
Menikahi bos Mafia
Part 66
Aku mengangguk lagi lalu berhambur ke pelukan Bunda saat beliau merentangkan tanganya minta dipeluk oleh ku. Bunda mengusap puncak hijab ku saat aku merebahkan kepala ku dalam pangkuanya.
Ya allah, betapa nyamanya aku berada dalam pelukan seorang ibu. Pelukan yang selama nyaris dua puluh dua tahun ini tak pernah aku rasakan dari mama ku sendiri.
Ya allah, semoga saja nanti aku dapat benar-benar merasakan kehadiran seorang ibu dalam hidup ku. Bukan ibu yang hanya dan selalu terus menyalahkan ku, membandingkan bahkan meremehkan apa pun yang ku lakukan.
Aku sungguh sangat merindukan sosok ibu yang allah bilang jembatan syurga kudi dunia itu. Aku benar-benar menantikan kehadiranya. segera ku usap air mata yang tiba-tiba saja terjatuh membasahi pipiku. Aku tak ingin jika bunda melihat aku serapuh ini.
__ADS_1
"Bunda tahu bagai mana anak bunda itu. Namun percayalah, nadira. Dia tak akan pernah membuat mu terluka sebab kamu adalah wanita satu-satunya yang membuatnya setengah tergila-gila." ku dengar bunda yang sedang terkekeh pelan. Aku mendongak lalu melepaskan pereggangkan perlahan.
Dahi ku mulai mengernyit saat menatap tawa wanita tengah baya itu. Matanya sedikit terpejam saat derai tawanya menghiasi ruangan. Mungkin bunda sedang membayangkan kekonyolan anaknya mas Ronal saat menceritakan tentang ku atau entahlah. Aku tak paham dengan apa yang membuatnya tertawa sebegitu leganya.
"Kenapa mas Ronal menjadi setengah gila gara-gara saya bunda? Sebelum ada perjodohan ini, saya dan dia bahkan jarang bertemu. Kami tak saling kenal, saling sapa apa lagi ngobrol bersama. Saya bertemu denganya pun hanya beberapa kali saja, terakhir kali saya bertemu mas Ronal pada saat saya ke galeri pameran lukisan bersama mas--
"Hansel?" tebak bunda kemudian, aku hanya dapat menganggukan kepala perlahan.
"Kabar soal apa, Bunda?" tanya ku pura-pura tak paham atas pertanyaanya itu. Semoga saja pertanyaan bunda tak merujuk pada perasaan ku namun tentang hal lain yang memang aku tak mengetahuinya.
"Kabar soal kedekatan mu dengan nak Hansel." jawab bunda kemudian. Aku masih menundukan kepala ku dan mengedip- ngedipkan mata ku beberapa kali. Berfikir bagaimana menjelaskan tentang hubungan ku dengan mas Hansel.
__ADS_1
"Apa hubungan kalian lebih dari sahabat dekat?" sambungnya lagi, yang membuatku sedikit tercekat.
"Nggak, bunda. Hubungan kami hanya sebatas sahabat saja tak lebih dari itu. Mas Hansel pun sering memperkenalkan saya pada teman-temanya sebagai seorang sahabat tak lebih, bukan kekasih apa lagi seorang calon istri. Duh, bunda saya cukup tahu dirilah, tak pantas rasanya saya jadi istri seorang Hansel apa lagi menantu bu Sinta, kan." aku pun tersenyum tipis membuat wanita di hadapan ku pun ikut tersenyum.
"Iya bunda tau bagai mana Sinta. Tapi apa kamu tak memiliki perasaan apapun pada nak Hansel? Sebab bunda pernah dengar kalau nak Hansel sangat begitu menyayangimu.
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π
Oh ya kak mau promo karya yang berjudul Terpaksa aku bukan rahim cadangan gak kalah seruh juga loh kak ceritanya..
__ADS_1