
Di kediaman wirasena, Gerald keluar dari kamarnya dengan langkah berat, rambut pria itu acak-acakan, memakai pakaian kantornya asal-asalan, ketidak beradaan Isvara membuat dirinya kehilangan semangat hidup.
"Selamat pagi." Arini, bibinya menyapa di meja makan. Brinda pun mengulas senyum ceria, seperti kepergian Isvara adalah anugerah untuk mereka, namun Brandon tak ada di sana.
Meskipun salah satu tuan muda dari keluarga wirasena, sejak dulu dia selalu memisahkan diri, Brandon lebih memilih tinggal di apartemennya, menghabiskan uang yang di berikan omnya, dan berfoya-foya.
Tak ada yang menegur hidup Brandon yang terkesan urakan, bahkan nyonya Triani, neneknya pun sudah lelah untuk menasehatinya.
Brandon jarang sekali ada di rumah semenjak kepergian Isvara, pria itupun tak pernah lagi menemui Laura semenjak rencana yang mereka susun gagal total.
Brandon selalu merutuki kebodohan Laura yang terlalu tergesa-gesa, kini dia pun melarikan diri dan tak ingin terlibat dengan masalah yang menimpa Laura.
***
Di tempat lain Laura menangis terisak-isak di sofa apartemen Samuel, setelah kejadian saat itu, Samuel membawa wanita hamil itu ke apartemen miliknya, ia masih ingat ucapan terakhir pak Reno sebelum mengusir mereka berdua dari rumahnya.
"Pergi! kalian berdua tidak akan pernah di terima di sini! dan kau, bukanlah putriku lagi!"
Setelah itu rumah megah hasil dari kerja keras Laura di sita oleh bank, mobil mewah dan kendaraan lainnya pun di jual oleh sang ayah, dan kedua orang tuanya pergi meninggalkannya sendiri dalam keadaan hamil, sungguh malang.
Untunglah Samuel pria yang bertanggung jawab, meski kenyataan jika Laura bukan hanya berhubungan dengannya saja membuatnya sempat terpukul, tapi kini Samuel sadar jika Laura tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya.
"Berhentilah lah menangis, sampai kapan kau menangis?" Samuel meletakkan susu hangat untuknya di meja.
Laura mendongak. "Kini hidupku sudah hancur, dan itu semua karna dirimu!"
"Andai saja kau tetap diam dan tidak berulah, semuanya akan berjalan mulus dan aku akan menjadi nyonya besar di keluarga kolongmerat itu!" Laura berteriak menggila.
"Sekarang kehadiran anak ini pun sudah tidak ada artinya lagi! lebih baik dia mati dari pada hidup susah!" Laura memukul-mukul perutnya sendiri dengan kencang dan air mata mengalir deras.
Samuel yang terkejut segera mendekatinya dan menarik tangan wanita itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan! kau mau melenyapkan bayi yang bahkan belum tumbuh ini? kau sudah gila?!"
"Lepaskan! lepaskan aku breng*sek!" tangan Laura berpindah memukul-mukul dada bidang Samuel.
Samuel bertahan, dia tak melawan, dia sangat tahu perasaan Laura saat ini, pria itu berusaha untuk merengkuh punggung wanita itu membawanya ke dalam pelukan, meski Laura menolak, Samuel tetap berusaha.
"Tenangkan lah dirimu, ku mohon!" Samuel berucap lirih dengan nafas memburu.
Laura menjinak, wanita itu tak memberontak lagi, namun masih terdengar umpatan kasar yang keluar dari mulutnya.
"Aku gak mau hidup susah bedebah! aku gak mau tinggal di apartemen kecil yang kumuh ini!"
"Aku tahu, aku akan berusaha keras untuk mencari pekerjaan dan membelikan rumah untuk mu," janji Samuel.
***
Di kantor, Gerald sudah memerintahkan para stafnya untuk mencarikan sekertaris baru untuknya, meski tak mudah, karna dia bukanlah orang yang gampang menaruh kepercayaan pada orang lain, terlebih lagi kasusnya dengan Samuel telah memberikannya trauma untuk percaya dengan orang baru.
Ketika kehadirannya sudah tak ada lagi, hanya kerinduan yang kini terasa sangat menyakitkan.
