
Menikahi Bos Mafia
Part 12
"Aku baru saja makan, Mas. Terima kasih," balasku sambil memperlihatkan box bekal yang kubawa. Aku malas meladeninya.
"Sedikit juga nggak apa-apa, Dira. Kita jarang makan sama-sama sekarang. Aku juga ingin ngobrol banyak hal sama kamu soal bisnis kulinerku di Batam. Kapan-kapan kamu mau ya aku ajak ke sana? Bukannya dulu kamu kepingin naik pesawat?"
Mas Hansel kembali mengingatkanku tentang mimpi itu. Mungkin jika Mas Hansel tak berubah, ajakannya itu akan kusambut dengan senang hati.
Namun setelah kutahu dia dekat dengan Mbak Nadin, lebih baik aku sadar diri. Lagi pula aku tak ingin menjadi pengganggu hubungannya dengan kakakku sendiri. Aku nggak ingin memperkeruh suasana.
"Maaf, Mas. Aku sudah nggak bermimpi ingin naik pesawat lagi sekarang," ucapku dengan senyum tipis.
Saat aku beranjak dari tempat duduk, Mas Hansel menarik lengan bajuku.
__ADS_1
"Ma-- maaf, Dir. Tak bermaksud menyentuhmu. Aku cuma mau kita seperti dulu. Saling ngobrol dan membahas banyak hal. Kenapa kita sekarang menjadi kaku begini ya? Seperti orang asing," ucap Mas Hansel lagi.
Dia berdiri tak jauh dariku, hanya empat langkah saja di depanku. Bakso yang dibawanya pun masih tergeletak di atas meja. Aku sudah cukup kenyang, jadi alasan apapun tak akan membuatku mengulangi makan siang. Allah tak menyukai orang-orang yang terlalu berlebihan bukan?
"Maaf ya, Mas. Aku mau kerja dulu. Nggak enak sama papa Mas Hansel. Di sini aku kerja soalnya." Belum sempat menjawab pertanyaanku tiba-tiba Mas Ronal nongol di ambang pintu.
Aku tak mungkin melewatinya begitu saja sebab pintu itu cukup sempit hanya muat satu orang saja jika melewatinya.
"Ada apa, Mas? Mau ngobrol denganku?" tanya Mas Hansel sembari menunjuk dirinya sendiri. Mas Ronal hanya menggeleng lalu menunjukku dengan ibu jarinya.
"Nanti malam aku dan papa mau ke rumah," ucapnya singkat sembari berlalu begitu saja. Mas Hansel cukup kaget mendengar ucapan kakaknya.
πΈπΈπΈ
"Jangan lupa nanti malam."
__ADS_1
Mas Ronal tiba-tiba nongol di depan mata dengan tatapan tajamnya. Tak ada sedikit senyum pun terlukis di sana. Rasanya benar-benar seperti manekin yang diberi anugerah suara. Andai dia bisa senyum sedikit saja, pastilah ketampanannya makin meningkat sekian persen.
"Jangan ke mana-mana. Papa ingin bicara serius," ucapnya lagi semakin membuatku cemas. Tanpa menunggu jawaban dariku, dia pergi begitu saja tanpa pamit atau sekadar memberi kode akan pergi. Begitulah lelaki itu. Sangat misterius dan menyeramkan.
"Eheeemmm ... ehemmmmm."
Bu Tuti dan Pak Udin yang sedari tadi memperhatikanku dan mas Ronal pun mulai berdehem nggak jelas.
"Batuk, Pak? Di komik aja," ucapku asal. Sebenarnya aku nggak suka jika dijodoh-jodohkan dengan Mas Ronal. Aku malu memiliki calon suami seperti dia yang sudah dicap buruk oleh semua warga.
"Dira, mau dilamar ya?" tanya Bu Tuti mulai penasaran.
"Nggak tahu, Bu."
Aku membalas singkat. Mendengar kata lamaran, hati kembali tak karuan. Bagaimana jika nanti memang aku dilamar Mas Ronal? Manusia kutub yang begitu dingin itu. Apa aku bisa mencairkan es yang ada dalam dirinya setelah berstatus sebagai istri?
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π