TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
40. Berbalik arah


__ADS_3

Bugggh! Bogeman mentah mendarat sempurna di rahang tegas milik Brandon.


Gerald mengecengkan urat-uratnya, darahnya serasa memanas mendengar apa yang keluar dari mulut pria itu.


"Lebih baik Lo pergi, sebelum gue bikin koma!"


Brandon berdiri, ia pun tak kalah emosinya dengan Gerald. "Lo apa-apaan sih kenapa lo malah nonjok gue?!"


"Lo masih nanya?!" Gerald mencengkeram kerah baju pria itu.


"Dengan entengnya lo nawarin istri gue sebagai taruhan? Gue bisa aja bikin lo mati disini, kalau lo gak cepet pergi."


"Oh, lo mulai ada rasa nih sama si kampungan itu?" Brandon terkekeh,seolah menantang.


Amarah Gerald semakin meningkat, pria itu lalu mendorong Brandon, dan memukulnya habis-habisan, semua karyawan dan staff yang mendengar keributan itu berkumpul dan mengerumuni mereka.Namun tak ada yang bisa melerai saat tahu tuan mereka yang ada di sana.


Brandon sama sekali tak melawan, karna inilah yang dia inginkan, Membuat citra seorang Gerald angkasa wirasena sebagai CEO di sini semakin buruk. Dia akan membuat Gerald mempermalukan dirinya sendiri.


Namun Samuel datang, melihat perkelahian kedua orang itu Samuel segera saja menembus kerumunan dan melerai mereka.


"Gerald, berhenti. Lo mau bikin dia mati?!" Samuel mendesis lalu menarik tubuh Gerald dari belakang.


Karna badan mereka yang sama-sama besar, Samuel berhasil menarik Gerald dari Brandon. Nafas pria itu tersengal-sengal masih menatap Brandon dengan amarahnya.


"Untuk kalian semua, pergi dan kembali ke tempat masing-masing! Ini bukan pertunjukan komedi yang bisa kalian tonton!"


Mendengar titah langsung dari kaki tangan Gerald itu, semua orang langsung melipir pergi, meski masih banyak bisik-bisik yang terdengar dari mereka.


"Buat lo Brandon, cepet pergi dari sini."


Brandon menatap Samuel. "Atas hak apa Lo nyuruh-nyuruh gue? Lo itu cuma kacung nya si tuan muda gila ini," desisnya.


"Brandon!" Kali ini Samuel berusaha meredam emosinya.


"Cepet pergi dari sini, sebelum gue lepas Gerald dan bakal habisin lo."


Brandon diam, dia pun sudah terluka sangat parah, dia akhirnya mengalah dam berdecih sebelum akhirnya pergi dari sana.


***

__ADS_1


"Lo bisa gak sih stabilin emosi lo sebentar saja, kalo begini gue yang cape setiap lo berkelahi gue yang harus kelarin!" Samuel mengomeli pria di sampingnya ini.


Gerald mengerling masa bodoh, pria itu menarik dasinya dan menyandarkan punggung di kursi kebesarannya.


"Kalo lo capek ngapain repot-repot tadi, biarin gue habisin si bedebah tadi!"


Samuel membuang nafas. "Kalo begitu ceritanya citra perusahaan ini bakal semakin buruk, siapa yang mau bekerja sama dengan CEO-nya yang punya reputasi buruk dan galak kaya lo."


"Lagipula om Arya udah nitipin lo ke gue. Lo kaya anak kecil tau gak, sumpah dah."


"Ck, bawel lo kaya perawan pms." Gerald menarik tubuhnya dan menopang dagu.


"Di bilanginnya," Samuel geleng-geleng kepala.


"Sam, kayanya gue udah mulai sadar."


"Sadar? Gak mungkin kayanya, sekarang aja lo masih kaya kerasukan jin."


"Ck, gue beneran."


Samuel tertawa. "Oke-oke, kita serius, sekarang apa yang lo sadarin dari perasaan lo."


"Gue gak bisa ngilangin dia dari pikiran gue, setiap detik, setiap menit, setiap jam,setiap hari selalu ada dia, gue gak mau dia di milikin pria lain, tapi gue mau dia tetep tersenyum, dan bersama gue gak bisa bikin dia bahagia."