Gerald sangat merindukan istrinya, bagaimana keadaan Isvara sekarang? sedang apa wanita itu? Gerald ingin tahunya, rasanya semakin hari kerinduan ini semakin membu*nuhnya.
Tak sengaja mata elang Gerald menangkap sebuah bingkai foto Isvara, foto yang di ambilnya diam-diam ketika mereka berkencan, di foto itu istrinya terlihat sangat cantik dengan senyumnya yang menawan.
Gerald mengulas senyum tipis. "Bahkan kamu lebih cantik dari kerlap-kerlip lampu di belakang mu."
Gerald mengusap lembut foto itu, tak di pungkiri ada rasa sesak yang kian menghimpit kuat dadanya.
"Kamu sedang apa sayang? aku sangat merindukanmu."
__ADS_1
Isvara hilang seperti di telan bumi, Gerald bahkan sudah menyewa detektif kepercayaannya untuk mencari keberadaan sang istri juga para bodyguard nya yang menyebar ke seluruh daerah, namun jejak keberadaan Isvara seperti tak bisa di lacak, pria itu juga sudah bertanya pada Mahesa, orang yang di katakan terakhir kali terlihat dengan sang istri.
"Kau pasti tahu di mana keberadaan istriku saat ini?" tanya Gerald saat itu dengan nafas yang sudah memburu.
Namun jawaban Mahesa sungguh mengecewakannya. "Aku tidak tahu di mana keberadaan Isvara, aku memang terakhir kali bertemu dengannya saat itu, tapi aku benar-benar Tidak tahu di mana dia sekarang."
Mahesa tidak sepenuhnya berbohong, memang dialah yang mengantar Isvara dan tahu Isvara akan menyusul ayahnya, namun seperti Gerald, Mahesa pun mulai mencemaskan Isvara karna dia tidak tahu di mana tepatnya letak rumah paman Isvara dan apakah Isvara sudah benar-benar sampai pada tujuannya? Mahesa tidak tahu, karna Isvara pun benar-benar memutuskan hubungan mereka, gadis itu tidak bisa di hubungi atau di lacak menggunakan handphonenya.
***
Di tempat lain, Isvara terduduk di kursi depan teras rumah pamannya, sudah dua hari dia berada di sini dan menjaga sang ayah, dan sudah dua hari pula dia merasakan bagaimana kehidupan sang ayah yang keras.
Ternyata selama ini, bibinya Rosmini selalu semena-mena pada sang ayah, hal itu langsung di ketahuinya ketika pamannya berpamitan untuk ke mengelola bisnis, saat ketidak beradaan sang paman di sini, bibinya selalu memerintah sang ayah dengan perintah macam-macam seperti seorang pelayan.
Saat sang ayah menyapu halaman rumah ketika mereka pertama kali bertemu, itu juga atas perintah sang bibi, tak jarang bibinya pun. sering membentak ayahnya, ntah karna dia kesal atau menurutnya pekerjaan pak Adi tidak becus.
Dan hal itu sangat menyakitkan untuk Isvara, dirinya merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa ayahnya dan sepertinya pamannya juga belum tahu tentang apa saja yang di lakukan bibi Rosmini pada ayahnya sampai saat ini.
Karna hal itu membuat Isvara bertekad untuk membawa ayahnya pergi dari sini, dia akan membawa ayahnya pergi dari penderitaan ini.
Isvara akan menyewa sebuah kontrakan dengan tabungan yang di punya dan memulai kehidupan baru dengan sang ayah, tanpa bayang-bayang penyiksaan kembali.
Namun akankah tujuan Isvara berhasil, ketika di tempat lain, Gerald sudah menemukan titik terang keberadaannya?
Di kantor Gerald tampak sangat sumringah, ketika anggota yang dia tugaskan untuk mencari keberadaan sang istri menghadap Padanya dengan info terbaru yang mampu membawa dirinya pada belahan jiwanya ini.
"Melalui mata-mata yang melapor, nyonya Isvara sudah temukan keberadaannya tuan."
"Benarkah? dimana, di mana tepatnya?!" Gerald tak bisa membendung bagaimana bahagianya kini.
"Di sebuah desa pinggiran kota A, tepatnya di rumah tuan Damian Agung, seorang saudagar kaya di desa itu."
__ADS_1