
Siapa yang menyangka, ia akan jatuh cinta?
Hari ini tepat tiga bulan Isvara berada di kediaman wirasena, setiap hari ia tak akan absen untuk mencoret kalender di tanggal itu.
Isvara sudah berjanji pada dirinya sendiri, setelah ia lepas dari semua jeratan ini,ia akan memulai kehidupan baru dengan sang ayah, jauh dari konflik,jauh dari keluarga ini.
Namun apakah itu semua akan terwujud? Di saat raja iblis yang selalu menyiksanya dan menjadikannya bulan-bulanan justru malah berbalik jatuh hati padanya?
Di kamar, Gerald tampak gelisah, pria itu terus mondar-mandir sejak tadi, ia menggigit kuku-kuku jari, bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Apa mungkin aku jatuh cinta padanya?"
"Sepertinya diagnosa si Ryan itu salah! Ya benar, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada gadis buruk rupa seperti Isvara itu!"
Gerald memutar tubuh menghadap cermin. "Ya benar, kau--" Gerald menunjuk bayangannya sendiri di dalam cermin.
"Gerald angkasa wirasena, kau tampan, bertubuh atletis, dan kaya raya, mana mungkin pangeran sempurna seperti kau jatuh cinta pada gadis rakyat jelata seperti dia," Gerald terus mengoceh sendiri.
Sampai dia tidak menyadari ada yang memperhatikannya di balik pintu.
Gadis itu berdehem, Membuat Gerald mematung seketika,lalu Pria itu menolehkan pandangan ke belakang.
"Kau!" Gerald melebarkan mata, terkejut.
"Maaf, papa memanggilmu untuk turun ke bawah," ucap Isvara tampak tenang.
"Kenapa kau tidak mengetuk dulu hah! Kau tidak tahu jika masuk ke dalam kamar orang sembarangan itu tidak sopan!" Bentak Gerald, namun wajahnya seperti menahan malu.
"Sial apa dia mendengar semua yang ku katakan?"
"Bagaimana aku bisa aku mengetuk dulu sedangkan pintu kamarmu terbuka lebar?"
Itu benar. pintunya sejak tadi tidak tertutup malah terbuka lebar. jadi siapa yang salah disini?
"Tapi tetap saja kau harus ijin dulu sebelum masuk!" Gerald tak mau kalah.
Isvara membuang nafas. "Baiklah, aku minta maaf."
Begitu saja? kenapa kedengarannya gadis itu tidak ikhlas?
"Baiklah,kau pergilah, aku akan turun sebentar lagi," ucap Gerald.
Isvara mengangguk lalu pergi. Gerald berbalik badan kembali dengan menutup setengah mukanya dengan tangan.
"Sial, ada apa dengan mu Gerald?" rutuknya, karna kini wajahnya seakan memanas dan memerah.
***
Gerald turun dengan pakaian santai menuju keluarga besar yang sedang duduk bersantai di ruang tamu.
"Papa mencariku?" ucap Gerald setelah duduk di samping Aryaloka.
"Begini, lusa papa sama Mama, akan pergi ke new York untuk mengembangkan proyek yang ada di sana sekaligus mengunjugi rekan lama. Nantinya nenek dan Kayra juga akan ikut karna ada urusan penting juga di sana."
__ADS_1
"Jadi papa akan menyerahkan urusan perusahaan yang ada di sini sama kamu selama papa tidak ada."
Gerald mengangguk. "Baik pah."
"Oh ya, juga minggu depan kan ulang tahun teman kolega papa, apa kamu bisa datang untuk menggantikan kehadiran papa di sana?"
"Bisa pah."
Aryaloka tersenyum. "Baiklah. oh ya, kamu juga bisa ajak Isvara untuk menjadi partner mu."
Gerald tertegun sebentar, lalu melirik Isvara yang berdiri di seberang, lalu mengangguk pasrah, namun tatapan tajam ia layangkan pada Isvara.
Sementara itu Isvara menatap aneh, kebetulan yang mencengangkan, pria itu tidak protes sama sekali.
Gerald cukup aneh belakangan ini, ada apa dengan pria itu?
****
Waktu berlalu, hari keberangkatan tuan Aryaloka, nyonya Indira, nyonya Triani dan Kayra sudah di tetapkan siang nanti. mereka akan menggunakan jet pribadi.
Kini mereka sedang berada di teras untuk mengucapkan salam perpisahan karna sebentar lagi mobil sudah siap.
"Sampai kapan kalian berada di sana?" tanya Gerald.
"Tidak menentu, mungkin bisa sampai sebulan atau dua bulan, papa menyerahkan keamanan rumah ini sepenuhnya padamu" ucap sang papah menepuk bahu Gerald.
