Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Pesangon


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 34


"Motornya nanti kita antar ke rumah sama Mas Halim ya, Mbak," ucap Mbak Sari setelah kwitansi pembayaran kuterima.


"Baik, Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Mbak. Terima kasih sudah membantu pembelian motor ini," balasku sembari menjabat tangannya. Mbak Sari kembali tersenyum ramah.


Kulihat Mas Ronal masih menelpon seseorang entah siapa. Saat aku mendekat, dia pun mematikan panggilan lalu menatapku sesaat. Buru-buru kualihkan pandangan sebab beradu pandang dengannya membuat dadaku berdebar tak karuan. Bukan karena terpesona, tapi takut dengan tatapan tajamnya.


"Sudah selesai?" tanyanya singkat lalu beranjak dari kursi sofa.


"Sudah, Mas. Tapi uangnya masi tersisa sebanyak ini. Aku nggak tahu jumlahnya berapa," balasku dengan menunjuk setumpuk uang di dalam amplop yang kupegang.

__ADS_1


"Simpan di bank saja. Ayo kuantar," sambungnya lagi.


"Jalan kaki?" tanyaku singkat.


Nggak mungkin kali ini ditempuh dengan jalan kaki juga sebab jarak antara dealer baru ini dengan bank terdekat cukup jauh. Bisa bengkak kakiku kalau jalan kaki terus apalagi matahari mulai meninggi. Panas banget rasanya di luar sana.


"Nggak. Nnti diantar Pak Udin. Itu sudah menunggu di parkiran."


Ternyata jika sudah mengenal Mas Ronal sebenarnya suka ngobrol juga, hanya saja memang tak terlalu banyak bicara. Dia hanya bertanya atau menjawab pertanyaan yang memang patut dipertanyakan saja. Tak mudah berbasa-basi atau sekadar mencairkan obrolan. Cukup kaku dan dingin.


"Mau ke bank kan, Mas?" tanya Pak Udin yang memuli obrolan.


"Iya, Pak. Setelah selesai, nanti tolong antar Nadira pulang kerumah ya, Pak. Saya ada urusan sedikit," balas Mas Ronal begitu tenang setelah mengenakan seat beltnya.

__ADS_1


"Baik, Mas. Nanti saya akan antar calon istri sampai rumah tanpa kekurangan satu apapun. InsyaAllah," balas Pak Udin sembari tertawa kecil.


Aku semakin memanyunkan bibir. Di manapun tempatnya tangan kanan Tuan Martin itu memang selalu bisa mencairkan suasana. Berusaha bercanda agar suasana tak terasa tegang seperti mengerjakan ujian sekolah.


Kupikir Mas Ronal akan meninggalkanku di bank begitu saja, tapi ternyata dugaanku keliru. Dia selalu mengawasiku dari tempat duduknya saat seorang satpam membantuku membuat tabungan baru. Sisa uang pembayaran motor itu kumasukkan ke bank semua sebab aku masih punya pegangan empat ratus ribu sisa gajiku bulan kemarin.


"Dua juta sembilan ratus ribu ya, Mbak?" tanya petugas bank setelah uang yang akan kutabung dihitungnya dengan mesin penghitung uang.


"Aku tambah seratus ribu, Mbak biar genap tiga juta ya?" balasku sembari memberikan selembar uang seratus ribuan pada teller.


Aku tak menyangka jika pesangonku kali ini adalah dua puluh enam juta lebih. Sungguh nominal yang sangat besar buatku. Bahkan baru kali ini aku memiliki uang sebanyak itu. Berkali lipat dengan jatah bulananku yang hanya lima ratus ribu saja.


Kedua sudut mataku basah saking terharu dan bahagianya. Namun aku buru-buru mengusap kristal bening itu sebelum ia jatuh ke pipi.

__ADS_1


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


__ADS_2