
Menikahi Bos Mafia
Part 29
Jangankan memberi apa yang kuinginkan, sekadar memuji saja tak pernah. Sekalipun aku selalu mendapat peringkat pertama sejak sekolah dasar hingga tamat. Ibu hanya tersenyum tipis saat beberapa wali murid dan wali kelas memberikan ucapan selamat atas prestasiku yang membanggakan.
Mereka bangga, tapi Mama justru tak memiliki rasa apa-apa. Aneh? Jelas iya. Namun, sampai detik ini aku pun tak tahu mengapa sikap Mama terlalu berbeda. Aku sendiri tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Mama sampai seperti itu. Seolah mati rasa atas apapun yang kulakukan atau yang terjadi padaku.
"Uang dari Tuan Martin Mama pakai buat beli perhiasan ini ya? Kalau Tuan Martin tahu bisa gawat, Ma," ucap Mbak Nadin lagi.
"Apa maksud kamu, Dira?!" Ibu setengah berteriak sembari menatapku lekat.
__ADS_1
"Membatalkan pernikahanku dengan Mas Ronal. Aku nggak mau Mama dan Mbak Nadin memanfaatkan kebaikan mereka," sahutku cepat.
"Kamu mau membuat Papa nggak tenang di alam sana, Dira? Hutang kita sama Tuan Martin terlalu banyak. Kapan lunasnya jika hanya dicicil dengan gajimu yang nggak seberapa itu. Paham kamu?!" sentak Mama lagi.
"Gajimu cuma sejuta, itupun sebagian buat Mama. Akan butuh berapa tahun buat bayar hutang papa? Kamu harus mikir sampai sana juga, Dira. Kasihan papa kalau terus dikejar hutangnya." Mama menambahkan.
"Kenapa Mbak Nadin nggak bantu bayar hutang ini? Hutang Mama semakin banyak sebagian juga buat kuliah dia. Harusnya setelah bekerja dan memiliki gaji sendiri, Mbak Nadin bantu Mama untuk membayar hutang-hutang itu. Jangan egois dong. Aku saja nggak bisa menikmati gajiku sendiri sejak bekerja, masa sekarang dia bebas menikmati gajinya tanpa peduli kebutuhan keluarga. Padahal dia paling banyak pakai uangnya."
"Jadi sekretaris nggak mudah, Dira. Penampilan harus terjaga, bajunya, sepatunya, tasnya, make up-nya. Jangan samakan dengan penjaga warung macam kamu yang pakai apa saja bisa dong. Beda kelas kita. Nanti juga ada waktunya aku ngasih duit lebih banyak ke Mama daripada kamu yang cuma lima ratus ribu itu!" sentak Mbak Nadin dengan ekspresi kesal.
"Sudahlah. Aku nggak mau mikir pusing soal ini. Sekarang mau ke pasar benerin kalung lalu akan kukembalikan kalungnya besok pagi," balasku lagi sembari melangkah pergi.
__ADS_1
"Jadi kamu tetap bersikukuh membatalkan pernikahan ini, Dira?" Mama setengah berteriak, membuatku menghentikan langkah. Tanpa menoleh, aku hanya mengangguk pelan.
"Dira! Kamu mau bayar pakai apa hutang Papa? Nggak mungkin batalin pernikahan gitu aja dong, Dira. Mama Sama Tuan Martin kan sudah sepakat. Mama juga sudah tanda tangan, masa tiba-tiba batal. Mereka pasti akan tanya alasan. Mama mau jawab apa? Alasan kalau kamu nggak suka sama Ronal?" cecar Mama lagi.
"Mama mau pernikahanku dengan Mas Ronal tetap berlanjut?" Mama menatapku lekat lalu menganggukkan kepala.
"Jual kalung itu. Jangan pakai uang dari Tuan Martin seenaknya. Itu uang untuk acara syukuran pernikahan, Ma.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
__ADS_1