
Isvara dan Gerald masih terlelap di kamar hotel mereka sehabis pertempuran pagi itu, entah bisa di bilang malam pertama atau pagi pertama, karna mereka melakukannya saat pagi datang dan ini kali pertama untuk mereka.
Gerald mengangkat kelopak matanya perlahan, melihat Isvara yang terlelap di pelukannya membuat ia tersenyum mengingat penyatuan mereka beberapa waktu yang lalu.
Gerald tidak pernah tahu hubungan inti*m bisa senikmat itu, karna ini pun baru pertama ia lakukan. Saat berpacaran dengan Laura pun Gerald selalu menjaga batasan dan ingin melakukannya saat mereka sudah menikah.
Karna Gerald berperinsip seberndal apapun dirinya sebereng*sek apapun dia, dirinya tak ingin menodai gadis di luar pernikahan,karna ia tahu itu terlarang dan akan menimbulkan kerugian untuk keduanya, karna Gerald pun memiliki seorang adik perempuan dan dia tak ingin sang adik yang mendapat karma Kaena kelakuannya.
Gerald tersenyum, wajahnya tampak lebih segar, meskipun baru pertama dia melakukan hubungan ini tapi Gerald bukanlah pria yang lugu, terbukti karna melihat wajah Isvara yang kelelahan karena menghadapi gairahnya.
Gerald lalu menepuk-nepuk perut rata Isvara. "Baik-baik di sini ya kecebongnya papa, cepet jadi ya, papa menunggu kalian."
"Kamu ngapain? Isvara membuka mata perlahan. Dirasakannya tubuh yang serasa remuk dan bagian intinya yang terasa perih.
"Kamu udah bangun,sayang?" Gerald menghujani ribuan kecupan di sekitar wajah gadis yang sudah beralih status menjadi wanita.
Ia lalu mengambil sebelah tangan Isvara, begitu kecil dan mungil, lalu mengusap di titik denyut nadinya dan memberikan kecupan di sana.
"Ada yang sakit? Tanya Gerald.
"Semua!" Isvara mendengkus. "Kamu kejam banget gak biarin aku istirahat."
Bayangkan saja mereka melakukannya dari jam enam pagi sampai kini menjelang sore, Isvara benar-benar di buat kuwalahan oleh hasrat pria ini.
"Maaf." Gerald tertawa kecil. "Abisnya tubuh kamu enak banget, bikin candu."
"Enak matamu!" Isvara berdecak. "Aku yang capek tau gak?!"
"Tapi kamu juga menikmatinya kan?" Gerald mengedipkan sebelah matanya.
Isvara terkekeh. "Dasar pria mesum!"
"Dan pria mesum ini adalah suami kamu tercinta." Gerald mendekap erat merangkul pinggang ramping sang istri.
Tawa Isvara meledak. "Kepedean banget sih!"
Mereka terdiam sejenak, menikmati moment romantis ini lebih lama. Tapi Setelahnya Isvara bergerak tak nyaman.
"Gerald, kita kapan pulang?" tanyanya pelan.
"Kamu ingin pulang?" tanya Gerald sedikit membungkukkan bahu demi melihat wajah sang istri.
Isvara mengangguk. "Iya, kamu juga besok harus ke kantor kan?"
"Kalau itu yang kamu khawatir kan, masih ada Samuel dan para bawahan ku yang menghandel semuanya."
"Ishhh bukan itu saja." Isvara memukul pelan dadanya membuat sang empunya pura-pura meringis.
__ADS_1
"Lalu apa?"
"Aku benar-benar ingin pulang," rengek Isvara.
Gerald mendesah pelan, "Baiklah. aku akan meminta resepsionis untuk membawa perlengkapan baru dan makanan, kau lapar kan?"
Isvara mengangguk, tak bisa di pungkiri dia pun sedang menahan dahaga dan perutnya yang minta di isi.
"Kamu mandi duluan gih." titah Gerald, Isvara mengerti mengambil kemeja yang sempat teroggok dan memakainya lagi lalu berjalan tertatih untuk membersihkan diri.
Gerald tersenyum tipis melihat cara berjalan Isvara, menggelengkan kepalanya.
Waktu berlalu setelah keduanya membersihkan diri, kini mereka menikmati pizza yang di pesan online oleh Gerald. Isvara makan dengan lahap, Gerald tersenyum, gadis itu benar-benar kehilangan tenaga karenanya.
Setelah selesai makan, mereka bersiap-siap untuk kembali ke rumah.
"Sayang." Gerald memanggil sang istri. "Enam bulan akan berakhir besok, apa kamu sudah memutuskannya?"
Isvara terdiam, topik ini cukup berat untuknya. "Kita sudah melakukan kewajiban sebagaimana suami-istri sebetulnya, aku juga sudah menyadari perasaan ku padamu, lalu apa lagi yang menjadi alasan ku untuk meninggalkan mu?"
Gerald menjadi sumringah. "Jadi kamu akan tetap bersamaku?"
