Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Bergosip


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


BAB 10


Pesan Bu Tina kembali terdengar sebelum dia pergi meninggalkan pangkalan sayur. Mama pun melihat dengan penu emosi sembari menatap punggung Bu Tina yang semakin menjauh.


Istikharah? Sepertinya aku memang harus istikharah. Setidaknya aku harus bisa menenangkan dan meyakinkan hatiku sendiri, jalan mana yang harus kupilih. Tak peduli jika mama melarang bahkan tetap memaksaku menikah dengan preman itu sekalipun hasil istikharahku berupa penolakan.


Yang penting aku sudah mengadu dan memasrahkan semua padaNYA sebab DIAlah yang jauh lebih mengerti apa yang terbaik buatku. Semoga saja ada kebahagiaan di luar sana dan cerita ibu-ibu itu tentang Mas Ronal tak sepenuhnya benar.


Jika memang nanti Mas Ronal adalah nama yang dipasangkan untukku di Lauh MahfuzNya, aku hanya bisa berharap dia tak seburuk yang orang-orang Fikirkan. Setidaknya masih Ada sisi baik di dalam dirinya yang membuatku jatuh cinta.


🌸🌸🌸


"Dira, tumben kamu telat," ucap Pak Udin bagian delivery saat aku baru sampai didepan toko. Telat lima menit mungkin bagi sebagian karyawan adalah hal wajar, tapi bagiku yang memang jarang telat mungkin agak aneh di mata mereka.

__ADS_1


"Iya, Pak. Tadi sempat dengerin emak-emak bergosip." Aku menjawab pertanyaan Pak Udain sembari tertawa kecil.


"Pagi-pagi udah gosip aja emak-emak. Nanti kalau kamu jadi emak-emak jangan begitu ya, Dir," ucap Pak Udin lagi sembari mengelap mobil. Mobil khusus delivery yang sudah disiapkan oleh Tuan Martin.


"Tapi ada istri Pak Udin juga kok di sana tadi," balasku lirih.


"Ohya? Ikut bergosip juga istriku?" Pak Udin menoleh, aku pun mengangguk pelan sembari menahan tawa. Seketika tawanya meledak. Aku pun ikut terkekeh melihat ekspresinya.


"Katanya tadi mau belanja sayur, rupanya ngegosip ya, Dir."


"Apaan itu Kista, Dira?" Pak udin kembali menoleh.


"Komunitas IStri-istri Tukang Angkat suara, Pak," balasku sekenanya.


Lagi-lagi Pak Udin terkekeh mendengar ucapanku. Pak Soleh dan Bu Tuti pun ikut terkikik geli mendengar ceritaku. Suasana pagi yang ceria ini tak terasa membuat moodku datang kembali.

__ADS_1


Seperti biasanya, kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pak Udin yang sibuk mencuci atau mengelap mobil untuk angkut-angkut pesanan pelanggan.


Jadi, para pelanggan tinggal kirim pesan apa saja barang yang dibutuhkan mereka, nanti akan disiapkan para karyawan toko lalu Pak Udin yang mengantarkan ke toko atau warung mereka masing-masing.


Tugasku di bagian pembayaran, tapi sesekali membantu yang lain jika tak repot. Intinya saling membantu satu sama lain jika memang ada waktu luang. Jadilah pekerjaanku cukup serabutan.


Namun, aku sangat bersyukur bisa kerja di sini. Selain hanya beda kampung dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, Tuan Martin juga sangat baik meski sikap Bu Sinta padaku justru sebaliknya.


Aku maklum, mungkin dia tak suka melihatku dekat dengan anak semata wayangnya, Mas Hansel. Pernah aku dilabraknya, agar tak terlalu dekat dengan Mas Hansel.


Namun, Tuan Martin membela jika hubunganku dengan anak mereka hanya sekadar teman. Tak lebih daripada itu. Tuan Martin juga menambahkan bahwa Mas hansellah yang sering menemuiku di toko dan sesekali mengajakku ke pameran lukisan.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2