
Mendengar penuturan Gerald, wanita itu malah mrmgerut alis, bukan apa, tapi dia tetap waspada pada pria asing di depannya.
"Wanita yang anda bicarakan itu tidak ada di sini, permisi!"
"Tunggu!" Bodyguard Gerald menahan daun pintu yang hendak di tutup. "Beraninya kau menolak tuan muda kami!"
"Apa-apaan kalian! sudah ku duga kalian ini memang bukan orang baik-baik!" wanita itu berteriak, bermaksud agar semua orang mendengar dan membantunya.
Suara deru mobil terdengar mendarat masuk ke halaman, pertanda tuan besar rumah ini sudah datang. Wanita itu melebarkan mata,menghela nafas lega.
Gerald mengikuti arah pandang wanita itu, seorang pria dengan wibawanya yang tinggi, memakai selendang sutra di lehernya itu mendekat, langkahnya sungguh sangat tangguh, jiwa kepemimpinan tampak sangat terpancar dari dirinya.
"Ada apa ini?" pria itu melirik ke arah Gerald dan antek-anteknya,lalu menatap wajah ketakutan pelayanannya ini.
"Ada Surti? siapa para pria-pria ini?" tanya Pak Damian pada salah satu pembantunya ini.
"Ini tuan, saya juga tidak tahu, mereka tiba-tiba datang kesini, juga memaksa-maksa saya."
"Hei, siapa yang memaksa kamu? jangan membuat alibi yang tidak-tidak!" salah satu bodyguard Gerald tidak terima.
Gerald berdeham, lalu menepuk pundak bodyguardnya itu. "Tidak apa-apa."
"Jadi anda tuan Damian? perkenalkan saya Gerald angkasa wirasena--"
"Tunggu, tadi kau bilang siapa? namamu Gerald?"
Gerald mengangguk. "Ya, saya Gerald."
Raut wajah pak Damian berubah. "Lebih baik kau cepat pergi dari sini!"
Gerald merasa kebingungan. "Hah? kenapa?"
"Kau datang kesini pasti bermaksud untuk menemui seseorang kan?"
"Ya, itu benar, saya ingin menemui istri saya, dan menjemputnya untuk pulang ke rumah!"
"Sayangnya itu tidak akan mungkin, lebih baik kau cepat pergi dari sini?!"
"Hei, memangnya anda siapa? saya kesini ingin menjemput istri saya, dan tidak ada yang bisa menghalanginya itu!"
Pak Damian malah tertawa. "Kau bahkan tidak tahu siapa aku? aku adalah paman dari Isvara, dan tidak akan ku biarkan kau menyakiti keponakan ku lagi!"
Gerald terkejut, matanya melebar sempurna. "Anda pamannya Isvara? saya benar-benar tidak tahu, maafkan saya." nada bicaranya mendadak melembut.
"Saya tidak membutuhkan permintaan maaf mu, sekarang lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan pernah mencari Isvara lagi!"
*Tidak bisa!" Gerald menggeleng. "Saya sudah kehilangan dia sebelumnya, kali ini saya tidak akan mungkin kehilangan dia yang kedua kalinya."
__ADS_1
Pak Damian mendengkus. "Memangnya sejak kapan kau memilikinya? kamu pikir saya tidak tahu apa saja yang kamu lakukan kepada keponakan saya selama ini?"
"Kamu hanya memberikannya penderitaan saja selama ini, tidak akan saya biarkan kamu memberikan penderitaan itu lagi padanya, sekarang lebih baik kamu pergi sebelum saya panggil satpam!"
****
Sementara itu di waktu yang sama, Isvara menikmati tour keliling desa ini dengan senyum merekah, Dira dengan sabar menjelaskan semua tentang desa ini padanya, mereka berkeliling di sepanjang jalan yang sudah ramai karna karnaval akan segera di mulai.
"Desa ini te masih kental sama budayanya, juga hal-hal yang mistis yang di ada sejak zaman nenek moyang." tutur Dira.
"Kamu tahu balai desa di sana?" Dira menunjuk bangunan di depan mereka, Isvara mengangguk antusias.
"Itu dulunya te kandang kambing." pria itu tersenyum jenaka.
Isvara tergelak. "Kamu lagi ngelucu?"
Dira mengangguk, tertawa garing. "Gak lucu ya?"
Isvara ikut tertawa. "Enggak, cuma kirain aku, kamu bakal ceritain hal mistis gitu, gak nyangka malah lagi ngelucu."
Mereka sama-sama tertawa akhirnya, benar kata sang paman, Dira memang pribadi yang supel dan menyenangkan, dia jadi teringat dengan Dewi, yang sifatnya sebelas duabelas dengan pria ini. Ah, Isvara jadi teringat tentang rumah itu lagi. Juga kenangannya.
Kira-kira bagaimana kabar Gerald sekarang? bagaimana dengan pria itu?
Isvara menggeleng-geleng keras, kenapa pria itu selalu terbayang di pikirannya akhir-akhir ini? tidak boleh, Isvara harus melupakannya.
Isvara yang awalnya murung seketika tersenyum kepada Dira. "Eh, iya ayo!"
Benar, seharusnya dia menikmati suasana baru ini juga karnaval yang akan dia liat nanti, tentang Gerald, tentang keluarga wirasena, dia harus melupakannya dari sekarang.
