
Menikahi bos mafia
Part 69
Tak terasa air mata ku telah menetes dengan sendirinya membayangkan tentang semuanya. Buliran bening menetes kepipi tanpa bisa ku cegah, tepat pada saat mas Ronal memalingkan wajahnya ke arah ku, tatapan yang biasanya sangat begitu tajam, entah mengapa kini juga berubah menjadi sendu sama seperti ku saat ini.
Bunda menghapus bulir air mataku perlahan. Malu sekali rasanya saat aku ketahuan sedang menangis. Tapi apa boleh buat, sesak yang ada di dadaku saat ini tak dapat lagi ku bendung. Rasanya sangat sakit sekali saat aku mengingat semua.yang telah terjadi belakangan ini terhadap ku.
Aku yakin jika saat ini bunda menolak perjodohan ini, maka aku semakin jadi bahan olok-olokan banyak orang karena menjadi seorang gadis yang terbuang. Iya aku pun pasti merasakan seperti itu. Di rumah dianggap seperti benalu dan disini pun aku ditolak sebab tak layak menjadi seorang menantu.
__ADS_1
"Nadira kenapa kamu menangis?" tanya bunda dengan begitu lembut setelah mengusap kedua belah pipi ku yang sudah basah karena air mata
Aku tetap menundukan kepala ku dalam diam, aku tak berani menampakan wajah duka ku ini pada ibu dan anak itu. Malu... Benar-benar malu rasanya karena ketahuan mebeteskan air mata.
Jangan sampai mereka berfikiran yang macam-macam terhadap ku, misalnya saja aku menangis karena takut akan ditolak sebagai menanti orang kaya.
"Nggak papa bunda, aku hanya teringat sama papa saja." balas ku, aku tak berbohong karena aku saat ini memang menginggat papa, andai papa masih ada aku tak akan mungkin dia membiarkan aku seperti ini. Papa akan jadi satu-satunya orang yang terhebat yang selalu melindungi dan menjaga aku disituasi apa pun.
"Insya allah papa mu akan bangga karena memiliki putri seperti mu yang sangat berbakti,jujur, dan memiliki hati yang lembu." ucap Bunda lagi, ucapan lembut yang selalu diiringi senyum manisnya
__ADS_1
"Semoga saja begitu ya bun." aku baru berani mendongakan kepala ku dan menatap sekilas mata bening itu lalu tersenyum tipis.
"Nadira, maaf kalau seandainya bunda menolak perjodohan ini, kamu tak apa-apa kah?" aku kembali terkejut, rasanya ingin menangis seketika namun tak bisa, aku hanya bisa tersenyum.
"Nggak papa bunda, saya percaya ridho Allah. Bergantung pada ridho kedua orang tua kita. Tapi saya juga percaya dengan takdir allah bunda. saya juga yakin sekuat apapun penolakan bunda jika memang kami berjodoh kelak suatu saat allah pasti akan mempersatukanya, entah bagaimana pun caranya dan jika memang aku dan mas ronal nggak berjodoh sebesar apapun cinta dan perjuangan kami terlalu mudah bagi Allah memporak porandakanya. aku yakin takdir allah yang terbaik untuk hamba-hambanya." ucapku kemudian.
Bunda saat ini mendengarkan sangat baik yang kuucapkan, setelahnya menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis. Aku pun menatap mas Ronal yang masih menatap ku lekat dari tempat duduknya disamping bunda.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Aku bukan rahim Cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..