
BAB 5
"Mau jemput anak ibu yang mana, Nak Hansel?" ulang mama lagi masih dengan senyuman manis, semanis madu.
Sikap mama pada Mas Hansel memang jauh berbeda dengan sikapnya pada Mas Ronal. Mungkin jika aku berada di posisi mama juga melakukan hal yang sama sepertinya,.
Mereka berdua benar-benar seperti langit dengan bumi di mataku. Mas Hansel begitu sangat Rama, sopan, kalem, dan lembut sementara Mas Ronal sebaliknya. Tadi pulang juga tanpa pamit atau apa memberi salam, pergi begitu saja.
Aku benar-benar tak bisa membayangkan jika nanti hidup bersamanya. Apakah sanggup? Bukankah seumur hidup itu terlalu lama jika tinggal seatap dan seranjang dengan laki-laki sekaku dan sedingin dia?
"Sama Nadin, Bu."
__ADS_1
Jawaban itu membuat batinku menangis. Tak kusangka ternyata mereka mulai dekat. Aku sendiri tak tahu sejak kapan kedekatan itu terjadi. Mas Hansel setahun terakhir memang bolak-balik bandung-batam untuk mengurus bisnisnya. Sejak itu juga aku tak terlalu dekat dengannya lagi.
Hobiku dan hobinya sama. Sama-sama gila tentang lukisan. Namun, entah mengapa detik ini posisiku sudah tergeser oleh Mbak Nadin. Dia tak lagi mengajakku, tak lagi cerita banyak hal tentang bisnisnya di batam itu padaku, entah karena apa aku pun tak tahu. Apa mungkin karena dia sudah mulai dekat dengan Mbak Nadin? Entah.
"Oh sama Nadin? Beneran, Nak?" ulang mama seolah tak percaya apa yang didengarnya. Kulirik dari ekor mata Mas Hansel menganggukan kepalanya.
Mataku mulai berkaca-kaca, saat melihat senyum Mbak Nadin mengembang seketika. Dia yang biasanya suka marah-marah tak karuan, entah mengapa kini bersikap begitu sopan dan kalem di depan laki-laki itu.
"Oke, Mas. Aku ganti baju dulu ya? Tadi baru aku setrika soalnya," ucapnya sembari melirik ke arahku yang hanya mematung, tanpa kata.
Kini, aku pun pamit ke belakang mau menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda. Namun, Mas Hansel memintaku untuk berhenti sebentar. Tanpa membalikkan badan, aku menghentikan langkahku. Aku tak ingin laki-laki itu tahu jika saat ini mataku masih berkaca-kaca.
__ADS_1
Tak masalah jika dia ingin jalan-jalan dengan Mbak Nadin, tapi mengapa ke tempat yang biasanya selalu dia habiskan waktu denganku? Apa dia ingin dekat dengan Mbak Nadin dan segera melamarnya?
Apakah dia memang tak ingin pacaran-pacaran seperti anak muda lainnya dan ingin menikah muda? Jika memang begitu, hubungannya dengan Mbak Nadin bagaimana? Mungkinkah sekadar teman atau sahabat sepertiku?
"Dira, maafin aku. aku tak bermaksud menyingkirkan kamu atau menggantikan posisimu, tapi dua bulan terakhir aku memang dekat dengan kakakmu via handphone. Sepertinya hobinya juga sama dengan kita, dilukisan. Makanya kali ini aku ajak dia ke galeri Lukisan seni. Kalau kamu ikut juga boleh," ucapnya lirih. Aku menghela napas panjang.
"Loh, Mas. Nadira ikut? Aku bilang 'kan kemarin, kalau Dira ikut mending aku nggak ikut deh."
Mbak Nadin tiba-tiba muncul dari kamarnya lalu menatapku tajam. Mas Hansel mendadak gugup saat aku menoleh sekilas ke arahnya.
"Aku nggak ikut kok, Mbak. Masih banyak pekerjaan, kasihan mama kalau ngerjain semuanya sendirian. Kalian pergi saja, aku permisi ke belakang," balasku kemudian. Beranjak pergi dari sana meski kulihat dari sudut mata Mas Hansel seolah ingin melarang, tapi urung dilakukan setelah Mbak Nadin menatapnya.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π