
"Gerald, papa ingin bertanya padamu, apa benar kamu yang menghamili Laura?"
Jedder! Bagai petir yang menyambar di siang bolong, pertanyaan itu membuat Gerald mematung seketika.
Matanya terbuka lebar seperti bola matanya akan keluar dari tempatnya. Pria itu menahan nafas selama beberapa detik.
Begitupun dengan Isvara yang langsung menatap sang suami, hal yang begitu mengejutkannya Membuat persendiannya seakan luruh.
"Apa-apaan, aku tak pernah menyentuh wanita itu pah, bagaimana mungkin aku menghamilinya?!"
"Alah, gak usah berkelit lagi," pak Reno menyerempet. "Maling ngaku penjara penuh!"
"Tapi pak Reno, saya benar-benar tidak pernah menyentuh putri bapak,tanya saja pada anak anda sendiri?"
Semua orang menengok ke arah Laura yang kini semakin histeris dengan tangisannya, sungguh aktris yang harus di acungi dua jempol. Kepiawaiannya dalam bersandiwara memang tak usah di ragukan lagi.
"Gerald, Kau menuduh ku berbohong gitu?" Laura menahan isakannya. "Siapa lagi ayah bayi ini jika bukan dirimu?" Laura mengelus-elus perutnya, semakin mendramatisir.
Gerald menatap nyalang padanya. "Kenapa kau berbohong?!"
"Sungguh ayah,mah aku tak berbohong," Laura melirik orang tuanya.
"Pria itu yang telah menanam benihnya padaku! Aku berani bersumpah!" Ucapnya tak main-main.
"Laura!" Gerald tak bisa menahan amarahnya. "Sebaiknya kau hentikan sandiwara mu itu?!"
"Kau menuduh anakku bersandiwara gitu?!" Pak Reno naik pitam,lalu ia menatap papa Gerald.
"Tuan Aryaloka, saya tidak mau tahu, Gerald harus mempertanggungjawabkan kesalahannya, dia harus menikahi Laura secepatnya!"
Deg! Semua terperangah, Gerald menatap Isvara, wanita itu menatap nanar padanya, bulir air mata sudah menggantung di pelupuk netranya.
"Sayang, ini gak benar, aku bisa jelasin semuanya?!" Gerald menahan tangannya, mengusapnya lembut, mengecupnya berkali-kali.
Namun Isvara menarik tangannya kasar, terlihat guratan kekecewaan di raut wajahnya, wanita itu menggeleng lemah, sesekali menyeka air mata yang merengsek ingin keluar.
"Aku tak menyangka kamu sebej*at ini!" Isvara menatap Gerald dengan tajam.
"Ku mohon, percayalah padaku," Gerald berkata lemah, tak tahu harus menjelaskannya mulai dari mana.
__ADS_1
Sementara Laura di pelukan mamahnya, diam-diam mengulas seringai tipis, matanya lalu mengarah pada seorang pria yang duduk tak jauh dari mereka, dan pria itupun membalas seringainya dengan senyum licik yang di sembunyikan.
"Bagus, rencana mu memang benar-benar bagus."
"Aku tahu, rencana yang ku susun tak pernah gagal."
Begitulah kira-kira yang Laura dan Brandon ucapkan dalam telepati melalui tatapan mereka. Dua orang itu memang sangat licik, memanfaatkan situasi yang memang seharusnya tak pernah di munculkan.
"Jika kau bukan ayah dari janin itu, apa yang harus kami percayai? jelas, semua orang pun tahu jika kalian adalah sepasang kekasih, dan kau sangat mencintai wanita itu?" ucap nyonya Triani pada Gerald dengan menunjuk Laura.
"Itu dulu nek, aku sudah memutuskan hubungan ku dengannya sebulan yang lalu, aku bahkan tak pernah mencintainya."
"jahat sekali perkataan mu Gerald, setelah apa yang kamu lakukan,kamu bilang tidak pernah mencintai ku?" Laura terisak.
"Kamu bahkan sudah berjanji akan menikahi ku setelah perjanjian pernikahan selama enam bulan kamu dan gadis itu berakhir, dimana janjimu?" Laura menatap Gerald dan Isvara bergantian.
