
Bab 3
"Dira, buatin mie goreng sama telor ceplok dong!" Teriak Mbak Nadin dari dalam kamarnya yang selalumemerintahku.
Selalu begitu, tak peduli aku masih sibuk berberes rumah, entah itu sedang menyetrika pakaian, menyapu rumah, mengepel lantai ataupun mencuci baju asal dia memerintah harus segera dikerjakan. Kalau nggak, akan ada masalah yang berkepanjangan seperti sinetron drama korea.
"Iya...Sebentar ya, Mbak. Kurang satu lagi kok ini. Nanggung," balasku kembali mengayunkan setrika ke mini dres milik mbak Nadin.
"Dira! Aku minta bikinin mie gorengnya sekarang ya sekarang, Dira. Masa orang lapar ditunda-tunda sih?! Kamu mau aku sakit lalu cepat mati, iya?!" sentak Mbak Nadin membuatku menelan ludah tiba-tiba.
Tak mau membuat keributan yang pasti hanya akan mendapatkan ceramah panjang dari mama, aku pun segera bergegas mematikan setrika lalu beranjak ke dapur.
Aku mulai meracik bumbu dan menggoreng telur ceplok terlebih dahulu. Mbak Nadin kembali ke kamarnya sembari mengomel nggak jelas. Tak selang lama, dia kembali dengan langkah terburu-buru.
__ADS_1
"Dira!" panggilnya dengan gugup sembari menepuk pundakku kasar.
"Ada apa ya, Mbak?" tanyaku cukup kaget lalu menoleh sekilas ke arahnya.
"Dira! Kalau ada orang ngajak ngobrol lihat dulu. Nggak sopan banget sih langsung melengos aja!" Entah kesambet saiton dari mana Mbak Nadin selalu saja berdebat tiap kali bicara denganku. Seolah aku tak pernah benar di matanya.
"Sebentar, Mbak. Telurnya nyaris gosong," ucapku buru-buru mengangkat telur yang sudah matang. Seakan tak peduli dengan jawabanku, dia kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Kamu ada lihat kado warna pink yang ku letaka di atas meja nggak?" tanyanya lagi dengan mata melebar.
"Bohong kamu! Jelas-jelas meja riasku tadi berantakan, sekarang uda bersih dan Kinclong begitu. Siapa lagi kalau bukan kamu yang beresin?!" tuduhnya lagi.
"Biasanya emang aku yang bersihin, Mbak. Tapi kali ini bukan aku. Serius." Kuacungkan dua jari ke arahnya sebagai tanda keseriusan atau sumpah bahwa ucapanku kali ini bukanlah dusta.
__ADS_1
"Di rumah ini cuma ada kamu, aku sama mama. Kalau bukan kamu siapa lagi yang ambil? mama? Nggak mungkinlah. Buat apa? Itu isinya cuma dompet kok!" tuduhnya lagi dan lagi.
Hatiku memanas dan terasa sakit mendapatkan perlakukan seperti ini darinya. Bagaimana mungkin kakakku sendiri menuduhku sebagai pencuri. Bahkan, sudah kukatakan berulang kali bukan aku pelakunya, tapi dia tetap tak perca padaku.
"Aku nggak ngambil, Mbak. Aku nggak pernah nyuri apapun barang Mbak Nadin," ucapku sedikit keras. Tak terima selalu dituduh pencuri setiap kali ada barang-barang yang hilang. Padahal kadang keselip atau dia sendiri yang lupa memindahkannya di mana.
"Kamu berani membentak ku, Dira! Aku kakakmu ya, yang sopan kamu!" Mbak Nadin menarik hijabku dengan kasar sampai nyaris terlepas. Namun tarikannya mendadak berhenti saat mama mengucap salam.
mama datang dengan 3 orang lelaki yang cukup kukenal. Kedatangan mereka yang mendadak membuatku membulatkan mata. Aku mengerjapkan mata perlahan lalu mengalihkan pandangan saat tak sengaja menatap dengan salah satu lelaki itu.
"Ya allah mama kenapa jalannya sedikit pincang begini?"
π₯π₯π₯
__ADS_1
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π