
Menikahi Bos Mafia
"Iya, Dira. Ronal yang memilih kamu. Jadi, kamu tak perlu merasa rendah diri lagi. Setiap perempuan memiliki keistimewaan tersendiri di mata lelaki. Bukankah cantik itu relatif? Bisa saja menurut si A kamu jelek, tapi menurut si B kamu cantik. Intinya saya bersyukur memiliki calon menantu seperti kamu. Tak perlu minder karena cuma lulusan SD atau apa seperti yang sering kamu ucapkan, apapun itu tak akan jadi Permasalahan. Saya tahu bagaimana kepribadian kamu, jadi sangat yakin kamu bisa menjadi istri yang baik untuk anak saya ini. Justru saya yang harusnya minta maaf sama kamu jika nanti dalam perjalanan rumah tangga kalian terlalu banyak batu terjal yang menghadang. Semoga saja Ronal tak terlalu menyusahkanmu dan dia bisa mengurangi kebiasaan buruknya selama ini."
Pesan panjang itu kembali kudengar. Tuan Martin kembali menghela napas panjang lalu menepuk lengan anak sulungnya itu perlahan.
"Ayo, Nal. Kasih tanda pengikat yang sudah kamu siapkan untuk Nadira," perintah Tuan Martin lagi.
Mas Ronal pun mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak berbentuk hati dia letakkan di atas meja. Dia membukanya perlahan. Sebuah cincin dan kalung berbentuk hati tersimpan di dalamnya.
__ADS_1
Kedua mataku kembali tercekat melihat apa yang kini ada di depan mata. Mbak Nadin yang baru kembali dari belakang pun ternganga. Mas Hansel pun menatap kakaknya cukup lama lalu kembali menoleh ke arah benda cantik di depan meja itu. Kekagetan jelas ketara dari wajah tampannya. Mungkin dia tak menyangka jika sang kakak bisa seromantis itu saat melamarku.
"Kamu sudah mempersiapkan semuanya, Mas?" tanya Mas Hansel sedikit gugup. Tanpa menoleh Mas Ronal menganggukkan kepala.
"Iya, sudah jauh-jauh hari," balas laki-laki itu lagi. Dia selalu menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan jelas.
"Cantik banget itu kalungnya. Mana berbentuk hati pula," ucap Mbak Nadin dengan wajah berbinar.
"Mana kalungnya, Dira? Aku mau lihat!" bentak Mbak Nadin kembali menarik tanganku.
__ADS_1
"Kalau mau minjem jangan kasar begitu dong, Mbak!" Aku tak mau kalah. Kutepis tangan Mbak Nadin yang terus merogoh saku bajuku. Kalung dari Mas Ronal masih ada di sana dan tak akan kubiarkan Mbak Nadin mengambilnya secara paksa.
"Pinjam bentar! Pelit banget sih kamu, cuma minjem doang juga! Aku juga nggak bakal minta kali, kalung murahan begitu berapa sih harganya paling gajiku sebulan juga cukup buat beli kalung begitu!" Mbak Nadin semakin meradang karena aku tak membiarkan tangannya mengambil kalung yang kini ada di genggamanku.
"Sini, pinjam Dira!" Dia memukul tanganku begitu saja hingga tempat kalung berbentuk love itu terlempar ke lantai. Mbak Nadin buru-buru memungutnya lalu mengambil kalung itu dari dalam.
Kilau liontin dan kalung itu begitu cantik. Aku sangat menyukainya. Sejak dulu, tak pernah sekalipun aku memiliki perhiasan bahkan sekadar anting sekalipun aku tak punya.
Berbeda dengan Mbak Nadin yang sering dibelikan perhiasan oleh Mama. Entah anting, cincin, kalung atau gelang. Sekalipun sering kali hilang, tapi Mama tak pernah bosan membelikan Mbak Nadin perhiasan baru, sementara aku hanya bisa menyaksikan dan bermimpi suatu saat nanti bisa memiliki perhiasan yang sama setelah bekerja nanti.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π