Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
jodoh


__ADS_3

Menikahi bos Mafia


Part 43


"Kamu percaya kalau aku memang sayang sama kamu kan?" ulangnya sembari menatapku kembali. Aku menghela napas panjang lalu menganggukkan kepala. Kulihat Mas Hansel tersenyum lega dengan kedua matanya yang berbinar.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu juga suka sama aku kan, Dira? Kamu Mau membatalkan pernikahanmu dengan Mas Ronal?" cecarnya membuatku kembali tercekat. Pertanyaan yang menyadarkanku bahwa Mas Ronallah calon suamiku yang sebenarnya bukan dia.


"Nggak, Mas. Aku nggak bisa membatalkan pernikahan ini. Aku sudah menandatangani perjanjian dengan papamu. Aku pun janji sama Mama untuk membantunya melunasi hutang-hutang papaku. Aku nggak ingin menjadi orang munafik yang mengingkari janjinya sendiri, Mas. Maafkan aku. Aku nggak bisa seegois itu."


Sesak di dada kian terasa. Aku benar-benar tak bisa mengambil pilihan lain. Tetap percaya jika memang jodohku adalah Mas Hansel, kelak akan dipersatukan juga bagaimana pun caranya.

__ADS_1


Namun, jika memang jodohku adalah Mas Ronal, aku pun berjanji akan menerima semua takdirNya dengan ikhlas dan lapang dada. Tetap memupuk hati bahwa qadarNya tak mungkin keliru apalagi buruk untuk hambaNya. Aku yakin semua akan indah pada waktunya tergantung cara kita menjalaninya.


"Kamu nggak egois, Dira. Justru mereka yang egois karena sudah memaksamu mengiyakan perjodohan ini. Perjodohan yang nggak pernah kamu inginkan. Aku tahu perasaaanmu karena kita sudah dekat sejak lama. Aku pun sudah bicara sama papa soal ini semalam," ucap laki-laki itu lagi.


Aku tercekat mendengar ceritanya. Dia sudah bilang pada tuan Martin tentang perasaannya kah? Atau dia hanya menceritakan tentang perasaanku saja?


"Bicara tentang apa maksudmu, Mas?" Meski cukup lirih karena gugup akhirnya suaraku terdengar olehnya juga.


"Kita nggak punya hubungan apa-apa selain sahabat kan, Mas? Bukannya sejak awal kamu selalu bilang begitu? Di depan para tetangga, teman-teman kuliahmu bahkan mamamu pun kamu selalu mengatakan bahwa aku sekadar temanmu bukan calon istrimu. Sudahlah, aku tak ingin memperpanjang masalah ini. Toh nanti kita juga akan menjadi saudara. Lebih baik kamu pulang, Mas. Aku nggak mau ada fitnah di antara kita," balasku lagi.


Aku masih terus bertahan dengan keputusan yang sudah kuambil, sekalipun itu berseberangan dengan perasaanku sendiri. Aku hanya tak ingin ingkar janji dan tak ingin membuat Mama malu di depan tuan Martin, lebih-lebih memikirkan hutang Papa yang akan menghambat jalanNya ke surga nanti jika tak jua kulunasi.

__ADS_1


"Papa ingin kamu jujur, Dira. Kalau kamu bilang sama papa soal perasaanmu yang sebenarnya, papa akan memikirkan ulang tentang perjodohan ini," sambungnya dengan cepat. Aku kembali menggeleng.


"Nggak, Mas. Kenapa kamu berani melakukan ini setelah tahu aku akan menikah dengan kakakmu? Kenapa nggak dari dulu saja kamu menjelaskan pada orang tuamu tentang perasaanmu sendiri?"


"Dulu aku masih bimbang, Nadira. Lagipula usiaku masih dua puluh lima tahun. Aku masih ingin fokus dengan bisnisku. Kamu juga tahu itu. Mana mungkin papa sama mama mengizinkanku menikah di usia ini. Tapi setelah kamu dipilih Mas Ronal menjadi calon istrinya, hatiku merasa sakit dan tak rela kehilanganmu. Aku berusaha meyakinkan mama dan papa kalau kamu lebih pantas bersanding denganku dibandingkan dengan Mas Ronal." Mas Hansel kembali menjelaskan dengan mata berkaca-kaca untuk memperlihatkan keseriusannya.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š


Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa Aku bukan Rahim Cadanga gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..

__ADS_1


__ADS_2