
Menikahi Bos Mafia
Part 33
Tanpa pamit, laki-laki itu pergi dariku begitu saja. Tak lama setelahnya kulihat dia datang kembali dengan membawa satu botol air mineral dingin untukku.
"Minum. Makanya jangan kagetan," ucapnya lagi sembari menyodorkan botol mineral itu padaku.
Sedikit gemetar, kuterima air mineral darinya. Biasanya aku tak butuh waktu lama untuk membuka tutup botol air mineral, namun kali ini terasa begitu sulit. Botol itu masih tetap tertutup rapat.
Beberapa kali mencoba memutarnya namun selalu gagal. Bahkan aku sudah memakai ujung jilbab segala untuk membuka tutupnya, barang kali telapak tanganku licin tapi tetap saja tutupnya tak goyah.
__ADS_1
Lagi-lagi tanpa banyak kata, laki-laki di sampingku itu mengambil kembali botol minuman lalu membukanya dengan sekali putar. Setelah botol itu kembali ke tanganku, gegas aku duduk dan meminumnya beberapa teguk.
Dealer motor sudah kelihatan dari tempatku duduk. Sepuluh menit belakangan rasanya seperti satu jam. Terasa begitu lama karena aku selalu deg-deg an saat beriringan dengannya. Bukan karena sikapnya saja yang misterius, tapi juga tak nyaman dengan tatapan banyak orang yang melihat kami.
"Sudah? Kita jalan lagi kalau sudah selesai." Laki-laki di sampingku ini kembali mengajakku melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa langkah lagi.
Perlahan aku berdiri lagi lalu berjalan beriringan dengannya menuju dealer terdekat. Setelah sampai dealer, beberapa karyawan tersenyum ke arah kami yang baru memasuki area dealer. Berbagai jenis Aneka model motor tersedia di sana. Aku hanya menatapnya sesaat lalu kembali menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Pak. Tumben pagi-pagi ke sini," ujar salah satu seorang karyawan. Aku menoleh, laki-laki misterius di sebelahku menatap karyawan dealer beberapa saat lalu tersenyum tipis.
"Pilihlah sesuka hatimu. Uangnya lebih dari cukup. Aku tunggu di sini."
__ADS_1
Mas Ronal duduk di kursi sofa yang sudah disediakan oleh pihak dealer, tanpa menoleh ke arahku lagi. Rasanya benar-benar seperti mimpi aku bisa berada di tempat ini. Ingin menangis, tapi malu dengan karyawan di sampingku yang begitu profesional menjelaskan fitur-fitur merk motor matic yang kutanyakan.
"Aku pilih yang ini saja, Mbak. Warna hitam bercampur putih sepertinya lebih elegan," ucapku sembari menunjuk salah satu motor matic yang ada di depanku. Mbak Sari mengangguk pelan.
Perempuan yang usianya mungkin tak terlalu jauh dariku itu pun mencatat beberapa hal, termasuk alamat rumahku sebab dia bilang nanti akan diantarkan ke rumah.
Kubuka amplop coklat yang diberikan oleh Tuan Martin tadi. Amplop tebal yang aku sendiri tak tahu berapa jumlah uang yang ada di dalamnya sebab Tuan Martin tak memberi tahu nominal yang ada didalaa amplop tersebut, dan aku pun belum menghitungnya. Kuberikan saja amplop itu padanya untuk membayar motor yang kupilih.
"Mbak Nadira. Ini sudah cukup," ucap Mbak Sari dengan ramah lalu mengembalikan amplop coklat itu kepadaku lagi.
Kulihat isi amplopnya, masih cukup banyak uang yang tersisa. Aku benar-benar tak habis pikir, berapa juta yang diberikan Tuan Martin untuk pesangonku kali ini, sementara untuk membayar motor saja sudah dua puluh empat jutaan.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π