Terpaksa Menikahi Bos Mafia

Terpaksa Menikahi Bos Mafia
Membaca fikiran


__ADS_3

Menikahi Bos Mafia


Part 14


"Dira, Apa kamu serius mau menikah dengan Mas Ronal? Kamu mengiyakan perjodohan itu?" tanyanya lagi membuyarkan lamunanku. Aku hanya menghela napas, tanpa menjawab pertanyaannya.


"Meski dia kakakku sendiri, tapi aku nggak rela jika kamu menikah dengan dia, Dira. Kamu bisa mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dibanding kakakku itu. Selama ini aku sudah cerita banyak hal sama kamu tentang dia kan?" Mas Hansel kembali bertanya dengan suara berbeda. Ada ketidakrelaan dalam tutur katanya.


"Aku tahu, Mas. Sayangnya, tak semudah itu aku memberikan penolakan," balasku singkat. Aku kembali meneruskan langkah, diikuti Mas Hansel yang masih dengan mendorong sepeda motornya.


"Apa ini soal hutang mamamu?" tanyanya lagi.


"Tak hanya itu saja."


"Lantas?" Saat kulirik, dia kembali mengernyitkan dahi.


"Mungkin ini salah satu bukti baktiku pada mama."

__ADS_1


"Dengan mengorbankan hati dan masa depanmu?" tanyanya sedikit cepat. Aku menoleh ke arahnya yang menatapku dengan lekat.


"Nggak apa. Yang penting mama bahagia. Kebahagiaannya akan membuat hidupku lebih tenang."


"Setiap orang berhak menentukan hidupnya sendiri, Dira. Apalagi ini soal pernikahan. Bukan perkara gampang untuk memutuskan iya. Kamu harus berpikir ulang, Dira. Bukan maksudku untuk melarang, tapi Mas Ronal bukan lelaki yang tepat untuk mendampingimu," balasnya lagi. Aku hanya tersenyum kecut.


"Lantas siapa yang pantas, Mas? Orang miskin dan hanya tamatan SD sepertiku, tak pantas bermimpi terlalu tinggi untuk mendapatkan pendamping hidup yang sukses. Ada yang mau melamar itu saja sudah bersyukur, ngapain mimpi yang muluk-muluk."


"Ada, Dir. Pasti ada, asalkan kamu bisa mengungkapkan perasaannmu. Jangan diam begini saja."


"Iya, kamu haru jujur siapa yang kamu sayangi selama ini," balasnya lagi.


"Siapa? Nggak ada kok. Aku nggak sedang jatuh cinta atau menyukai siapapun."


"Nah, kan. Baru begitu saja kamu sudah dusta. Bukannya kamu menyukai seseorang?" tanyanya dengan senyum tipis, membuatku menjadi salah tingkah.


Apa dia tahu jika selama ini aku memendam rasa untuknya? Apa dia bisa membaca pikiranku? Apa dia bisa merasakan debaran dalam dadaku saat bersamanya? Ya Allah, gawat jika itu benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Dira! Buruan beres-beres. Nanti malam calon suamimu akan datang membahas lamaran!" ucap Mbak Nadin dari teras membuat kedua mata Mas Hansel membulat seketika.


"Lamaran, Dir?!" tanyanya singkat, membuatku semakin tercekat.


Istikharah belum kulakukan, tapi lamaran sudah direncanakan. Entahlah. Aku ikuti saja semuanya. Jika memang aku dan dia tak ditakdirkan bersama, aku yakin pernikahan itu tak akan terjadi.


Jika memang pernikahan itu ada, aku harus ikhlas dan menerima semua takdirNya. Tak perlu menyalahkan siapapun sebab kuyakin semua takdirNya itu indah asalkan aku mau ikhlas dan sabar menjalaninya.


"Mas, mana titipanku? Ayo masuk. Ibu sudah menunggumu!" ucap Mbak Nadin lagi sembari tersenyum lebar. Mas Hansel tak menolak. Dia pun pergi bersama Mbak Nadin, meninggalkanku yang masih mematung di halaman.


Ada sakit yang terasa dalam dadaku saat melihatnya pergi besama mbak Nadin. Namun, aku tak mampu menjelaskannya. Mungkin, pernikahanku dengan Mas Ronal adalah jalan terbaik agar aku bisa melupakan cinta ini.


Cinta yang tak semestinya dan tak pada tempatnya. Biarlah rasa ini kukubur dalam dalam. Tak perlu diungkapkan, Allah jauh lebih tahu siapa yang terbaik untuk hidupku.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataπŸ™πŸ»πŸ˜Š

__ADS_1


__ADS_2