Isvara mengangguk, "tentu saja." tersenyum malu-malu.
"Terimakasih sayang, terimakasih, terimakasih ... terimakasih." Gerald mendaratkan ciuman bertubi-tubi di punggung tangan Isvara.
"Aku berjanji aku menjadi pria dan suami yang lebih baik lagi untukmu, aku tak akan pernah menyakitimu dan selalu membuatmu bahagia."
"Jangan hanya berjanji Gerald, tapi buktikan," ucap Isvara.
Gerald mengangguk, kali ini dengan wajah lebih serius. "Aku akan membuktikannya padamu."
Isvara tersenyum, entah apa yang menjadi akhirnya, namun ia hanya tahu, sekarang dia mencintai pria yang paling di bencinya dulu.
Tuhan seperti membolak-balik perasaan mereka, hingga kini menetap di satu hembusan nafas yang sama, menciptakan getaran saat dua hati memang ditakdirkan untuk bersama.
Plot twist dalam hidup yang tak pernah dia bayangkan. kedepannya Isvara harap Gerald benar-benar memenuhi janjinya dan mereka bisa menjalani pernikahan ini bagaimana mestinya.
"Setelah ini apa kita harus membeli rumah sendiri atau mansion di luar negeri atau sebuah penthouse? atau kita keliling dunia menikmati liburan berdua sambil berbulan madu?" Gerald dan angan-angannya.
"Gerald, seperti ini saja untukku sudah cukup." Isvara mengenggam kedua tangannya.
"Tak usah bermewah-mewah, aku ingin menjalani kehidupan yang sederhana bersama mu."
Gerald tersenyum. "Baiklah jika itu keinginan sang ratu,maka raja akan patuh." pria itu tergeletak sendiri.
"Sekarang yang paling utama adalah, kita akan mengakui cinta kita pada keluarga besar."
__ADS_1
Isvara mengangguk, jawaban setelah enam bulan mereka harus di beritahukan keluarga sekarang.
***
Gerald dan Isvara sampai kerumah menjelang malam. keduanya saling bertaut tangan saat menuju teras, menunjukkan kemesraan seperti pengantin baru.
Saat berjalan di anak tangga, keduanya berpapasan dengan Mahesa. pria itu memandang mereka berdua, Isvara menunduk saat pria itu menatap matanya. pandangan Mahesa lalu jatuh pada tautan tangan mereka yang begitu mesra, seketika ia meringis pedih di dalam hati.
Pada akhirnya dia benar-benar kalah.
"Dari mana saja kalian?" tanyanya ketus pada keduanya.
Gerald menjadi geram dengan tatapan Mahesa itu. "Memangnya apa urusan mu."
Mahesa tersenyum miring. "Memang bukan urusanku, siapa juga yang mau mencari urusan dengan kalian."
"Kau!" tatapan Gerald menyalang-nyalang, Isvara menghentikannya.
"Memangnya ada apa kamu bertanya?" Isvara berkata tenang.
Entah mengapa melihat wajahnya membuat hati Mahesa menjadi teriris, apalagi saat ia tak sengaja menangkap pandangan sebuah tanda merah di leher gadis itu, Membuat ia percaya telah terjadi sesuatu di antara mereka.
Gerald yang melihat arah pandang Mahesa menjadi tersenyum bangga, setidaknya pria itu akan tahu diri untuk tidak mendekati istrinya lagi.
"Papa mencarimu." Gerald menatap Mahesa. "Kedatangan mu di tunggu di ruang keluarga."
"Tadinya aku hendak mencari keberadaan mu karna perintah papa."
"Memangnya ada hal penting apa?" biasanya jika Mahesa sampai harus mencarinya berarti ada sesuatu yang penting.
Mahesa bergidik. "Kau lihat saja di dalam."
Gerald dan Isvara saling memandang laku mereka berdua memutuskan untuk ke dalam.
Saat berada di ruang tamu, alangkah terkejutnya mereka sudah banyak orang yang ada di sana, bisa mereka lihat semua anggota keluarga berkumpul dan yang membuat Gerald terpaku adalah kedatangan dua orang tua yang sangat ia kenali.
"Pak Reno, Bu Tina!" Gerald memanggil nama kedua orang tua Laura. Dan juga ada Laura yang kini tengah menangis di pelukan mamanya.
Pak Reno yang melihat Gerald langsung menghampiri dan langsung memberikan bogem mentah pada rahang pria itu. Semua orang memekik terkejut, tuan Aryaloka langsung menghampiri.
"Pak Reno, menyelesaikan masalah bukan dengan kekerasan.
"Alah, bela terus anak anda itu, sudah salah bikin sengsara."
"Ada apa ini?" Gerald melebarkan mata, terkejut. begitupun Isvara yang langsung melihat keadaan sang suami.
"Gerald, papa ingin bertanya padamu, apa benar kau yang telah menghamili Laura?"
__ADS_1