***
Kembali lagi pada perseteruan antara Gerald dan pak Damian, yang kini malah semakin ramai karena kedatangan Rosmini, istri dari pak Damian, yang awalnya mendengar keributan mereka berdua.
"Astaga dragon, siapa pria tampan ini? Pak, dia siapa pak?!" wanita itu berteriak histeris, dengan masker wajah yang kini terlihat retak karna terlalu lama dia membilasnya.
"Kenapa kamu keluar? lebih baik kamu masuk dan bilas wajah mu," protes pak Damian, yang merasa malu dengan sikap sang istri.
"Tampan, apa kamu duda? kok kamu kaya hot Dedy? nikah sama anak Tante yuk, kebetulan masih perawan tulen sekarang lagi kuliah di luar kota."
"Kan kalau sama Tante gak mungkin? sudah punya suami Hahahaha!" wanita itu tertawa kencang hingga alis katulistiwa miliknya ikut mengkerut karenanya.
Gerald memasang wajah jijik, wanita yang memakai daster polkadot ini lebih terlihat seperti artis pelawak dari pada isteri seorang saudagar kaya.
"Rosmini, Jangan membuat malu, Surti bawa nyonya masuk ke dalam!"
Pembantu yang berdiri di balik pintu itu mendekat dan mengangguk takut-takut. "Ayo, Nya kita masuk."
__ADS_1
"Eh, tunggu-tunggu, papah punya tamu ganteng kok di anggurin di depan pintu, ayo masuk." Rosmini memandang penuh damba kepada Gerald, membuat pria itu malah berjengit, ginjalnya hampir keluar dari tempatnya karena tangan Rosmini mengenggam kuat lengannya.
Pak Damian geleng-geleng kepala, Membuang nafas kasar. "Rosmini! sekarang kau masuk, atau tak ada emas terbaru untuk bulan ini!"
Ancaman itu sontak membuat Rosmini membeku, wanita itu menoleh lalu tersenyum pada sang suami. "Ehehe, iya pah, aku masuk." lalu wanita itu melenggang masuk ke dalam, setelah memberikan kedipan maut kepada Gerald.
Gerald bergidik, jika dilihat-lihat pak Damian begitu berwibawa dan berkharisma, mengapa istrinya sangat berbanding terbalik dengan dirinya? sungguh Gerald rak habis fikir. Namun bukan saatnya dia memikirkan hal itu.
"Paman saya mohon, tunjukkan di mana Isvara berada, berikan saya satu kesempatan untuk menjelaskan padanya."
Pak Damian menatapnya. "Apa yang harus saya percayai dari omongan mu?"
Gerald menegakkan pundaknya. "Saya janji ini yang terakhir kali, jika saya tidak bisa meyakinkan Isvara, saya akan pergi dari sini!"
Pak Damian menatap lekat matanya, suatu trik saat ingin membaca pergerakan seseorang, namun pak Damian tidak menemukan kebohongan di sana, melainkan kesungguhan dan tekad yang begitu jelas.
Pak Damian akhirnya menyerah, dia pun tidak bisa terlalu ikut campur bagaimana pun ini urusan Isvara dan Gerald, dirinya hanya akan menjadi perisai untuk keselamatan sang keponakan.
"Baiklah, Isvara saat ini tidak ada di rumah, dia sedang menghadiri karnaval di lapangan bola dekat balai desa."
"Pergilah sekarang, dan buktikan ketangguhan cintamu."
***
Isvara dan Dira menikmati iring-iringan karnaval yang di adakan setiap tahunnya ini, ada banyak orang-orang yang memakai kostum serupa kartun atau bentuk yang sesuai dengan keinginan mereka, disini juga ada pameran dengan segala macam makanan tradisional dan jajanan kaki lima.
"Ini menyenangkan bukan?" tanya Dira yang di angguki Isvara.
"Hanya ada di desa ini, kau tahu?" pria itu sedikit berteriak karna kebisingan lalu tersenyum.
"Kau mau?" Dira memberikan kantung plastik berisi jajanan yang baru saja dia beli. Isvara menerimanya, tersenyum. "terimakasih."
Lalu wanita itu membukanya, ada beragam jajanan yang di beli Dira, namun tatapan Isvara malah terfokus pada telur gulung yang masih panas. seketika dia teringat dengan Gerald, tentang momen mereka saat kencan dulu, ada rasa sesak yang kini menghampiri.
"Gerald, sangat suka dengan telur gulung." Isvara tertawa saat mengatakannya namun ada rasa pedih di baliknya.
"Kenapa?" Dira bertanya karna mendengar sekilas perkataan Isvara.
Isvara menggeleng. "Tidak apa-apa."
Saat itulah matanya menatap lurus ke depan, Isvara membelalak terkejut saat melihat seorang pria dengan kemeja putih dan nampak mencolok sedang berlari ke arahnya.
Isvara diam mematung, hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang seakan membeku, waktu seperti berhenti, dan hanya Gerald yang kini semakin mendekat ke arahnya.
Pria itu lantas memeluknya, membawa Isvara ke dalam dekapannya, wangi maskulin yang sangat Isvara kenali kini kembali tercium. deru nafas Gerald sangat hangat menerpa telinganya.
"Aku sangat merindukanmu, baby." bisik pria itu dengan suara bergetar.
__ADS_1