
Pagi yang cerah, mentari merangkak naik dengan masih malu-malu, Membawa hawa sejuk pada atmosfer bumi, Membuat para insan makin betah berlama-lama dalam peraduan mereka, merajut mimpi.
Terkecuali Gerald tentunya, pria itu sudah rapi dan gagah dengan style jas kantornya yang sedikit di modifikasi menjadi kekinian Membuat penampilannya semakin tampan.
Karna apa? Karna hari ini adalah awal yang baru untuk Gerald yang baru.
Yey! Harusnya kita tumpengan ini xixi.
Perlahan-lahan,sedikit demi sedikit Gerald akan merubah sifatnya yang dulu buruk menjadi lebih baik.
Gerald menuruni anak tangga satu persatu dengan gaya ciri khasnya. Membuat semua pasang mata yang ada di bawah menatap takjub mahakarya tuhan satu ini.
"Waah tuan muda cool banget Nel, lihat deh." Bisik Dewi menyikut Nela.
Nela yang sedang membersihkan debu dengan kemoceng di tangan pun ikut menoleh. Dan benar saja, cahaya ilahi yang di pancarkan tuan muda itu langsung menyilaukan matanya.
Dada Nela mendadak berdebar kencang. "Sial, jika seperti ini aku bisa semakin jatuh cinta padanya." Gumamnya dalam hati.
Ya, sejak pertama Nela menjadi pembantu di rumah ini, Nela sudah jatuh hati pada Gerald saat pandangan pertama.
Seorang maid yang jatuh cinta pada tuannya sendiri. Begitulah keadaannya sekarang.
Namun apalah daya, Nela hanya bisa mengagumi Gerald dalam diamnya, dia tidak bisa bersaing dengan Laura-- kekasih pria itu, apalagi sekarang ada kedatangan Isvara, gadis yang membuat Gerald seperti lupa daratan.
Membuat Nela berdecih, karna saingannya semakin banyak.
Nela ini memang tipikal wanita yang suka halu tapi gak tau diri. Meskipun tau dia gak bisa bersama Gerald tapi dia tetap memaksakan Gerald bisa saja jatuh cinta padanya.
Seperti dalam novel romantis yang selalu ia baca,di mana sang pangeran bisa jatuh cinta pada rakyat biasa. Atau tuan muda kepada pembantunya.
Meskipun berbeda status dan kasta mereka akhirnya hidup bahagia.
Tapi sayangnya ini bukan kisah mu Nela. Di hati tuan muda incaran mu itu sudah terpahat satu nama seorang gadis dan selamanya akan tinggal di dalam hatinya.
Nela yang malang ...
"Selamat pagi tuan muda." Nela membungkuk tersenyum hangat.
Mencari perhatian kecil seperti ini adalah salah satu caranya agar selalu dekat dengan sang pujaan hatinya.
Tapi Gerald tetaplah Gerald, meskipun pria itu bisa hangat hanya di tunjukkan pada Isvara saja, di luar itu dia tetaplah es yang selalu membeku.
Gerald hanya menatapnya itupun bukan tatapan ramah, lalu pria itu berlalu saja tanpa mau repot-repot membalas sapaan Nela.
Membuat Nela mendesah panjang. dia sudah biasa tak di acuhkan seperti ini. Pria itu terlalu jauh untuk bisa ia gapai.
"Kapan aku bisa lebih dekat dengan mu, Gerald."
***
Di meja makan perubahan sikap Gerald semakin kentara. Jika dulu dia selalu mencak-mencak dan marah-marah tak jelas Karna makanan yang tersaji tak sesuai selera, kali ini pria itu tampak santai.
Gerald sesekali akan mengulum senyum pada anggota keluarga yang akan duduk, terkecuali pada Indira dan Mahesa. Gerald masih belum bisa untuk mereka.
Isvara tentu menyadari hal itu. banyak ia di ceritakan sang nenek, betapa Gerald Sangat membenci nyonya Indira, karna pria itu berfikir kasih sayang papanya di rebut oleh wanita keibuan itu.
Padahal kenyataannya tidak, nyonya Indira sangatlah menyayangi Gerald dan juga Kayra, kasih sayangnya tak pernah ia bedakan di antara ketiga anaknya.
__ADS_1
"Gerald,kamu tidak menyapa mama?" celetuk Isvara.
Wajah Gerald yang tersenyum padanya berubah masam. "Untuk apa?"
"Tapi mama--"
"Isvara." ucapan Isvara terpotong oleh sang nenek, wanita tua itu menggeleng. "Tidak sekarang nak."
Isvara mengerti, ini meja makan memaksa Gerald sama saja dengan membawa keributan.gadis itu akhirnya diam.
****
"Gerald,kamu bilang akan berubah kan? kenapa sikapmu pada mama dan Mahesa tetap sama?" tanya Isvara saat ia mengantar Gerald sampai depan gerbang.
"Jangan memaksaku Ra, menerima wanita itu tak ada dalam kamus kehidupan ku," ujar Gerald, Membuat Isvara sempat mengerutkan wajah.
"Kenapa seperti itu? sampai kapan kamu begini terus, kamu bukan anak-anak lagi kan."
"Apa salahnya menerima mama Indira sebagai mama mu juga, dan menerima Mahesa sebagai saudara mu."
"Ra please ... jangan memaksaku." pria itu menggeleng pelan.
"Sampai kapan pun ibuku hanya mama Rani, walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, aku tetap tidak bisa menerima wanita itu sebagai ibuku."
