian."
"Apa maksud mu? jangan bodoh, meskipun kau tidak lagi mau mengakui tapi Brinda tetaplah keponakan ku." tegas tuan Aryaloka.
Brandon seketika meradang. "Dia adalah adik ku, kemana pun aku akan pergi dia harus ikut denganku!"
"Kau mau pergi ke mana hah? kau pikir bisa gitu hidup di luar sana? dengan keadaan mu yang seperti ini?!"
Brandon mendengkus dengan tangan terkepal erat, tuan Aryaloka memperhatikannya, ia membuang nafas kasar sebelum akhirnya memilih untuk pergi.
Brinda menatap sedih sementara Brandon tetap bergeming dengan kemarahannya.
"Kakak, kenapa seperti itu terhadap om? padahal om Arya sudah sangat baik terhadap kita, meski tahu kita bukan darah daging keluarganya, om Arya tetap baik sama kita, harusnya kakak tidak boleh bersikap seperti itu."
"Alah perduli setan!" Brandon mengumpat keras, Brinda terkesiap kaget, menggeleng pelan.
"Anak kecil tahu apa hah?" bentaknya. "Cepat ambilkan aku makanan yang lain, aku gak mau makan bubur gak enak itu!"
"Terus kakak mau makan apa?" Brinda sudah terlihat sangat lelah dengan sikap kakak kembarnya ini.
"Belikan aku pizza juga hamburger dan minuman soda."
Brinda mengangguk pelan. "Baiklah." meski tak tahu dokter memperbolehkan kakaknya memakan makanan itu atau tidak.
***
Isvara dan Gerald sampai di kediaman wirasena, Gerald mendorong kursi roda sang istri, mereka tersenyum hangat menatap deretan keluarga yang sudah menanti kedatangan mereka di depan teras.
__ADS_1
"Selamat datang Isvara, akhirnya di perbolehkan pulang juga." nenek pertama kali mendekati, meremang cipika-cipiki menuntas kerinduan selama beberapa pekan ini.
"Nenek gak mau cium aku juga," Gerald di belakang Isvara menyahut, terdengar tawa riuh rendah orang-orang.
"Apaan sih kamu ini, udah mau jadi ayah kok masih manja aja?" gurau nenek.
"Walaupun aku mau jadi ayah, aku tetap cucu kesayangan nenek," ucapnya mencium pipi sang nenek.
"Eh enak aja, aku yah yang cucu kesayangan." Brinda tiba-tiba menyahut memeluk sang nenek dari belakang.
"Eh bocah ingusan, aku yang cucu tersayang, kamu mah anak yang kebetulan di temuin di semak-semak," ucap Gerald yang mana tidak bermaksud apa-apa hanya sekedar menggoda sang adik.
Brinda mencak-mencak. "Lihat noh nek, kelakuan kak Gerald?" ucap Kayra belagak merajuk.
Nenek tertawa. "Sudah-sudah kalian semua cucu kesayangan nenek." nyonya Triani lalu memanggil Mahesa untuk mendekat. "Sini Mahesa, kita reunian dulu."
Mahesa terkejut saat namanya di panggil, sejak tadi dia memang hanya menyimak sambil tertawa seperti yang lain, ia cukup sadar diri akan statusnya di rumah ini, namun mendengar nenek yang memanggil namanya entah kenapa membuat dada Mahesa menghangat.
Lalu dia maju, ikut bersama-sama memeluk nenek, seketika moment ini menjadi haru, tuan Aryaloka dan Indira sang istri saling memandang sambil tersenyum, para pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka juga ikut merasakan haru, terutama Andini yang setia menatap Mahesa selalu.
Melihat tatapan yang seperti memuja Andini pada Mahesa, menimbulkan kecurigaan Dewi yang melihatnya, Dewi pun menyenggol lengan Andini.
"Ciee, yang ngeliatin doi terus?" godanya sambil mengedipkan mata.
Andini tersenyum malu-malu. "Apasih Wi."
Namun saat tatapannya kembali tertuju pada Mahesa, senyum Andini seketika luntur Ketika melihat tatapan Mahesa pada Isvara, tatapan lembut dan penuh damba.
Andini sudah mengetahui lama sebelumnya tentang kisah Isvara dan Mahesa yang tak sampai, terlebih sekarang saat melihat tatapan Mahesa untuk Isvara membuat Andini semakin yakin jika Mahesa masih menyimpan perasaan untuk nyonya mudanya itu.
__ADS_1
Meskipun Andini tak usah khawatir, karena Isvara sudah memiliki Gerald yang sangat mencintainya, namun melihat bagaimana Mahesa memperlakukannya Isvara Membuat Andini tak yakin apakah dia bisa membuat Mahesa move on dari cinta masa lalunya itu?
Andini seketika menggeleng saat memikirkan hal itu. "Lancang sekali kamu Andini." ia merasa percaya diri jika Mahesa akan mencintainya, apa-apaan itu!
Andini sudah menekankan pada dirinya sendiri jika Mahesa selama ini baik padanya bukan dia bisa suka padanya, lagipula siapa lah dirinya, siapa pula Mahesa.
Derajat mereka tak sama begitupula kasta. jika berkaca pada cermin sangat jauh perbedaannya.
"Andini kamu harus banyak-banyak sadar diri!" tekannya pada diri sendiri.
Selama dia mengenal Mahesa selama itu pula tingkat ke insecure- annya semakin tinggi, meskipun ada rasa suka dalam dirinya saat ini, Andini harus mengubur dalam-dalam. Tak boleh, tak boleh ada perasaan seperti itu.
"Dini, kamu kenapa?" Dewi memegang pundaknya, Andini tersadar lalu menggeleng.
"Gak apa-apa," ucapnya Namun ada perasaan berkecamuk dalam dirinya saat ini.
"Kalau begitu aku ijin ke belakang dulu ya wi, masih ada tugas yang belum ku selesai kan."
"Eh tunggu Din--" belum sempat Dewi menyelesaikan ucapan, Andini sudah lebih dulu pergi.
"Dia kenapa ya? perasaan tadi masih bisa ketawa-ketawa." Dewi menggidikkan bahu, bingung sendiri.
Sementara Mahesa sedang mengobrol beberapa kata dengan Isvara, meskipun sudah kenyataan jika tidak pagi bisa menyematkan perasaannya untuk Isvara, bukan berarti Mahesa ingin hubungan mereka retak, sejak awal Mahesa ingin Isvara menjadi wanita yang bisa ia lindungi, meskipun tak bisa memiliki asalkan melihat Isvara bahagia Mahesa juga ikut bahagia
Dirinya kini sudah benar-benar lega pada perasaan yang dulu membebaninya.
Kini malah datang seorang gadis yang dengan lancangnya mengobrak-abrik hatinya lagi, namun ia pun tak peka perasaan apa itu.
Kini ia melihat gadis itu sedang berjalan ke arah belakang, seketika senyumannya terbit Membuat lubang di pipi kirinya ikut terlihat.
__ADS_1
Akankah kali ini ia peka pada perasaannya sendiri?