Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Jangan Takut


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 32


"Iya, Dira. Terima saja. Ini hak kamu. Kamu pantas mendapatkannya," timpal Pak Udin lagi.


Ibu dan Mbak Nadin pasti tak akan tinggal diam jika mereka tahu aku memiliki uang sebanyak itu. Aku juga nggak memiliki nomor rekening, jadi nggak mungkin menyimpannya ke bank. Sepertinya aku memang harus bikin rekening dulu tanpa sepengetahuan Mbak Nadin dan ibu.


"Ayo, kuantar beli motor. Nanti sisanya bisa kamu masukkan ke bank. Aku antar sekalian ke bank-nya."


Laki-laki itu tiba-tiba muncul dari arah tangga. tuan martin kembali tersenyum sembari mengangguk pelan menatapku yang mendadak salah tingkah.

__ADS_1


Dira, sudah sana pergi. Kamu bukan karyawan di sini lagi, kan sudah saya pecat," ucap Tuan Martin sembari terkekeh membuat wajahku bersemu merah.


"Jangan malu-malu gitu, Dira. Ayo pergi sana. Kamu berhak bahagia. Sesekali kaya yang lain, jalan-jalan sama calon suami," bisik Pak Udin membuatku melotot seketika. Dua lelaki dewasa di depanku itu masih saja tersenyum tipis saat aku pamit untuk keluar.


Aku dan Mas Ronal beriringan keluar dari toko. Kupikir dia akan mengajakku naik motor ke dealer motor yang baru di buka benerapa bulan lalu itu, tapi ternyata dia justru mengajakku untuk jalan kaki. memang jarak dealer dengan toko Tuan Martin tak terlalu jauh, mungkin sekitar lima atau delapan menit saja jika ditempuh dengan jalan kaki.


Mungkin karena itu pula Mas Ronal mengajakku untuk olah raga ringan. Soal jalan sih nggak jadi masalah bagiku karena aku sudah terbiasa pulang pergi kerja juga dengan berjalan kaki, tapi kali ini rasanya sangat berbeda. Aneh saja karena aku dan laki-laki misterius ini memang tak pernah terlihat jalan bersama.


Dia bisa sefokus itu, sementara aku makin lama makin tak nyaman dengan pandangan orang-orang. Pandangan orang-orang di jalan semakin membuatku gelisah. Tak hanya memandangku dengan aneh dan saling bisik saja, kadang ada pula yang bergidik ngeri. Sengeri itukah Mas Ronal di mata kebanyakan orang?


"Nggak perlu diambil pusing tatapan dan omongan banyak orang."

__ADS_1


Suara itu kembali terdengar, seolah tahu apa yang kini kurasakan. Tanpa menoleh, dia masih tetap seperti semula. Kedua tangan masuk ke saku seperti biasanya.


Aku diam saja tak menjawab. Berjalan beriringan dengannya saja aku merasa was-was apalagi jika harus ngobrol denganya, Rasanya canggung dan takut. Berbeda dengan Mas Hansel karena memang aku sudah terbiasa ngobrol dengannya.


"Nggak perlu takut, aku nggak bakal gigit kok." ucapnya lagi membuatku terbatuk seketika. Dia selalu bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku. Apa jangan-jangan Mas Reza memang memiliki ilmu yang bisa membaca jalan pikiran orang lain? Duh ngeri kalau. Memang itu terjadi.


Bukannya lekas diam, batukku justru semakin menjadi. Laki-laki itu menghentikan langkah lalu menatapku dengan lekat. Aku yang kini masih menunduk sembari memegangi leher karena batukku belum juga reda.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2