Isvara terkejut, benarkah Gerald pernah menjanjikan hal itu pada Laura?
"Katakan padaku, apa kau benar menjanjikan hal itu pada Laura?" tanya Isvara.
Gerald menggeleng pelan, mengambil dan menggenggam tangannya. "Ku akui itu benar, tapi itu dulu saat aku belum menyadari perasaan ku padamu."
Isvara menarik diri, menyeka pipinya yang basah dan pergi melewati mereka semua, orang-orang itu menatap iba pada Isvara, Gerald hendak mengejarnya namun tuan Aryaloka menahan pundaknya.
"Dia butuh waktu sendiri."
Gerald menatap sang ayah, mengangguk pelan dan menunduk.
"Hal ini kita akan bicarakan lagi pak Reno, saya dan keluarga harus bermusyawarah dulu, kami akan membicarakannya lagi nanti pada anda."
Pak Reno berdecak, menatap istri dan putrinya lalu terpaksa mengangguk.
"Ayo mah, Lau, kita pulang dulu."
***
"Papah sungguh kecewa padamu, bagaimana bisa kamu melakukan semua ini?"
Kini Gerald, sang ayah, dan juga neneknya sedang berunding untuk masalah ini.
__ADS_1
"Papa tidak percaya padaku? ini semua hanya tipu muslihatnya pah, aku bahkan tak pernah menyentuhnya bagaimana dia bisa hamil?"
"Tapi testpack positif yang Laura bawa telah menunjukkan semuanya, bagaimana kamu akan berkelit lagi?" sang nenek berucap.
"Lagipula kalian sudah berpacaran lebih dari enam tahun, tidak mungkin kan tidak ada sesuatu terjadi di antara kalian?"
"Papa meragukan ku?" Gerald tak terima dengan ucapan papahnya.
"Bukan papah meragukan mu, tapi logika saja dulu hidupmu sangat tidak teratur dan urak-urakan, papah juga pernah muda, sulit untuk tidak menerima faktanya."
"Tapi sungguh pah, aku tidak akan melakukan hal sebe*jat itu pada Laura, aku juga punya prinsip, dan punya Kayra, adik perempuan, aku juga akan berfikir ulang jika melakukan hal itu."
"Dalam nafsu, tidak ada yang namanya berfikir ulang Gerald." ucapan papahnya sungguh memojokkan.
"Papah kok mojokkin aku terus, papah lebih membela opini wanita itu yang bahkan tidak jelas kebenarannya?"
"Bisa saja dia melakukannya dengan pria lain di luar sana pah, tidak ada yang tahu."
Tuan Aryaloka menggeleng. "Papah tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, tapi yang pasti keluarga Laura butuh kejelasan,dan kamu adalah kunci utamanya."
"Terserah, yang penting itu bukan darah dagingku!"
***
Malam semakin gelap, Isvara masih mengurung diri di dalam kamarnya, gadis itu tak menangis seakan air mata uang di tumpahkan sudah mengering, dia hanya diam di bibir kasur dengan tatapan kosong ke depan.
Mata indahnya tak mengerjap sedikit pun, sisa-sisa jejak air mata nasib tertinggal di pelupuk. Semua kejadian ini benar-benar menghantamnya hingga yang terdalam.
Tok!tok! suara ketukan pintu berulang kali terdengar, Gerald di luar sana masih berusaha untuk menjelaskan semuanya pada sang istri.
"Sayang, biarkan aku bicara, ku mohon biarkan aku menjelaskan semuanya," Gerald berucap entah yang ke berapa kali,namun wanitanya ini seakan menutup rapat-rapat pintu kamar juga pintu hatinya.
"Isvara ku mohon demi tuhan buka pintunya, aku ingin menjelaskan semuanya padamu!" Gerald seperti orang yang paling putus asa, dia tidak bisa memaksa Isvara seperti dulu, karna rasa cintanya untuk wanita itu.
Andai saja dia lebih peka dulu, andai saja dia lebih awal menyadari perasaannya untuk wanita lembut ini.
Andai saja pertemuan mereka di takdirkan lebih awal.
"Isvara, aku tidak akan menyerah untuk cinta kita, seberat apapun rintangannya."
__ADS_1