
Gerald dan Isvara sampai di pelataran gedung bioskop. Mereka berdua masuk bersama, Gerald menggamit sebelah tangannya dan mengenggamnya erat.
Isvara tertegun sejenak, arah matanya menatap Gerald terkejut, lalu Pipinya bersemu merah. Ada yang menghangat dalam hatinya kini, Gerald benar-benar memperlakukannya dengan istimewa.
"Kita akan menonton film apa?" tanya Isvara setelah mereka masuk.
"Kau tahu film yang sedang booming sekarang?" Gerald menoleh, menatapnya. "Dr. Stranger in the multiverse of madness. Aku menonton itu." Dia tersenyum.
"Kamu suka Marvel juga?" tanya Isvara.
Gerald menjadi hiperbola. "Kau juga tahu? apa kau suka Marvel juga?"
Isvara mengangguk. "Aku pernah di ajak ayah ke bioskop untuk menonton Marvel bersama, sejak itu akan sangat suka dengan seriesnya."
"Waaaw, seriously, sepertinya kita banyak kesamaan ya." Gerald tak henti-hentinya tersenyum.
" Mau beli popcorn dan minuman dulu?"
Isvara mengangguk. "Boleh."
Mereka berdua berjalan beriringan ke stan makanan Gerald sudah menyimpan tiket yang ia beli sebelumnya ke dalam saku.
~I would never fall in love again~
(Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi)
~Until i found her~
(Sampai aku menemukannya)
~I said,i would never fall~
( saya berkata tidak akan pernah jatuh cinta)
~Unless it's i fall into~
(Kecuali kamu aku jatuh kedalam)
Lagu Stephen Sanchez- Until i found you, mengalun indah membuat suasana menjadi semakin romantis. di setiap perdetik saat ini Gerald tak mau melewatkannya untuk menatap pahatan wajah cantik Isvara, rasanya ia ingin waktu berjalan lambat saat dia bersama dunianya ini.
"Kau tahu, lagu itu seakan menggambarkan isi hatiku," bisik Gerald di cuping telinga Isvara.
Isvara mendongak menatapnya. "Kenapa begitu?"
"Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi, sampai aku menemukan mu, lirik itu sangat cocok untukku padamu."
Isvara tersenyum. "Kamu sedang gombal."
"Tidak," Gerald berbisik lagi, kebisingan Membuat dia terus melakukan itu. "Aku bukan tipikal pria bermulut manis, hanya padamu, aku bisa mengeluarkan kata-kata itu."
***
__ADS_1
Mereka duduk di kursi yang sudah di pesan, Gerald membawa dua cup berondong jagung, sementara Isvara membawa minumannya. Isvara menatap ke sekeliling, entah kenapa bioskop ini terlihat sepi, apa mereka datang terlalu awal? atau penonton lain yang datang terlambat.
"Kenapa tidak ada penonton lain selain kita? kemana ya?" tanya Isvara.
"Tidak usah di pikirkan, kita nikmati saja filmnya," ucap Gerald. "Karna aku sudah memboking seluruh bioskop ini." gumamnya.
Isvara masih bisa mendengar itu, matanya membulat sempurna. "Eh, kamu menyewa seluruh tempat ini? itu pasti sangat mahal, Gerald."
"Tidak apa-apa, untukmu tidak ada yang tidak bisa kulakukan."
"Tidak! kamu ini terlalu boros jika hanya untuk ku, lagipula aku akan lebih senang jika banyak penonton di sini, dan tidak hanya ada kita berdua, itu akan sangat jenuh," cerocos Isvara.
Gerald membuang nafas, tatapannya menjadi lebih tajam, pria itu lalu mencondongkan tubuhnya juga mendekatkan wajahnya hingga kini wajah mereka berhadapan.
"Kamu duduk diam, atau aku cium?"
Isvara tersentak, ucapan Gerald terdengar sangat tegas. Isvara akhirnya diam, mengangguk pelan. Gerald menyeringai puas.
"Sangat mudah untuk membuatnya diam ternyata."
***
"Mom, sepertinya si gila Gerald itu sudah semakin gila karna gadis itu, kamu akan mendiamkannya saja mom?" tanya seorang pria yang kini menghisap cerutu di tangan kanannya kepulan asap langsung menghambur ke ruangan itu.
"Kamu bisa gak sih jangan ngerokok terus, sayang paru-paru mu," ucap wanita setengah baya dengan aksesoris perhiasan bergelimang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan mom," ucap Brandon berdiri dari duduknya.
"Mommy kok gitu sih? gak bisa dong, mommy kan sudah berjanji padaku akan menyingkirkan Gerald dan menjadikan ku pewaris utama keluarga ini? merebut segalanya dari mereka."
"Itu sudah tidak mungkin Brandon, mommy salah telah menjanjikan itu padamu, sekarang kamu bekerja di bawah pimpinannya pun tidak apa-apa."
