
Menikahi Bos Mafia
Lagi pula benda mungil pipih itu sudah menjadi teman dekatku akhir-akhir ini selain buku diary.
"Lagian mau pinjam sebentar aja gak boleh, sukurin sekarang udah pecahkan!" Sambung mbak Nadin yang tak ada rasa bersalah sedikitpun.
"Jangan egois dong, dan juga jangan suka memaksakan kehendak. Handpone itu miliku terserah aku mau buat apa aja termasuk melarangmu untuk tidak memakainya." namun justru mbak Nadin menyebutku pelit dan kikir.
Ku ambil bagian depan hanpone itu lalu kucari kembali bagian belakangnya yang terpental entah kemana. Aku masih menunduk sembari mencari-cari tutup belakang handpone. Namun justru aku dikejutkan oleh kedua kaki dengan sendanl gunungny yang berada tepat didepan mataku. Saat aku mendongakan kepala kulihat sosok itu melihatku dengan pandangan tajamnya.
Aku mundur beberapa langkah lalu menatapnya sekilas, ngapain mas Ronal siang-siang bolong begini datang kesini? Dibelakangnya kulihat ada pak udin yang membukakan kaca jendela mobilnya, lqlu melambaikan tanganya kearahku. Sudah lama aku tak bertemu dengan laki-laki paru baya itu. Terakhir saat dia mengantarkan ku kedealer motor watu itu.
__ADS_1
"Bunda ingin bertemu dengan mu, apakah kamu ada waktu?" tanya laki-laki yang ada di hadapanku kemudian. Pandanganya masih tetap sama, menatapku sekian lama hingga aku menjadi sedikit salah tingkah karenanya.
Ku dengar mbak Nadin beranjak dari teras dengan langkahnya yang tergesah-gesah saat tahu ada mas Ronal di sini. Dia pasti takut jika mas Ronal tahu hanpone ku pecah karena ulahnya.
"Bisa?" Tanya laki-laki itu lagi, yang membuatku sedikit tersentak kaget.
"eh iy--iya bisa mas. Aku bilang mbak Nadin dulu supaya bisa disampaikan pada mama." jawabku. Agak sedikit gugup dan segera berbalik untuk masuk kedalam rumah.
Entah apa yang akan dibicarakan oleh bundanya mas Ronal nanti, hati ini kembali berdebar tak karuan. Bertemu calon mertua adalah hal yang paling mendebarkan bagi para calon menantu. Tak hanya aku saja melainkan banyak calon-calon menantu lainya. Aku yakin itu.
Setelah berganti pakaian dan memakai tas selempang, aku mengetuk pintu kamar mbak Nadin. Tak menunggu waktu cukup lama saudara sematawayangku itu sudah berdiri diambang pintu dengan wajah kusutnya.
__ADS_1
"Ada apa, awas ya dira. Jangan ngadu sama preman itu." ancamnya dengan suara setengah berbisik, dia sepertinya sedang ketakutan jika mas Ronal tahu kejadian beberapa menit lalu, saat aku dan mbak Nadin sedang berebutan handpone.
"Bagaimana jika aku bilang saja kalo kamu selalu menggangguku setiap hari? Bahkan barusan kamu telah menghancurkan handpone kesayanganku." Ancam ku balik membuat mbak Nadin mundur selangkah dari pintu. kepalanya mulai menggeleng-geleng dan bola matanya membulat bergerak kekiri dan kekanan saking bingung dan ketakutanya.
"Gila kamu Dira. Tega melaporkan kejadian tadi sama dia? Apa kamu mau kalo dia sampai menghajarku?!" mbak Nadin ketakutan dan sedikit gemetaran.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Terpaksa Aku Bukan Rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1