
Ada penikmat musik India di sini? kalau ia othor sarankan membacanya sambil mendengarkan lagu [Tim hiho-Arijit sing] agar lebih dapet feel-nya hhe.
Happy reading♡
****
Isvara berjalan hingga ke luar gedung. Seperti orang linglung, dia sendiri tidak tahu apa yang kini tengah di rasakannya.
Karna tak melihat jalan, Isvara tak sengaja menabrak seorang petugas keamanan di sana.Ia meringis merasakan tubuhnya yang terpental. Isvara lalu berdiri, di rasakan lututnya yang sakit.
Ternyata hak dari high heels nya patah, barang mewah ini pemberian dari Gerald, bahkan semua yang melekat pada tubuhnya, pria itu memberikannya.
Isvara menjadi bingung, apa yang salah? Ia menjadi tak nyaman. Seseorang yang bahkan sudah ia anggap musuh,malah berbalik memberikan kelembutan padanya,di saat dulu hanya penderitaan saja yang di terimanya.
Dia menjadi ragu, benarkah perasaan Gerald kali ini tulus padanya?
Dengan lelehan bening yang kini tertinggal di pelupuk matanya, Isvara melangkahkan kaki tak tentu arah. high heels nya yang patah pun ia bawa untuk mengikutinya.
Hingga pada sebuah jalanan kosong, air dari atas langit tiba-tiba menitik, gerimis datang.
Ia mendongak, menatap langit hitam yang semakin menggelap karna akan turun hujan. Perlahan ia memejamkan mata, menikmati tetesan air yang menimpa wajahnya.
***
Sementara Gerald kini sedang mencari keberadaan Isvara, Pria itu mengayunkan kakinya, bertanya pada semua orang yang mungkin tahu akan keberadaan sang istri.
Ia mendongak, memperhatikan kilatan cahaya di garis cakrawala yang terlihat mendung. Sebentar lagi turun hujan, dan Isvara belum juga di temukan.
Gerald lantas mengambil ponsel, menekan sebuah nomor di sana.
"Samuel, perintahkan anak buah kita, temukan istriku, dia menghilang!"
Samuel di seberang sana tentu kaget dengan perintah tegas penuh kekhawatiran Gerald. Tak pernah ia dengar nada suara Gerald sepanik ini.
"Oke," satu kata di ucapkannya,lalu telepon terputus.
***
Laura dengan kekesalannya, pergi dari area pesta. Ia tak rela, Gerald dengan teganya meninggalkannya dan mengatakan putus seenteg itu.
"Kau yang menjanjikan pernikahan itu untukku Gerald, tapi kini kau malah meninggalkan ku," ucapnya lalu perlahan ia mulai menangis.
Kenapa saat ia sudah mulai menyadari perasaan sebenarnya untuk Gerald, pria itu malah meninggalkannya. Ini tidak adil untuknya.
"Tidak akan ku biarkan yang menjadi milikku di rebut oleh orang lain!" Nadanya menjadi tajam dengan kilatan amarah.
"Gerald, kau tidak boleh meninggalkan ku!" ucapnya dengan tangan terkepal erat.
Laura akan merebut Gerald kembali, apapun caranya.
***
Brandon berdiri di atas pembatas jalan yang sudah di siapkan petugas gedung, dengan keangkuhannya Brandon menganggap diri sebagai raja yang harus di hormati.
__ADS_1
"Sial, cewek itu susah banget buat di taklukin," desisnya kembali mengingat akan dirinya yang di permalukan di dalam sana.
Brandon yang kesal tak sudi lagi melangkahkan kakinya masuk ke dalam pesta, meski sang momy dan adik kembarnya yang cerewet itu terus menelponnya.
"Enaknya Kemana ya buat ngilangin kesel, ke casino buat judi atau ke diskotik buat nyari cewek? butuh pelampiasan nih," gumamnya merasa jiwa kelelakianya sedang bergejolak.
"Ahh, bego!" ia berdecih. "Coba aja Isvara kaya gadis lugu kebanyakan, bisa gampang gue ngejerat dia, gimana badannya bagus banget, heran kenapa Gerald gak kegoda sama dia?" monolognya sendiri.
Lalu pandangannya tidak sengaja tertuju pada wanita yang sedang berjalan kesal. "Bukannya itu sih Laura?" kemudian pria itu bangkit dan memastikannya.
Benar dugaannya, wanita itu Laura, dia sedang menangis. lalu Brandon menghampirinya.
"Laura! ngapain lo disini?"
Wanita itu menatapnya dengan sengit,lalu tanpa aba-aba mencengkeram erat kerah jas yang di kenakan Brandon Membuat pria itu tersentak.
"Semua ini gara-gara lo Brandon, kenapa sih susah banget buat taklukin hati si kampungan Isvara itu? liat, sekarang dia malah pergi membawa Gerald!"
"Lo kok malah nyalain gue?!" Brandon menyentak tangan Laura.
"Lo aja yang bego gak bisa pertahanan Gerald!"
Di luar dugaan, Laura semakin terisak kencang, Membuat Brandon jadi kelimpungan.
"Gimana sekarang? gue gak mau kehilangan Gerald, gue gak bisa hidup tanpa dia!"
Entah kenapa Brandon sedikit tercubit melihatnya, ia dan Laura memang sudah dekat bahkan sebelum Samuel dan Gerald mengenal wanita itu.