"Tapi Rald ..." Isvara hendak bicara lagi tapi terputus oleh ucapan Gerald.
"Beri aku waktu ... oke?" lalu pria itu pergi masuk ke mobilnya.
Isvara mendesah pelan. Bagaimana cara dia untuk meyakinkan Gerald?
***
Awal yang baik untuk menjadi manusia yang lebih baik pun sepertinya akan gugur.
Karna lagi-lagi pria itu melampiaskan kekesalannya pada para bawahannya.
"Apa-apaan ini?!" suaranya menggelegar seperti petir yang hendak menyambar. proposal di tangannya berhamburan ntah kemana karna dia lempar.
"Kau bisa kerja gak sih, dasar bodoh!" makinya pada karyawan di salah satu divisi.
"Kerja gak becus begini, gimana perusahaan mau maju?!" bentaknya, Membuat kelompok divisi itu ketakutan setengah mati.
"M-maaf pak, kami sudah mengecewakan anda," ucap sang ketua.
"Pokoknya saya gak mau tau, buat ulang dan laporkan rinciannya ke saya atau pada Samuel, kirim pada email, saya kasih waktu sampai jam makan siang ini!"
"Tapi pak--" mereka hendak protes, tapi suara menggelegar Gerald lagi-lagi mengagetkan mereka.
"T-tidak pak. kami akan lakukan." Lalu semuanya melipir pergi setelah membungkuk hormat.
Gerald menghembuskan nafas perlahan, pria itu menyenderkan punggungnya pada bagian kursi.
"Lo kenapa Ger, hari ini marah-marah Mulu, kek janda pms lo." celetuk Samuel namun yang di dapatnya tatapan tajam dari pria itu membuat Samuel seketika diam.
"Sam ... apa harus banget gue nerima wanita itu?"
"Wanita apa? yang mana? lo punya selingkuhan?"
__ADS_1
"Gak lah ogep. maksud gue Si Indira itu, mama tiri gue."
"Oh, ya, itu sih terserah lo."
Samuel tentu sudah sangat hafal hubungan Gerald dan Tante Indira memang tidak terlalu baik, Gerald selalu menyalakan wanita itu yang merebut papanya. tapi sebenarnya menurut Samuel,pria itu hanya salah paham.
"Tapi gue gak bisa ... Lo tau saat papa menikahi wanita itu saat-saat di mana gue lagi terpuruk banget sama Kayra, saat-saat gue dan Kayra masih membutuhkan sosok mama, papa malah lebih memilih pergi dengan wanita itu dan anaknya."
"Sepuluh tahun berlalu Ger, Lo mau sampai kapan?*
Gerald menggeleng. "Gue gak bisa Sam."
Samuel Membuang nafas. "Terserah lo deh."
***
Malam tiba, Isvara sudah menunggu kepulangan Gerald lebih dari sejam lalu. tapi mobil pria itu tak kunjung datang.
Gerald memang memutuskan tidak pulang kerumah melainkan ke apartemennya.Pria itu perlu untuk menyendiri dulu. Sedangkan di sini Isvara dengan setia menunggunya pulang.
"Apa dia marah padaku?" gumam Isvara yang menatap kosong ke arah pelataran gerbang.
"Isvara." seseorang memanggilnya. Isvara menengok.
"Nenek ... " Isvara tersenyum, sang nenek berdiri berhadapan.
"Menunggu Gerald?" Isvara mengangguk sebagai jawaban.
"Nenek rasa Gerald tidak akan pulang kesini, dia mungkin berada di apartemennya."
Isvara menunduk lalu seperkian detik dia mendongak lagi saat merasakan tepukan di pundak.
"Kemarilah, nenek ingin bicara sebentar."
Isvara mengikuti dari belakang, sang nenek duduk di sofa ruang tamu, sudah ada nyonya Indira juga di sana. ia tersenyum pada mama mertuanya itu.
Mereka duduk dan berbasa-basi sebentar, sampai pada ujung topik yang akan di bicarakan.
"Isvara mama tau niatmu baik ingin Gerald berubah. tapi bisakah untuk hubungan mama,kamu tidak memaksa Gerald?"
Isvara mengernyit. "Maksud mama?"
"Gerald itu keras kepala sayang." jawab sang nenek.
"Jika menurut dia A maka A jika menurut dia B tidak bisa di rubah C, kamu mengerti kan?"
Isvara mengangguk perlahan.
"Gerald itu sejak kecil selalu menjadi kesayangan keluarga ini, sebelum Kayra lahir dia selalu di nomor satukan, Seperti putra mahkota hal yang dia inginkan selalu akan menjadi miliknya dan itu membuatnya sedikit sombong."
"Hubungan mama dan Mahesa memang tidak terjalin baik dengan Gerald," ucap nyonya Indira.
"Tapi mama tidak akan memaksa Gerald sampai kapan pun, karna tahu watak dan kepribadiannya, jika semakin di paksa Gerald akan semakin benci dan semakin membangkang."
"Jadi bisakah kamu jangan terlalu memaksanya, biarkan hubungan kami begini saja," ucap nyonya Indira Membuat Isvara tak habis fikir.
Lalu mau sampai kapan? gumamnya.
__ADS_1
"Yang terpenting Sekarang ini hubungan my dulu dengan Gerald, ya sayang." sang nenek mengenggam tangannya.
Nyonya Indira pun tersenyum. "Kami menantikan jawaban kalian setelah enam bulan ini, jadi fokuslah dulu pada hubungan kalian ya."