TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM

TERPAKSA MENIKAH DENGAN TUAN MUDA KEJAM
Bab : 93


__ADS_3

Di kediaman wirasena, semua anggota keluarga telah pergi ke rumah sakit untuk sama-sama melihat keadaan Isvara, hanya tersisa para pembantu, dan pekerja di rumah besar ini. Juga beberapa bodyguard Gerald yang berjaga.


Jadi suasana tampak lengang, di pantry semua para pembantu berkumpul setelah menyelesaikan tugas mereka. Mereka terus merapalkan doa untuk kesembuhan nona muda mereka, terkecuali satu orang yang sibuk dengan isi pikirannya sendiri, dia duduk jauh di antara pembantu lain, menatap tajam dengan raut wajah sebal.


"Sepertinya rencana tuan Brandon benar-benar gagal total! ck, kenapa sih wanita sialan itu gak mati aja sekalian?!" gumamnya dengan berdecak kesal.


"Bagaimana ya dengan keadaan nona muda? aku dengar dia terkena tiga tembakan di bahu kiri juga dadanya, kasihan sekali untunglah janin yang di kandungnya tidak apa-apa."


"Katanya operasi nona muda berhasil, nona muda sempat kehilangan banyak darah, untunglah ada Andini yang memiliki golongan darah yang sama."


"Sekarang yang hanya bisa kita lakukan adalah terus berdoa untuk kesembuhan nona muda, sangat di sayangkan wanita sebaik beliau mengalami hal semalang ini."


Para pembantu lain manggut-manggut dengan wajah sendu, ikut merasakan kesedihan yang tengah terjadi.


"Semoga nona muda segera siuman dan bisa beraktivitas seperti sedia kala."


Mereka semua mengaminkan doa yang di ucapkan mbok Minah tadi, terkecuali Nela yang menatap sebal seraya berdecak.


"Nyenyenye, agung-agungkan aja tuh nona muda kalian, kalau dia mat ti aku yang bakal ngegantiin dia nanti."


"Nel kamu kenapa? mukamu yang gak seneng gitu? memberengut terus," tanya Dewi yang sedari tadi menatap kejanggalan Nela.


Nela tertegun, sadar ia telah bersikap mencurigakan Nela menggeleng dengan raut wajah yang ia buat sesendu mungkin.


"Eh, gak kok aku gak Kenapa-napa. aku juga turut sedih atas apa yang menimpa nona muda, padahal nona muda sangatlah baik, malang sekali nasibnya." tertunduk dengan wajah sedih. tentu saja yang di buat-buat.


"Oh ya denger-denger, karna kamu Nel, nona Isvara sampai di culik dan di sekap." celetuk pembantu lain.


"Eh iya bener, gara-gara kamu ngajak nona muda keluar gerbang, nona muda sampai mengalami insiden malang ini, secara gak langsung kamu penyebab nona muda mengalami ini semua."

__ADS_1


"Heh apa-apaan!" sentak Nela tak terima.


"Jaga ya omongan kalian, ini semua itu emang udah takdirnya kali, bukan salah aku,enak aja, aku tuh gak sengaja! mana aku tahu nona muda sampai bisa di culik begitu."


"Ya udah sih, kok kamu ngegas gitu ngomongnya, kalau emang gak ngerasa salah gak usah ngegas gitu doang."


"Enak banget ya cocot kalian itu, udah nuduh aku yang enggak-enggak malah kalian yang merasa tersakiti."


"Sudah! sudah! sekarang ini kita lagi berduka kenapa kalian pada ribut sih!" Mbok Minah menengahi mereka.


"Ya abisnya mereka yang duluan!" sentak Nela lagi. ia memang tak segan untuk membentak bahkan pada orang yang lebih tua darinya.


Dewi mengernyit menyadari tingkah aneh Nela, segera saja dia menggamit tangan Nela dan menariknya menariknya menjauh dari yang lain.


"Kamu apa-apaan sih Wi, kenapa narik-narik aku kaya gini!" Nela yang sebal menyentak tangan Dewi dari lengannya dengan kasar.


Dewi menatapnya dengan serius. Dewi yakin ada yang tak beres dengan teman seperjuangannya ini.


Deg! Nela seketika terkejut, wajahnya berubah pias dengan keringat yang membasahi telapak tangannya.


"K-kamu apa-apaan sih Wi? kenapa ngomongnya kaya gitu?" Nela berusaha untuk setenang mungkin. meski jantungnya sudah berdetak tak karuan, takut-takut Dewi benar-benar mencurigainya.


"Abisnya aneh aja, dari dulu aku tahu kamu gak terlalu suka sama nona muda, tapi tiba-tiba sore itu kamu ngajak nona muda keluar dari penjagaan dengan dalih ngajak jalan-jalan sore? apa gak ada yang ganjal?"


Plak! "Kamu nuduh aku hah? sama kaya mereka?"


Dewi menatap tak percaya, dia mengusap pipinya yang di tampar Nela tadi.


"Kamu gak usah nampar juga kali Nel, aku nanya kaya gini semata-mata karna menghawatirkan kamu,kalau seandainya kecurigaan aku ini bener, bisa habis kamu."

__ADS_1


"Alah khawatir apa? yang ada kamu nuduh aku yang enggak-enggak tahu enggak? kamu tau kan fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan!"


Dewi menggeleng tak percaya. "Aku cuma khawatir Nel."


"Aku cuma khawatir Nel." Nela mengulangi perkataan Dewi dengan nada yang nyeleneh, seakan mengejek. "Gak usah sok baik deh, kamu sama aja kaya mereka, yang asal tuduh gak jelas."


Dewi menatap tak percaya. "Nyesel aku udah ngekhawatirin kamu Nel." lalu Dewi pergi meninggalkan Nela.


"siapa juga yang minta di kasihanin apalagi di khawatirin?" Nela berucap angkuh dengan berkacak pinggang.


Sejak dulu memang dia tak pernah menganggap penting hubungannya dengan Dewi, bahkan dia tak pernah menganggap Dewi sebagai temannya, dia hanya memanfaatkan kebaikan Dewi saja selama ini.


Nela lalu merenung dengan wajahnya yang cemas.


"Kalau tuan Brandon aja udan ketahuan, aku harus segera pergi dari sini."


***


"Jadi benar ada pihak ketiga yang terlibat dalam kasus kejahatan anda ini?"


Kepala polisi kini sedang mengintrogasi Brandon, dengan kedua tangan yang di borgol, Brandon tampak duduk mengenaskan di kursinya.


Ia tak langsung menjawab, matanya lalu beralih pada jeruji besi yang mungkin akan menjadi tempatnya untuk sementara.Ya, hanya sementara karna dia yakin mommy nya akan segera membebaskannya dengan uang tebusan. Seperti yang sudah-sudah.


Terkecuali untuk satu orang yang akan ia sebutkan namanya ini, yang akan dia jadikan kambing hitam dalam kasus ini.


"Ada pak, satu lagi, orang ini bahkan lebih berbahaya dari pada saya, karna dia otak dari semua kejahatan ini."


"Kalau begitu katakan siapa?"

__ADS_1


Brandon menyeringai. "Namanya Manela sari, dia adalah dalang dari kasus ini."


"Maaf Nela,gue masih mau hidup bebas."


__ADS_2