Gerald mengangguk. "Baik,pah."
"Ini adalah kunci rumah ini, nenek akan menyerahkannya padamu," ujar nyonya Triani menaruh kunci di telapak tangan Isvara.
"Tapi nek, Vara sepertinya tidak bisa ... " ucap Isvara.
"Kenapa?" nenek menangkap sorot gelisah di mata Isvara.
Isvara melirik ke arah nyonya Arini yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Ada ... Tante Arini yang berhak untuk mengambil tanggung jawab rumah ini."
Nyonya Triani tersadar dengan kegelisahan Isvara.
"Tidak usah khawatir, Arini mengerti kalau kamu yang paling pantas untuk ini, kau dan Gerald adalah pasangan yang sempurna untuk menjaga rumah ini selama nenek tidak ada."
Gerald yang sedang berbincang dengan sang ayah pun ikut menyahut. "Itu benar, tidak ada yang lebih pantas mengambil tanggung jawab ini selain kau."
Nyonya Triani tersenyum. "Lihat, Gerald saja setuju sama nenek."
Isvara menatap kunci di genggamannya lalu menatap sang nenek. "Baiklah," gadis itu menggangguk.
Sedangkan nyonya Arini menatap tak suka padanya, kenapa ibunya malah memberikan tanggung jawab itu pada gadis bau kencur seperti Isvara dan bukan padanya? dia sangat kesal.
"Awas kau Isvara!" gumamnya.
Acara berpamitan usai, Tuan Aryaloka dan nyonya Indira Masuk kedalam mobil terlebih dahulu, lalu di susul Nyonya Triani dan Kayra, sebelum masuk Kayra tersenyum pada Isvara.
__ADS_1
Isvara tahu arti senyum itu, semalam Kayra menitipkan sebuah surat padanya untuk di berikan kepada Raka.
Setelah mobil menghilang dari pandangan, Gerald menoleh pada Isvara, menatap sebentar lalu memalingkan wajah setelah sadar Isvara juga menatapnya.
"Kamu mau berangkat sekarang nak?" tanya nyonya Arini.
Gerald mengangguk. "Iya Tan."
Gerald lalu berpamitan pada nyonya Arini dan Brinda, lalu berjalan ke mobil bersama pak Tian.
Setelah kepergian Gerald, raut wajah nyonya Arini langsung berubah. berbalik menatap Isvara.
"Berikan!" sentakknya langsung mengambil kunci yang ada di tangan Isvara.
"Orang seperti kau gak pantes ngambil kendali rumah ini," ucap nyonya Arini tajam.
Isvara menghela nafas. "Itu terserah bibi, tapi aku gak mau tanggung jawab kalau sesuatu terjadi di rumah ini."
"Kau mau mengajariku hah?!" ucap nyonya Arini melotot.
"Tidak, hanya saja nenek sudah memberikan mandatnya padaku."
"Heh, tau diri jadi orang," Brinda ikut menyerempet, "Lo itu numpang gratis di sini, jaga tingkah lo!"
"Aku tahu, tapi aku hanya memperingatkan," ucap Isvara masih dengan sabar.
"Aww ... " Brinda tiba-tiba menarik rambutnya.
"Lo di diemin malah makin ngelunjak ya ternyata!"
Isvara semakin meringis, rambutnya seakan ingin copot.
"Lo siapa si emang, cuma gadis kampungan yang kebetulan di pungut om Arya," ucap Brinda dengan nada tajam.
Selama ini Brinda memang sudah sangat menantikan saat dirinya memaki Isvara.dia sudah menahannya dan inilah saatnya.
"Brinda sudah, jangan merusak mood mu hanya karna pembantu itu," ujar nyonya Arini.
Brinda melepaskan cekalannya. " Iyah mama benar." mendelik ke arah Isvara.
"Yang terpenting, kita punya kunci rumah ini." Nyonya Arini menunjukkan kunci di tangannya.
"Kita bisa bebas melakukan apapun sekarang," ucapnya lagi, tersenyum lebar.
Brinda tertawa. "Sekarang kita bebas nyiksa si kampungan ini kapan aja kan ma?"
"Tentu saja sayang, Kita bebas melakukannya."
Lalu ibu dan anak itu tertawa, sementara Isvara meringis membayangkan penyiksaan yang akan di lalui nya nanti.
Sepertinya keputusannya untuk bertahan selama ini, sudah mulai ia sesali.
Apa hidupnya akan seperti Cinderella dalam dongeng, yang menderita karna di tindas ibu tiri dan kakak tirinya?
__ADS_1