
Menikahi Bos Mafia
Part 13
"Dir, ibu pulang dulu ya? Ayo pulang. Apa Kamu nunggu Mas Ronal?" gurau Bu Tuti lagi. Aku mencubit lengannya begitu saja saking gemasnya. Bukannya kesakitan, Bu Tuti justru terkekeh saat merasakan cubitanku yang mungkin tak terlalu terasa di kulitnya yang cenderung melebar itu.
"Pulang, Dir." Pak soleh pamit sembari membawa kantong kresek belanjaan. Biasanya tiap awal bulan istrinya sengaja menitipkan belanja bulanan pada Pak Udin.
"Pulang dulu, Dir. Lagi nungguin pangeran kesayangan ya?" Mbak Ida ikut menimpali. Aku hanya mengerucutkan bibir lalu menyambar tas selempangku dari dalam loker.
Beberapa karyawan yang masuk pagi sudah mulai pamit pulang, dan diganti dengan karyawan yang masuk siang hingga penutupan toko jam delapan malam nanti. Ada tujuh orang yang bekerja di toko grosir Tuan Martin.
Pagi sampai sore ada tiga orang ditambah Pak udin yang bertugas mengantar barang, sementara sore ada tiga orang tanpa supir sebab proses antar barang cuma dilakukan pagi hingga sore hari saja.
Meski cukup capek bekerja di sini, aku cukup menikmati sebab aku merasa seperti mendapatkan keluarga baru di sini. Bahkan aku lebih nyaman di toko dibandingkan di rumah sendiri yang hanya akan mendapatkan omelan dan umpatan dari Mbak Nadin dan mama.
__ADS_1
"Debby, aku antar pulang ya?" Mas Hansel tiba-tiba berhenti di sampingku dengan sepeda motornya.
"Nggak usah, Mas. Maaf, aku mau jalan kaki saja," balasku singkat lalu meneruskan langkah.
"Nggak apa-apa, Dir. Sekalian aja aku juga mau ke rumah kamu, sekalian antar titipan Nadin kok," balasnya lagi, refleks membuat langkahku terhenti.
"Eh, anu, Dir. Nadin minta tolong beliin sesuatu."
Aku hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Kembali kuayunkan kaki tanpa mempedulikan Mas Hansel yang terus mengekori langkahku.
"Kalau nggak mau kuantar, aku temani kamu jalan ya?" ucap laki-laki itu lagi sembari mematikan motor lalu mendorongnya perlahan.
"Nggak apa-apa. Lebih seru begini," balasnya sembari meringis kecil. Aku hanya angkat bahu lalu kembali melangkahkan kaki.
Beberapa orang melirik ke arah kami, ada juga yang saling berbisik. Aku yakin gosip kedekatanku dengan Mas Hansel akan kembali menyebar.
__ADS_1
"Mas, kamu jalan dululah. Nggak enak dilihat banyak orang," ucapku kemudian.
"Nggak apa-apa, Dir. Toh kita nggak ngapa-ngapain kan? Cuma jalan aja," balasnya santai.
"Jalan dulu, Mas. Takut ada fitnah."
Mas Hansel menghentikan langkah, tak sengaja aku pun mengikutinya.
"Apa kamu takut kalau Mas Ronal tak jadi melamarmu karena kita berteman dekat, Dir?." tanyanya dengan ekspresi berbeda.
Aku menghela napas. Ingin sekali rasanya bilang kalau aku nggak mau kembali dilabrak oleh mamanya seperti waktu itu, hanya saja aku takut hanya akan memperkeruh keadaan. Aku juga nggak mau membuat Mas Hansel dan mamanya cekcok hanya karena hal sesepele seperti itu.
Sekalipun hanya berteman, mamanya tetap nggak suka karena berteman denganku yang tak selevel dengannya hanya akan memberikan citra buruk untuk keluarganya.
Tante Sinta takut jika orang-orang mengira aku dan Mas Hansel mempunyai hubungan spesial karena selama ini memang cukup dekat dan sering jalan bersama.
__ADS_1
π₯π₯π₯
Terima kasih kakak-kaka sudah mau mampir dan baca ceritaku,mohon maaf jika ada salah kataππ»π