"Gue harus gimana?" Ujarnya prustasi.


"Berubah," cetus Samuel.


"Kalo lo pengen dia tetep di sisi lo, ubah dari lo sampai benar-benar lo pantes buat dia."


Gerald tampak tercenung. Memikirkan kata-kata Samuel itu.


***


Di rumah suasana tampak dingin malam ini, hanya ada Gerald dan Isvara saja. para pembantu sudah pulang ke rumah belakang tempat mereka tinggal. Arini dan putrinya Brinda, pergi berlibur dan sudah berpamitan dengan Gerald tadi siang, sedangkan Brandon tak pernah pulang kesini sejak kemarin, pria itu sudah kembali ke apartemennya.


Di meja makan Gerald makan seorang diri, Isvara mungkin sudah kembali ke kamarnya sesudah ia menyiapkan lauk untuknya.


Meski tangannya terus menyuapi makanan ke dalam mulut, namun pikiran Gerald tak tentu arah, dia bingung harus mengutarakan perasaan sesungguhnya pada Isvara mulai dari mana.

__ADS_1


Gerald menyesal, itu tentu saja. Apapun yang dia lakukan tak akan bisa menyembuhkan hati Isvara yang sudah sangat terluka karena nya. perbuatan dan perkataan kejam darinya pada Isvara adalah hal yang paling di sesali seumur hidupnya.


Gerald tak sadar dirinya melamun sampai mana, hingga terdengar suara seperti benda jatuh sangat keras sampai menyadarkannya.


Gerald mengedarkan pandangan, lalu terdengar suara Isvara dari arah dapur, pria itu buru-buru berlari menyusul.


Sampai di sana Gerald terpekik, di lihatnya Isvara yang terjatuh dan mengerang kesakitan, badannya terguyur air yang ternyata bersumber dari kran air yang bocor.


Gerald buru-buru mendekat, mengecek keadaan Isvara. "Apa yang terjadi?" tanya nya sambil berusaha menekan arus air yang justru malah membuatnya ikut basah.


"A-aku tadi mencuci tangan tapi kran nya tiba-tiba lepas dan airnya keluar begitu saja," ucap Isvara sambil meringis sakit.


Gerald segera saja membuka pipa dan menutup sambungannya, sumber air terhenti, namun tidak dengan tubuh mereka yang basah semua.


"Kakiku, kakiku tidak bisa di gerakan," Isvara mendesis merasakan kakinya yang teramat sakit karna terkilir.


Gerald segera saja membuka jas-nya yang masih melekat lalu meletakkannya untuk menutupi tubuh Isvara, lalu dengan sekali gerakan pria itu membawa tubuh Isvara dalam dekapannya dan menggendongnya ala bridal style.


Isvara tentu sangat terkejut, tanpa sengaja tangannya memeluk leher pria itu untuk mempertahankan diri.


"K-kenapa kau menggendong ku," ucapnya terbata, ia kedinginan.


"Kakimu sakit kan? aku akan membantumu," ucapnya memandang Isvara. ntah kenapa, walaupun sampai seribu kali ia memandangnya, Isvara tetap sangat cantik.


Menyesal ia pernah mengatakan Isvara adalah gadis buruk rupa dan jelek. nyatanya ia termakan omongannya sendiri.


Gerald lalu membawa Isvara ke sofa ruang tamu dan menarik pelan-pelan kakinya agar sejajar dengan tubuhnya. Isvara memejamkan mata merasakan sakitnya dan itu membuat Gerald ikut tersiksa.


"Apakah sangat sakit?"


Isvara mengangguk, lalu perlahan ia membuka mata melihat tatapan sendu Gerald padanya. Tatapan yang tak pernah Isvara lihat sebelumnya dari pria itu.


"Apakah lebih sakit dari Penderitaan yang selama ini kuberikan?" lirih pria itu.


"Tentu saja tidak," nada Isvara terdengar tajam. "Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit yang kau berikan."


Gerald mengangguk sedih. "Aku tahu, itu tidak ada apa-apanya."


Pria itu lalu mendongak, iris matanya yang berwarna hazel menatap netra gelap Isvara.

__ADS_1


"Tapi bisakah kali ini aku berbalik arah? berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita."


__ADS_2