"Lo tenang aja Lau, kita masih punya seribu satu cara buat misahin mereka, gue pastiin Gerald akan jatuh ke pelukan lo."
***
Setelah sekian lama mencari, Gerald akhirnya bisa menemukan Isvara. gadis itu hanya bergeming, mendongak menatap langit yang sebentar lagi akan turun hujan.
Perlahan, langkah kaki Gerald semakin merambat, tak bisa di pungkiri Isvara pasti sangat terkejut dengan semua, ia ingin menjauh sejenak memberikan gadis itu ruang untuk berfikir, namun Gerald tidak bisa, ia tidak bisa jauh dari gadis itu sekarang.
"Isvara ... " Panggilannya perlahan.
Isvara menoleh, hanya diam menatap. tatapannya begitu kosong, seketika Gerald merasa bersalah.
Seperti ada ribuan paku yang menusuk langsung ke inti kehidupannya, ingatan tentang bagaimana ia menyiksa Isvara, mencaci maki gadis itu kini membayang satu persatu, mencabik-cabik hatinya.
Gerald semakin mendekat, tetes-tetes air yang semula jatuh perlahan kini mulai besar, pertanda hujan lebat akan datang.
Gerald tanpa berfikir lagi membuka jas hitamnya, hanya menyisakan kemeja putih yang kini melekat di tubuh kekarnya.
Perlahan jas itu ia sampirkan di atas kepala Isvara juga di atas kepalanya, namun terlambat, hujan malah turun dengan deras.
Mereka hanya berdiam diri di bawah guyuran hujan, berbekal jas hitam Gerald yang bahkan tidak bisa melindungi kepala mereka untuk tidak basah dari hujan.
Mungkin jika ada orang lain yang melihat mereka, agak sedikit mencurigakan, bagaimana tidak? ada dua orang manusia yang hanya diam berdiri saja tanpa mau berlindung. itu bahkan sangat mencurigakan.
Sementara Gerald menatap dalam diam wajah Isvara, wajah lembut yang bahkan masih terlihat sangat cantik meskipun di guyur oleh tetes-tetes air dari semesta. Perlahan wajah mereka mendekat, Gerald semakin intens menatap Isvara yang kini memejamkan mata.
__ADS_1
Gerald pun ikut memejamkan mata, perlahan hidung mereka mendekat, ditengah guyuran hujan, nafas hangat keduanya masih bisa di rasakan. mereka sama-sama diam menikmati detik demi detik moment saat ini.
Perlahan Isvara membuka matanya, seperti tersadar, ia buru-buru menjauhkan wajahnya. Ia tersentak, pandangannya menjadi mengabur karna air hujan.
Gerald hanya memandangnya, mereka pun terdiam selama beberapa detik.
"Kenapa kamu ada di sini?" pertanyaan itulah yang pertama kali di lontarkan oleh Isvara.
"Kenapa kau pergi meninggalkan pesta?" Gerald malah memberikan pertanyaan lain Padanya.
"Karna sudah ada Laura di sana .... kekasihmu," ucap Isvara pelan, air hujan perlahan reda, namun masih bisa membasahi wajah mereka.
Menghela nafas, Gerald menggamit tangan Isvara. "Ayo kita berteduh dulu."
Isvara malah menarik kasar lengannya, seakan tak ingin di sentuh pria itu.
"Tidak! aku tidak akan ikut denganmu!" tegasnya menolak.
"Setidaknya kita menepi di tempat kering, agar kau tidak demam." Gerald mencoba memberikan pengertian padanya.
Isvara menggeleng. "Kenapa kau sebegitu perhatiannya padaku? kenapa hari ini kau bersikap sangat manis, kau bukan Gerald kejam dan arogan seperti yang kukenal."
"Karna aku mencintaimu!"
Deg! jantung Isvara seolah berhenti, Gerald mengatakannya dengan lantang dan tegas.
"Gerald yang kau maksud sudah tidak ada Isvara, di gantikan dengan Gerald yang kini mulai mencintai mu."
Isvara menggeleng, "Kamu pasti bercanda, itu tidak mungkin."
"Jebakan apa lagi yang akan kau lakukan lagi padaku breng*sek!"
Di luar dugaan, Gerald tertegun, ia seperti menatap ribuan kebencian di dalam mata Isvara.
"Mana mungkin pria kejam yang sudah ku anggap sebagai musuhku, berbicara bahwa dia mencintaiku!"
"Isvara maafkan aku, aku memang sangat kejam padamu saat itu tapi--"
"Stop! jangan mendekat lagi, aku membencimu Gerald!"
"Dan aku yakin kau juga pasti merasakan hal yang sama."
Gerald menggeleng, tatapannya menjadi melemah. apa benar perbuatannya kepada Isvara sungguh sangat kejam.
"Aku benar-benar mencintaimu Isvara, kapan atau di mana atau di saat apa, aku tidak tahu."
"Yang jelas, kau selalu ada dipikiran ku, memenuhi hatiku, aku tahu aku tidak akan pantas untuk cintamu, tapi percayalah aku sangat mencintaimu."
Isvara menggeleng, air matanya yang keluar tersamarkan oleh tetesan air hujan yang membasahi bumi.
"Aku tidak percaya dengan apa yang kau ucapkan, sudah cukup selama ini aku menderita karna mu."
__ADS_1
Isvara tersenyum, namun isakannya malah terdengar kuat.
"Gerald, ayo kita berpisah saja! kita akhiri hubungan palsu ini!"