"Tidak bisa mom, aku benci dengan om Arya dia selalu saja membandingkan ku dengan anaknya, apalagi dengan anak tirinya itu si Mahesa, dia selalu membanggakannya di depan ku."
"Lihatlah Brandon, sepupu mu Mahesa dia kuliah dengan prestasi yang membanggakan."
"Brandon belajarlah dari Mahesa, di usia segini dia sudah mempunyai penghasilan sendiri, masa depannya cerah, tidak seperti mu yang urakan." Brandon meniru ucapan yang selalu di lontarkan Aryaloka padanya dengan nada yang nyeleneh.
"Aku benci dengannya mom," ucapnya dengan urat-urat yang terpampang jelas.
"Jangan begitu, walaupun begitu dia itu kakak ku, pamanmu!"
Brandon memutar bola mata malas. "Selalu saja begitu."
"Kau tahu, hidup kita ditanggung di sini saja sudah sangat beruntung, kita bisa menikmati semua kekayaan ini tanpa harus capek-capek bekerja, kau bisa menjadi salah satu orang penting di perusahaan, Brinda bisa melanjutkan kuliahnya bahkan selalu berpergian ke luar negeri, mommy mu ini bisa terus berliburan ke mana saja, itu berkat siapa? berkat pamanmu."
"Coba kalau mommy ikut dengan keluarga almarhum papimu, bisa jadi gelandangan kita."
"Itu kan memang sudah kewajiban om untuk menafkahi kita, lagian keluarga ini sudah kaya raya sejak generasi sebelumnya, apa yang harus di perdebatkan?"
Arini menghela nafasnya mendengar perkataan sang putra. "Terserah kau sajalah, mommy pusing dengan dirimu. mommy cuma ingin menikmati hidup ini." Arini duduk di kursi riasnya dan melakukan perawatan wajahnya.
__ADS_1
"Baiklah, jika terserah padaku berarti mommy tidak akan menghalangi apa yang akan kulakukan nanti," ucap Brandon.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan? masih berambisi ingin menjadi pewaris tahta?" gelak mommy nya.
"Bukan, Tapi aku ingin memisahkan Gerald dan Isvara," ucap Brandon.
"Aku sudah berjanji dengan seseorang mom, bahwa aku akan memisahkan mereka."
"Juga ingin membuat Isvara menjadi milikku."
***
Sepanjang film di putar, lampu bioskop di redupkan, Isvara dan Gerald menikmati film ini bersama, sesekali Gerald akan menatap Isvara dan melihatnya tersenyum membuatnya bahagia.
"Astaga!" Isvara tiba-tiba memekik.
"Kenapa?" Gerald ikut terkejut.
"Gelang ku jatuh ke bawah." Isvara menatap ke bawah kursi mencari gelangnya yang hilang.
"Sepertinya di sana," Gerald melihat ke bawah di sampingnya, pencahayaan yang redup membuat mereka sedikit kesusahan.
Gerald sedikit membukukkan badan hendak menggapainya, namun kepalanya malah bertemu dengan kepala Isvara yang juga menghadap ke arahnya.
Dugh! kening mereka saling bersentuhan. Gerald menatapnya, begitupun Isvara yang kini menatapnya. mereka saling bersitatap selama beberapa detik.
Perlahan wajah Gerald semakin mendekat,deru nafas mereka berdua dapat di rasakan masing-masing.
"Ekhem!" Isvara mendadak berdehem keras membuat hidung mereka yang hampir berdekatan kini saling menjauh kembali.
Namun Gerald kembali mendekat, Membuat degup jantung Isvara semakin terkencar-kencar, pipinya seakan memanas dan memerah.
"Kamu mau apa?" Isvara bertanya gugup.
"Isvara ... bolehkah aku mencium mu?" suara Gerald begitu serak dan berat.
Isvara mengangguk perlahan, entah kenapa ia mengiyakan saja, ada apa dengan hatinya kini?
Dengan perlahan wajah mereka semakin mendekat secara alami dan kedua bibir itu akhirnya bertemu.
Isvara spontan menutup mata, mencengkeram kuat dada Gerald, sentuhan lembut dari penyatuan bibir itu telah menghangatkan hati dan tubuh mereka.
Gerald memperlakukannya dengan sangat hati-hati, menyesap, menikmati rasa manis itu bersama, lembut dan sangat memabukkan.
Hingga akhirnya Isvara memukul-mukul dada bidang Gerald karna kurangnya pasukan oksigen yang masuk. Gerald akhirnya menarik diri setelah beberapa menit menikmati bibir mungil itu.
Nafas mereka terengah-engah, Gerald menatap wajah cantik itu dan mengusap kepala Isvara sangat lembut.
"Huh! sabar Gerald, Lo harus sabar, nanti juga lo bakal nikmatin semuanya."
***
__ADS_1
Ayo, ada yang mau part unboxing mereka gak?🤫🤣